5 Masalah Ketenagakerjaan di Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 04/03/2021 17:56 WIB
Berikut sejumlah masalah klasik ketenagakerjaan di Indonesia. Sejumlah masalah klasik ketenagakerjaan di Indonesia. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketimpangan jumlah penduduk yang mencapai ratusan juta jiwa terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan menimbulkan beragam masalah ketenagakerjaan di Indonesia yang tidak terhindarkan.

Data BPS menyebut jumlah penganggur di Indonesia per Agustus 2020 naik 1,84 persen menjadi 7,07 persen.

Secara umum masalah ketenagakerjaan di Indonesia terkait dengan keterbatasan daya serap perekonomian dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja yang yang terus mengalami peningkatan.


Masalah ini sudah ada jauh sebelum ramai aksi protes tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja disahkan.

Berikut sejumlah masalah klasik ketenagakerjaan di Indonesia.

Pekerja membersihkan gedung di kawasan Thamrin, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2020. Berdasarkan data BPJamsostek, angka klaim kecelakaan kerja pada semester I 2020 dari Januari sampai Juni 2020 meningkat 128 persen atau naik dari sebelumnya 85.109 kasus menjadi 108.573 kasus. CNN Indonesia/ Adhi WicaksonoFoto: CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono
Ilustrasi pekerja. Lima masalah klasik ketenagakerjaan di Indonesia.

1. Pendidikan

Sektor pendidikan salah satu yang menjadi sorotan. Penyebabnya adalah tidak meratanya kualitas standar pengajar, rendahnya kualitas calon tenaga kerja, karakter kebiasaan calon tenaga kerja yang kurang baik, serta kurangnya lapangan kerja yang sesuai dengan bidang pendidikan.

Hal tersebut menandakan bahwa pendidikan tinggi tidak menjamin calon tenaga kerja terdidik mendapatkan pekerjaan baik sesuai bidang maupun di luar bidang studi.

2. Keterampilan

Memiliki sejumlah keterampilan sangat diperlukan bagi tenaga kerja. Dengan mengantongi keterampilan tertentu dapat menjadi nilai tambah para tenaga kerja dalam persaingan mendapatkan pekerjaan.

Biasanya, faktor ekonomi turut berperan dalam menghambat para tenaga kerja mendapatkan keterampilan tertentu lantaran keterbatasan biaya. Namun bukan berarti skill atau keterampilan sulit didapatkan.

Saat ini sudah banyak program pelatihan, workshop, maupun sertifikasi yang bisa diakses secara gratis guna meningkatkan daya saing.

3. Alih Daya atau Outsourcing

Sedari dulu tenaga kerja alih daya atau outsourcing selalu menjadi permasalahan berulang terlebih saat ketok palu UU Cipta Kerja.

Sebelum diberlakukannya UU Cipta Kerja, tenaga kerja alih daya kerap mendapatkan upah di bawah standar minimum regional dan tidak mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai.

4. PHK

Pesangon karyawan PHK seringkali tidak sesuai nominalnya, lama prosesnya, bahkan tidak dibayarkan.

PHK karyawan bisa terjadi karena banyak hal di antaranya perusahaan pailit, peleburan, pemisahan, pengusaha tidak bersedia menerima tenaga kerja di perusahaan.

Selain itu, kondisi pandemi corona juga membuat ekonomi lesu yang mengakibatkan banyak perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan membuat pekerja kehilangan pekerjaan.

5. Persebaran Tenaga Kerja yang Tidak Merata

Pulau Jawa masih menjadi sasaran bagi warga luar pulau untuk mengadu nasib dan mencari penghasilan atau pun pekerjaan yang lebih baik.

Hal ini tentu berdampak pada tidak meratanya pembangunan dan pengembangan sumber daya di daerah lain.

Infografis Fakta Tenaga Kerja Asing di Era Pemerintahan JokowiFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Infografis Fakta Tenaga Kerja Asing di Era Pemerintahan Jokowi

Klasifikasi Tenaga Kerja

Menilik UU No 13 Tahun 2013 tentang ketenagakerjaan, terdapat pengklasifikasian tenaga kerja seperti berikut ini:

Pekerja melintas di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021.CNN Indonesia/Adhi WicaksonoFoto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono
Ilustrasi pekerja. Terdapat 3 klasifikasi tenaga kerja yang dibedakan berdasarkan keahlian dan pendidikan.

a. Tenaga Kerja Terdidik

Tenaga kerja terdidik berarti tenaga kerja yang menempuh pendidikan formal hingga ke jenjang sarjana dan di atasnya.

Tenaga kerja terdidik mempunyai keahlian pada bidang tertentu yang sesuai dengan bidang pendidikannya, misalnya arsitek, pengacara, dokter, dosen/guru, akuntan, desainer, dan sebagainya.

b. Tenaga Kerja Terlatih

Tenaga kerja terlatih adalah tenaga kerja dengan keahlian atau keterampilan pada bidang tertentu seperti tukang jahit, montir, juru masak, operator alat berat, dan sebagainya.

c. Tenaga Kerja Tidak Terlatih dan Tidak Terdidik

Tenaga kerja tidak terlatih dan tidak terdidik adalah tenaga kerja yang hanya mengandalkan tenaga atau pekerja kasar.

Di Dalam pelaksanaannya setiap pelaku usaha dan tenaga kerja terikat dalam suatu ikatan atau perjanjian kerja atau kontrak kerja yang telah disepakati kedua belah pihak.

Kesepakatan tersebut umumnya bersifat tertulis dan lisan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan.

Dalam banyak kasus kesepakatan kerja tidak berjalan sebagaimana mestinya dan menimbulkan masalah ketenagakerjaan.

Itulah masalah ketenagakerjaan di Indonesia secara garis besar. Dalam menghadapi industri 4.0, kesiapan SDM sangatlah vital terutama pada hal pendidikan dan keterampilan.

(imb/fef)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK