Kenaikan Ekspor Maret Tertinggi Sejak Agustus 2011

CNN Indonesia | Kamis, 15/04/2021 13:49 WIB
BPS menyebut kinerja ekspor Maret 2021 yang mencapai US$18,35 miliar merupakan yang tertinggi sejak 2011. BPS menyebut kinerja ekspor Maret 2021 yang mencapai US$18,35 miliar merupakan yang tertinggi sejak 2011. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan kinerja ekspor Indonesia selama Maret 2021 cukup berhasil mencapai US$18,35 miliar. Angka itu tumbuh 20,31 persen secara bulanan dari Februari 2021 yakni US$15,26 miliar dan 30,47 persen di Maret 2020 yakni US$14,07 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan pertumbuhan ekspor sebanyak dua digit itu adalah yang tertinggi sejak Agustus 2011 lalu.

"Ekspor kita pada Maret ini memang tinggi sekali US$18,35 miliar, ini tertinggi sejak Agustus 2011. Waktu itu nilai ekspor kita sebesar US$18,64 miliar," ujarnya pada rilis data neraca perdagangan periode Maret 2021, Kamis (15/3).


Menurutnya, kenaikan ekspor ini merupakan dampak positif dari geliat ekonomi yang mulai pulih dari pandemi covid-19. Ini tampak dari kinerja ekspor dari semua sektor mengalami peningkatan baik secara bulanan maupun tahunan.

Mulai dari ekspor industri pertanian yang naik 27,06 persen secara bulanan menjadi US$390 juta, serta naik 25,04 persen secara tahunan. Lalu, industri pengolahan naik 22,27 persen secara bulanan menjadi US$14,84 miliar, dan secara tahunan naik 33,45 persen.

Selanjutnya, industri pertambangan dan lainnya meningkat 13,68 persen secara bulanan menjadi US$2,22 miliar, dan naik 11,39 persen secara tahunan.

Namun, ia tidak menampik kenaikan ekspor disumbang oleh faktor depresiasi rupiah. Selama sebulan terakhir, rupiah terpantau melemah 1,9 persen terhadap dolar AS.

[Gambas:Video CNN]

Suhariyanto mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah membuat harga barang Indonesia di pasar global menjadi lebih kompetitif, sehingga mendorong kenaikannya. Pukul 13.00 WIB hari ini, rupiah berada di posisi Rp14.664 per dolar AS turun 0,53 persen.

"Betul disampaikan bahwa selama Maret kemarin ada depresiasi rupiah, agak melemah dan tentunya ketika rupiah melemah harga produk kita jadi lebih murah sehingga kompetitif dan lebih bisa meningkatkan (ekspor), jadi kemungkinan iya (ada pengaruh depresiasi rupiah). Tapi, jawaban ini lebih tepat kalau disampaikan dari teman-teman di BI," imbuhnya.

Tak hanya kinerja ekspor, capaian impor pada Maret 2021 juga dinilai impresif. Tercatat, nilai impor pada Maret 2021 sebesar US$16,79 miliar, atau naik 26,55 persen dari US$13,26 miliar pada Februari 2021. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2021 mengalami surplus sebesar US$1,57 miliar.

Suhariyanto menuturkan bagusnya kinerja ekspor impor Indonesia akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pasalnya, ekspor menyumbang kurang lebih 20 persen-21 persen pada komponen pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, impor bahan baku/penolong juga bertambah sebesar 31,10 persen secara bulanan menjadi US$12,97 miliar dan barang modal naik 11,85 persen secara bulanan menjadi US$2,41 miliar. Menurutnya, kenaikan itu mengindikasikan sektor manufaktur di Indonesia kembali bergeliat.

Namun, ia belum bisa menjawab apakah surplus neraca perdagangan pada Januari, Februari, dan Maret 2021 yang secara kumulatif tercatat sebesar US$5,5 miliar bisa melepaskan Indonesia dari kontraksi pertumbuhan ekonomi. Alasannya, BPS masih harus memasukkan komponen pertumbuhan ekonomi lainnya seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi.

"Jadi, dengan ekspor impor bagus selama Januari-Maret ini tentunya berpengaruh bagus pada pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021 yang akan kami rilis pada 5 Mei depan, tapi perlu saya sampaikan nilai ekspor impor yang baru kami rilis ini hanya ekspor impor pangan, nanti masih ada tambahan mengenai jasa yang akan menjadi pelengkap pada pertumbuhan ekonomi," tuturnya.

(ulf/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK