Pengamat Imbau Harga BBM Dipangkas Demi Kerek Daya Beli

CNN Indonesia | Rabu, 14/04/2021 18:22 WIB
Pengamat energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengimbau pemerintah untuk menurunkan harga BBM demi mengerek daya beli masyarakat. Pengamat energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengimbau pemerintah untuk menurunkan harga BBM demi mengerek daya beli masyarakat. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menyarankan pemerintah untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah pandemi virus corona atau covid-19 saat ini.

Fahmy menilai kebijakan ini bisa mendongkrak daya beli masyarakat menyusul pemberian stimulus diskon listrik kepada rumah tangga dan UMKM.

"Setelah listrik mungkin harga BBM juga perlu, itu akan menaikkan daya beli dan punya kontribusi sekitar 1 persen ke pertumbuhan ekonomi," ucap Fahmy di acara FMB 9 secara virtual, Rabu (14/4).


Menurutnya, harga BBM perlu diturunkan karena sangat dekat dengan konsumsi energi harian masyarakat setelah listrik. Stimulus ini, sambungnya, meski sedikit, bisa meningkatkan ekonomi masyarakat.

"Jadi, Pertamina juga harus menurunkan harga BBM," imbuhnya.

Kendati begitu, belum ada asumsi berapa kira-kira penurunan harga BBM perlu diberikan. Begitu juga dengan skema pemberiannya ke masyarakat.

Di sisi lain, menurutnya, stimulus berupa penurunan harga BBM sejatinya tidak akan membuat Pertamina 'boncos' karena seperti halnya stimulus diskon listrik, anggarannya ditanggung pemerintah. Sementara dari pemerintah pun tak serta merta merugi karena bisa menggerakkan konsumsi dan ekonomi.

Sementara, untuk pemberian stimulus diskon listrik, Fahmy menilai dampaknya sudah cukup tepat. Pasalnya kebijakan menyasar langsung ke sumber pengeluaran masyarakat sehari-hari.

"Bagian pentingnya karena dapat menurunkan pengeluaran masyarakat tidak mampu yang pada akhirnya mereka jadi konsumsi lagi," imbuhnya.

Begitu juga dengan stimulus diskon listrik ke UMKM yang merupakan tulang punggung perekonomian. Harapannya, produktivitas dan kinerja usaha 'wong cilik' benar-benar bisa memberikan dampak pemulihan ke depan.

Pada 2020, pemerintah memberikan diskon mencapai 100 persen alias gratis kepada pelanggan rumah tangga dengan kapasitas listrik 450 VA. Namun pada 2021, stimulus diskonnya dipotong cuma 50 persen.

[Gambas:Video CNN]

Sementara pelanggan rumah tangga berkapasitas 900 VA dan industri UMKM semula mendapat diskon 50 persen, kini hanya 25 persen.

Begitu pula dengan stimulus berupa pembebasan penerapan ketentuan rekening minimum. Kini, besarannya dipangkas tinggal 50 persen untuk untuk golongan sosial, bisnis, dan industri daya 1.300 VA ke atas serta golongan layanan khusus.

(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK