Pertamina Respons Isu Tanah Warga Indramayu Dibeli Murah

CNN Indonesia | Sabtu, 17/04/2021 13:12 WIB
PT Pertamina (Persero) mengungkapkan pembayaran lahan warga Indramayu untuk Petrochemical Complex sesuai dengan validasi dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). PT Pertamina (Persero) mengungkapkan pembayaran lahan warga Indramayu untuk Petrochemical Complex sesuai dengan validasi dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina (Persero) merespons kekecewaan sejumlah warga Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang mengaku menjual lahan dengan harga murah untuk proyek Petrochemical Complex.

Corporate Secretary Subholding Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional Ifki Sukarya mengungkapkan ketentuan pengadaan tahan mengacu pada Undang-undang (UU) Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

Dalam hal ini, untuk menentukan harga tanah yang dibayarkan, perseroan melibatkan Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP).


"Pertamina sebagai instansi pemohon, melaksanakan pembayaran sesuai yang diperintahkan/validasi oleh BPN atas nilai yang dikeluarkan oleh KJPP," ujar Ifky melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Jumat (16/4).

Mengutip laman resmi Pertamina, proyek Petrochemical Complex rencananya dibangun di Desa Sukaurip, Desa Tegalsembadra, dan Desa Sukareja. Lokasinya berada di Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Proyek ini bertujuan untuk membangun unit naphtha craker dengan kapasitas 1 juta ton ethylene yang memiliki skala kelas dunia agar bisa lebih kompetitif di pasar regional.

Untuk menjalankan proyek ini, Pertamina menggandeng China Petroleum Corporation (CPC) Taiwan. Keduanya menandatangani Head of Agreement (HoA) pada tahun lalu.

Melalui proyek ini, perusahaan ingin membangun unit-unit turunan hilir yang layak secara ekonomis. Unit-unit tersebut ditargetkan dapat diterima oleh pasar petrokimia domestik dan regional.

"Proyek ini merupakan tonggak penting untuk memperkuat portofolio bisnis petrokimia sehingga dalam rentang waktu 10 tahun ke depan Pertamina diharapkan bisa menjadi pemain utama bisnis petrokimia di kawasan Asia Pasifik," jelas Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam keterangan resmi beberapa waktu lalu.

Eks Direktur Mega Proyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang pernah menyebut nilai investasi proyek tersebut mencapai US$6,49 miliar. Jika dikonversi ke rupiah dengan kurs Rp14 ribu per dolar AS, maka nilai investasi itu setara dengan Rp90,86 triliun.

Sebelumnya, mencuat kabar keberadaan desa miliarder di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Warga tiga desa, Desa Sukaurip, Desa Tegalsembadra, dan Desa Sukareja, Kecamatan Balongan, Indramayu, disebut-sebut mendadak kaya.

[Gambas:Video CNN]

Namun, beberapa warga di desa-desa tersebut menyampaikan pengakuan berbeda. Banyak warga yang disebut kecewa karena harga tanah mereka dihargai murah.

"Kalau misalkan kemarin ada berita dari mana lah ya, bunyinya 'kampung miliarder baru di Indramayu', pas saya baca ah miliarder dari mananya? Nilai harga per meter aja udah jauh anjlok. Mungkin ada satu, dua orang tapi ga sampai Rp10 miliar," kata seorang warga Desa Sukareja Esal kepada CNNIndonesia.com.

Esal menjelaskan tanah warga dihargai berbeda-beda sesuai dengan tiga zonasi yang ditetapkan. Zonasi pertama dekat dengan jalan raya dihargai Rp400 ribu per meter, zona kedua dihargai kurang lebih Rp300 ribu per meter, dan zona terakhir dihargai sekitar Rp240 ribu per meter.



(aud/uli)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK