Harga Minyak Dunia Bervariasi Imbas Gejolak Pasar Keuangan

CNN Indonesia | Jumat, 09/04/2021 07:47 WIB
Harga minyak dunia bergerak bervariasi usai pelemahan mata uang dolar AS dan penguatan pasar ekuitas. Harga minyak dunia bergerak bervariasi usai pelemahan mata uang dolar AS dan penguatan pasar ekuitas. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia bergerak bervariasi pada Kamis (8/4), waktu setempat, usai pelemahan mata uang dolar AS dan penguatan pasar ekuitas.

Di sisi lain, peningkatan besar stok bensin AS di tengah berlanjutnya kekhawatiran permintaan karena meningkatnya kasus global covid-19 juga menambah dinamika pasar.

Mengutip Antara, Jumat (9/4), harga minyak mentah berjangka Brent pengiriman Juni naik 4 sen menjadi US$63,20 per barel di London ICE Futures Exchange.


Sementara, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate pengiriman Mei turun 17 sen menjadi US$59,6 per barel di New York Mercantile Exchange.

"Harga minyak mentah sedang berjuang karena tekanan covid-19, jangka pendek diimbangi oleh dolar AS yang jauh lebih lemah," tutur Analis Pasar Senior OANDA Edward Moya,

Diketahui, dolar AS jatuh ke level terendah dalam dua minggu terakhir terhadap berbagai mata uang utama lainnya, seiring mengikuti imbal hasil obligasi jangka panjang AS yang melandai.

Melemahnya dolar AS membuat minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lain, yang biasanya membantu meningkatkan harga minyak mentah.

Sementara, indeks S&P 500, mencapai rekor tertinggi dan indeks Nasdaq berada di puncak tujuh minggu, ditopang oleh kenaikan saham teknologi.

"Meskipun ada dorongan positif dari pasar ekuitas, valas, dan pasar saham yang meningkat serta dolar AS yang melemah cenderung memiliki efek pendukung harga minyak agak kurang kuat saat ini," ujar Eugen Weinberg, Analis Energi Commerzbank Research.

Sementara, Departemen Energi AS mengatakan persediaan bensin AS naik tajam sebesar 4 juta barel, menjadi lebih dari 230 juta barel karena para penyuling meningkatkan produksi sebelum musim panas.

"Peningkatan besar dalam stok bensin bukanlah yang diharapkan pasar dan kekhawatiran atas kecepatan pemulihan permintaan minyak muncul kembali, membuat para pedagang bertanya-tanya seberapa stabil penggunaan bensin sebenarnya," kata Analis Rystad Energy Bjornar Tonhaugen.

[Gambas:Video CNN]



(wel/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK