Jakarta, CNN Indonesia -- Hari Valentine yang dulu bukanlah yang sekarang. Frasa itu mungkin tepat untuk menggambarkan suasana hati Evianah saat ini.
Maklum saja, dompet ibu dua anak yang biasanya semakin tebal jelang Valentine Day yang jatuh setiap 14 Februari karena cokelat dagangannya selalu laris manis diburu oleh mereka yang ingin merayakan hari kasih sayang dengan orang terkasih, kini justru mengempes.
Jangankan laris manis. Ada yang beli saja, sepertinya sudah Alhamdulillah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semua, gara-gara corona. Evianah bercerita sebelum corona, biasanya menjelang hari kasih sayang, ia sudah sibuk karena mendapatkan ribuan pesanan cokelat dari perusahaan, baik swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Pesanan itu akan ia kerjakan bersama beberapa karyawannya.
Namun, pandemi covid-19 yang menyebar di Indonesia sejak Maret 2020 lalu merusak semua kebahagiaan perempuan berumur 44 tahun itu. Pesanan dari perusahaan tak ada yang datang meski 14 Februari sudah di depan mata.
"Pandemi jelang Valentine Day baru pertama tahun ini. Semakin ke sini semakin terasa. Biasanya saja kalau Valentine Day banyak perusahaan pesan ribuan. Kami kerja sama setiap tahun. Tahun ini tidak ada sama sekali. Karena pandemi, perusahaan tidak bagi-bagi cokelat," cerita Evianah kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Rabu (10/2).
[Gambas:Video CNN]
Kenyataan pahit ini membuat omzet Evianah turun 50 persen jika dibandingkan dengan Februari 2020 lalu. Tahun lalu, pandemi covid-19 masih belum berdampak pada penjualan cokelat Evianah.
Menurutnya, penjualan Valentine Day kali ini sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Tak ada kejutan yang menggembirakan.
Kendati begitu, Dosen Universitas Wijayakusuma di Surabaya ini masih bersyukur. Pasalnya, penjualan bulan-bulan biasanya masih normal seperti sebelum ada pandemi covid-19.
"Kalau hari-hari biasa masih normal, masih standar," kata dia.
Evianah kebetulan tidak hanya menjual cokelat, tapi juga memasarkan souvenir dan hampers. Jika ditotal, usahanya itu rata-rata mencatatkan omzet sekitar Rp20 juta-Rp30 juta.
"Itu omzet hari-hari biasa tanpa ada hari besar. Ya normal di bawah Rp30 juta. Kalau Valentine Day dua sampai tiga kali lipat. Turun 50 persen karena penjualan Valentine Day tinggi biasanya, tapi kalau hari-hari biasa masih normal," jelas Evianah.
Ia biasa memasarkan produk cokelatnya lewat Instagram bernama @cokelatvalentine_vinchoco dan Facebook. Sejauh ini, Evianah memiliki karyawan, baik yang bersifat permanen dan freelance sebanyak delapan orang.
Meski pandemi menyerang, ia mengaku masih mempertahankan seluruh karyawannya. Mereka biasanya akan datang ke rumah Evianah dan mengambil bahan baku untuk diproduksi di rumah masing-masing.
"Jadi saat pesanan full saya panggil, mereka kerjakan nanti di rumah masing-masing. Jadi ke rumah ambil barang karena rumah saya tidak cukup, nanti sama mereka dikembalikan ke saya," ujar Evianah.
Ia berharap pandemi bisa segera selesai agar penjualannya saat hari-hari besar seperti Valentine Day bisa kembali melonjak. Pasalnya, omzet dari hari-hari besar itu dibutuhkan Evianah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Evianah tak sendiri. Dampak pandemi covid-19 juga dirasakan penjual cokelat dengan skala yang lebih besar, yakni CEO Krakakoa Sabrina Mustopo.
Sabrina menyatakan penjualan Krakakoa jelang Valentine Day sebenarnya masih menunjukkan tren kenaikan jika dibandingkan dengan bulan-bulan biasanya. Namun, persentasenya di bawah dari Valentine Day 2020.
"Ini ada kenaikan sedikit, mungkin banyak yang membelinya last minute," ucap Sabrina.
Rata-rata penjualan jelang Valentine Day selalu naik 20 persen. Namun, secara keseluruhan Valentine Day tak membawa pengaruh signifikan bagi Krakakoa.
Hal ini berbeda dengan Lebaran dan Natal. Biasanya, dua hari raya itu membuat penjualan bisa naik lebih dari 30 persen.
"Karena mungkin orang Indonesia masih belum begitu merayakan Valentine Day," imbuh Sabrina.
Sabrina menyatakan pandemi memberikan dampak besar bagi perusahaan. Ia terpaksa menutup operasional tokonya di Seminyak, Bali tahun lalu.
"Saat ini toko ada satu, sebelum covid-19 ada dua, di Seminyak dan Ubud. Seminyak tutup sementara karena penjualan turun," terang Sabrina.
Secara total, penjualan Krakakoa sempat anjlok hingga 80 persen karena pandemi. Hal itu tepatnya terjadi pada April 2020 lalu atau saat covid-19 baru merebak di Indonesia.
"Kami sudah merasakan efeknya dari Februari 2020 sebenarnya karena orang mengurangi travelling tapi itu paling parah April 2020," ucap Sabrina.
Penurunan jumlah orang yang berwisata mempengaruhi penjualan Krakakoa karena perusahaan banyak memasarkan produknya di bandara. Selain itu, target pasar Krakakoa sebelumnya adalah wisatawan mancanegara (wisman).
"Jadi turis, travel, penting bagi Krakakoa," katanya.
Meski begitu, Sabrina mencoba mempertahankan perusahaannya. Jika Krakakoa ditutup, ia merasa akan lebih sulit untuk membangunnnya kembali pasca pandemi covid-19.
"Jadi kami merasa tetap stay, meski ada beberapa bulan ada yang merugi. Tapi buat jangka panjang lebih baik bertahan, jangan berhenti," ucap Sabrina.
Terlebih, Sabrina juga memikirkan nasib karyawannya. Kalau operasional Krakakoa disetop, maka karyawannya akan kehilangan pekerjaan dan pemasukan.
"Situasi ini mau tidak mau harus bertahan bagaimana supaya tim kami masih ada income," tutur Sabrina.
Saat ini, Sabrina mengaku lebih fokus memasarkan cokelat secara online. Komposisi penjualan secara online sekarang naik dari 5 persen menjadi 30 persen.
"Setelah pandemi terpaksa menjual online karena kalau offline sudah turun drastis," jelasnya.
Senyum Girang
Sejumlah penjual coklat justru mengalami peningkatan permintaan pada tahun ini. Ilustrasi. (Istockphoto/Amax Photo)
Rupanya, tak semua penjual cokelat tersenyum kecut di tengah pandemi covid-19. Ada pula dari mereka yang bersorak kegirangan karena berhasil mengeruk keuntungan banyak jelang Valentine Day tahun ini.
Muhammad Muttaqin salah satunya. Jelang 14 Februari 2021, jumlah pesanan yang masuk sudah naik sekitar 50 persen.
Secara persentase, kenaikannya lebih tinggi dari Valentine 2020 lalu yang cuma 25 persen-30 persen. Muttaqin menduga lonjakan pesanan Valentine Day tahun ini karena ia membuat inovasi baru dengan menawarkan paket cokelat dan emas batangan dalam satu kotak.
"Tahun lalu belum kerja sama dengan pihak emas batangan, sekarang sudah ada jadi ya mungkin peminatnya selain cokelat juga bisa untuk investasi jangka panjang," kata Muttaqin.
Ia sendiri sebenarnya masih orang baru di industri cokelat. Muttaqin memulai bisnisnya pada Januari 2020 lalu.
Pria berumur 26 tahun itu menjual cokelat lewat Instagram @tamuchoco_ bersama temannya. Ia nekat berhenti dari pekerjaannya sebagai konsultan bisnis untuk menggeluti bisnis cokelat.
"Saya lihat peluang usaha ketika pandemi sekarang untuk penjualan online lumayan signifikan," cerita Muttaqin.
Omzet yang ia dapat dari penjualan cokelat awalnya lebih kecil dari gaji yang biasa didapat saat masih menjadi pegawai kantoran. Namun, ia tak menyerah.
Berbagai inovasi terus dilakukan. Cokelat yang dijual memang bukan hasil olahan sendiri, tapi dari supplier yang nantinya dikemas ulang (re-package) sesuai dengan permintaan konsumen.
"Jadi dengan harga yang bisa dibilang agak lebih turun dibandingkan pasaran. Dengan uang berapa, satu paket berisi beberapa jenis cokelat. Kalau pilihan cokelat ada lokal dan impor," terang Muttaqin.
Usahanya pun membuahkan hasil. Produknya banyak digemari masyarakat, khususnya di Yogyakarta.
Kebanyakan konsumennya adalah anak muda, terutama mahasiswa. Namun, ada pula beberapa keluarga yang membeli paket cokelat yang ia pasarkan.
Kenaikan penjualan juga dirasakan manajemen Pipiltin Cocoa. Produsen cokelat lokal yang berdiri pada 2013 lalu ini menyatakan penjualan jelang Valentine Day 2021 naik sekitar 40 persen dibandingkan dengan bulan-bulan biasanya.
Head of Operation Pipiltin Cocoa Deden Septiana mengatakan pihaknya memproduksi paket cokelat khusus untuk Valentine. Sebenarnya, produk itu sudah dirilis sejak awal Februari, tetapi penjualan baru ramai jelang 14 Februari.
"Karena yang memberikan cokelat pria, pria biasanya membeli cokelat last minute. Jadi biasanya H-4 Valentine, H-3. Kami pelajari Valentine Day setiap tahun begitu," ujar Deden.
Sementara, skema penjualan cokelat tahun ini juga berubah. Mayoritas penjualan kini dilakukan secara online.
Hal itu pula yang membuat penjualan cokelat Pipiltin Cocoa tetap naik meski pandemi masih merebak di Indonesia. Pasar Pipiltin Cocoa semakin luas dibandingkan sebelum pandemi.
"Dibandingkan 2020 penjualan cokelat Valentine naik karena tahun-tahun lalu kami belum fokus sama online store kami," terang Deden.
Founder Pipiltin Cocoa Irvan Helmi menyatakan pandemi membawa hikmah tersendiri bagi perusahaan. Sebelumnya, manajemen fokus pada penjualan di supermarket dan toko fisik di Barito.
Saat ini, fokus Pipiltin Cocoa beralih pada pemasaran online. Misalnya, lewat e-commerce dan Instagram.
"Kami adaptasi cepat sekali. Pipiltin Cocoa belum fasih sama digital sebelumnya, tapi begitu pandemi, kami langsung serius menggarap strategi iklan secara online," kata Irvan.
Ia tak memungkiri penjualan cokelat di supermarket dan toko fisik turun drastis. Pipiltin Cocoa mendistribusikan cokelat ke lebih dari 87 supermarket di beberapa kota, seperti Jakarta, Bali, dan Surabaya.
"Jadi terasa luar biasa, penjualan itu lebih kecil dari sepertiga," imbuh Irvan.
Di sisi lain, Irvan menyebut penjualan di Jepang dan Rusia justru laris manis, khususnya jelang Valentine Day. Menurutnya, jumlah ekspor ke dua negara itu tumbuh signifikan.
Untuk tahun ini, manajemen Pipiltin Cocoa mengaku tetap akan berekspansi meski pandemi masih merebak di dalam negeri. Perusahaan berencana membuka toko fisik dan mengembangkan penjualannya secara daring.
"Kami tertarik ada dua toko fisik dan buka digital store, kotanya apa masih sangat menyusul," tutup Irvan.