Kisah 'Uang Kaget' Warga Tuban Borong Mobil

CNN Indonesia | Kamis, 18/02/2021 19:40 WIB
Ratusan warga Tuban mendapatkan 'uang kaget' dari pembebasan lahan yang dilakukan oleh Pertamina. Berikut kisah warga yang borong mobil di Tuban. Ratusan warga Tuban mendapatkan 'uang kaget' dari pembebasan lahan yang dilakukan oleh Pertamina. Ilustrasi. (Barn Images).
Jakarta, CNN Indonesia --

"Sabar nggih (sabar ya), ini mau live TV dan shoot foto dulu,"

Kalimat tersebut diucapkan Siti Nurul Hidayatin tergesa-gesa di balik telepon. Warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini mendadak terkenal. Sejak dua hari lalu, wajahnya menghiasi sekitar 20 media nasional mulai dari TV hingga media online.

Nurul mulai terkenal sejak video ratusan warga Desa Sumurgeneng viral usai memborong mobil. Saat itu, warga baru saja dapat 'uang kaget' dari pembayaran pembebasan lahan proyek PT Pertamina (Persero). Usai video tersebut viral, rumah Nurul ramai didatangi tamu hingga media.


Nurul bercerita kepada CNNIndonesia.com, karena sibuk meladeni wartawan, guru TK berusia 32 tahun ini mengaku keteteran saat mengurus urusan pribadi. Sejak jam 6 pagi, dia sudah disibukkan dengan berbagai wawancara mewakilkan warga Sumergeneng lainnya menjelaskan alasan warga desa jadi kaya mendadak.

Dia pun membagikan kisah awal mula 'uang kaget' tersebut. Nurul bercerita PT Pertamina (Persero) menawarkan pembelian tanah warga karena lahan akan dibangun proyek kilang minyak dan petrokimia Grass Root Refinery (GRR) pada Januari 2020 lalu.

Awalnya, tawaran Pertamina tersebut tak disambut positif oleh para warga. Pasalnya, studi banding yang dilakukan oleh Pertamina dan masyarakat, tanah dinyatakan seharga Rp1 juta per meter. Namun, Pertamina menawarkan di harga lebih rendah, yakni dengan rentang Rp600-Rp800 ribu, tergantung daerah dan jenis tanah yang dimiliki.

Namun, secara perlahan warga desa mulai luluh. Pasalnya, menurut Nurul, warga merasa sayang jika tak menjual tanah kepada Pertamina karena harga tanah di Desa Sumurgeneng ditaksir tidak semahal itu.

"Orang-orang desa itu ya paham kalau kita berhubungan dengan pemerintah mesti kalah tapi pengen dikasih harga lebih. Studi banding menunjukkan harga Rp1 juta per meter kok," jelasnya.

Ia sendiri menjual 2,7 hektare lahan miliknya dengan harga per meter bervariasi dari Rp680 ribu-Rp780 ribu. Dari hasil penjualan itu, ia membeli lahan di daerah lain untuk bertani. Lantas, sisa uang dibelanjakan tiga mobil dari Toyota Innova, Honda HR-V, hingga Mitsubishi L-300. D

"Dua untuk dipakai pribadi, satu untuk mengangkut hasil panen," kisahnya.

Tak hanya Nurul yang memborong mobil, warga Sumurgeneng lainnya Prianto (32) membeli dua mobil sekaligus. Salah satunya, Mitsubishi Xpander untuk mengantar hasil panen.

Prianto sendiri mengaku pembelian berjamaah ini tidak didasari oleh motivasi tertentu. Namun, seperti efek domino. Saat satu membeli mobil, yang lainnya pun tak mau kalah.

"Namanya orang desa jangan kan beli mobil, mau menanam apa, mau bersih-bersih, mesti bareng-bareng," ujarnya.

Ia menyebut sebelum memutuskan membeli mobil, Pertamina sempat memberikan pembekalan terkait literasi keuangan. Prianto dan warga lainnya diajari mengatur keuangannya. Dari bekal itu, ia menyebut hasil dari mendepositokan sisa uangnya dari imbal hasil itu dapat diputarkan untuk membiayai ongkos pemeliharaan mobil.

Sebetulnya, seperti banyak warga lainnya, Prianto tak berniat menjual tanahnya. Meski enggan, ia kemudian berubah pikiran dan melepas tanah seluas hampir 1 hektare miliknya karena berharap desa kelahirannya dapat tumbuh maju karena dibangun proyek besar pemerintah dan menjadi industri minyak.

Dia ingin warga sekitar nantinya tak perlu semua menjadi petani karena lapangan pekerjaan akan terbuka dan ekonomi pun akan mulai menggeliat.

Selain itu, ia menyebut penolakan warga juga redam usai pemerintah menjelaskan bahwa pembelian lahan tersebut akan membantu efisiensi produksi minyak dan menghemat kantong negara.

"Istilahnya bantu negara untuk hemat biaya produksi apa gitu kalau ada kilang itu," katanya.

Kepala Desa Sumergeneng Gianto menyebut warganya yang 'mendadak kaya' ini total membeli 380 mobil baru, rata-rata membeli lebih dari satu mobil. Dia menjelaskan terdapat 225 warga yang menerima pembayaran atas pembebasan lahan tersebut.

Seperti yang diketahui, pembebasan lahan proyek kilang minyak dan petrokimia New Grass Root Refinery (NGRR) PT Pertamina (Persero) di Tuban, Jawa Timur, membuat petani kaya mendadak. Mereka mendapat keuntungan besar setelah menjual tanah mereka ke BUMN migas tersebut.

Hal ini berawal dari sebuah video warga di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, yang berbondong-bondong membeli mobil mewah pada Minggu (14/2). Video ini lantas viral di media sosial. 

Mayoritas petani melepas tanahnya sekitar Rp600 ribu-Rp800 ribu per meter, di mana transaksi penjualan tanah tertinggi mencapai Rp25 miliar.

Diketahui, pembangunan kilang di Tuban membutuhkan pembebasan lahan hingga 841 hektare (ha). Proyek ini sebelumnya sempat masuk dalam daftar Rp708 triliun investasi yang mangkrak karena terkendala pembebasan lahan.

Nilai proyek kilang di Tuban sendiri mencapai Rp211,9 triliun. Kilang ini merupakan proyek dari usaha patungan antara Pertamina dan perusahaan migas asal Rusia bernama Rosneft.

Pada 2017, kedua perusahaan membentuk PT Pertamina Rosneft dengan komposisi saham 55 persen (Pertamina) dan 45 persen (Rosneft).

[Gambas:Video CNN]



(wel/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK