OBITUARI

Adiguna Sutowo, Bungsu Eks Dirut Pertamina yang Tutup Usia

CNN Indonesia | Minggu, 18/04/2021 10:35 WIB
Pengusaha Adiguna Sutowo meninggal dunia akibat sakit pada Minggu (18/4) merupakan anak mantan direktur utama Pertamina, Ibnu Sutowo. Pengusaha Adiguna Sutowo meninggal dunia akibat sakit pada Minggu (18/4) merupakan anak mantan direktur utama Pertamina, Ibnu Sutowo. (iStockphoto/dragana991).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengusaha Adiguna Sutowo meninggal akibat sakit di RSPP Pertamina pada pukul 04.04 WIB, Minggu (18/4). Iwet Ramadhan, desainer sekaligus Head of Business Growth MRA Media, mengabarkan kepergian pendiri MRA Group ini melalui akun Instagram pribadi.

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Berita duka cita, telah meninggal dunia pada hari Minggu tanggal 18 April 2021 jam 04.04 pag, Bapak Adiguna Sutowo Founder MRA Group, ayahanda dari Bapak Maulana Indraguna Sutowo (Direktur Utama MRA Group)," tulis Iwet dalam Instagram Story miliknya.

Adiguna Sutowo masuk di jajaran pengusaha besar Indonesia. Darah bisnis mengalir dari sang ayah, Ibnu Sutowo.


Di era Orde Baru, Ibnu yang merupakan perwira militer berpangkat letnan jenderal juga menjadi kepala perusahaan minyak dan gas Pertamina (1957-1976). Bahkan. dia juga sempat menjabat sebagai Menteri Urusan Minyak dan Gas Bumi pada 1966 (sekarang Menteri ESDM).

Terlepas dari status anak seorang pejabat, nama Adiguna Sutowo santer terdengar saat sang putera, Maulana Indraguna Sutowo, meminang artis Dian Sastrowardoyo pada 18 Mei 2010 silam.

Ibarat pernikahan Aurel-Atta, saat itu pernikahan Indraguna-Dian barangkali jadi pernikahan impian kala itu. Hanya saja, hal ini tidak mampu menghapuskan ingatan publik akan berbagai masalah hukum yang sempat dihadapi mertua Dian Sastrowardoyo ini.

Pada 2004, Adiguna sempat mengancam membunuh David Reynaldo Titawono, keponakan musisi Achmad Albar dan penyanyi Camelia Malik. Insiden terjadi di Kemang, Jakarta Selatan.

Disebutkan ancaman dengan senjata api ini dipicu pertengkaran David dan salah satu keponakan Adiguna. Keluarga Albar melaporkan kejadian tersebut sehingga Adiguna diperiksa di Polda Metro Jaya.

Akan tetapi, kasus itu diselesaikan kedua keluarga dan laporan dicabut.

Tidak berhenti sampai di situ, Adiguna kembali terlibat dalam masalah hukum pada 2005. Tepat di awal tahun, ia menembak mati Yohanes Brachmans Haerudy Natong alias Rudy di Island Bar Fluid Club & Lounge, Hotel Hilton Jakarta.

Rasa kesal Adiguna dipicu bar yang tidak bisa memproses kartu debit guna pembayaran minuman yang dipesan. Sebelumnya ia pun sudah dibuat kesal karena pembayaran minuman tidak bisa dibebankan ke kamarnya sehingga Novia Heriana alias Tinul, sang sahabat, yang mesti melunasi.

Adiguna lantas mencabut pistol Smith & Wesson kaliber 22 dan menembak kepala Rudy.

Kasus berjalan meski diwarnai dugaan penggunaan narkoba jenis kokain oleh Adiguna. Atas perbuatannya, ia terancam hukuman kurungan selama tujuh tahun.

Semua tuduhan memang terbukti secara sah tetapi ia masih bisa memperoleh keringanan karena beberapa hal termasuk keluarga yang sudah meminta maaf terhadap keluarga Rudy di Flores. Pengajuan banding dilancarkan hingga ke Mahkamah Agung hingga akhirnya tujuh tahun menguap jadi hanya sekitar dua tahun.

Adiguna bebas di 2007 setelah menerima remisi dari Kementerian Kehakiman.

Seolah tak ingin kehilangan sorotan, ia kembali berurusan dengan polisi setelah menerobos kediaman istri keduanya, Vika Dewayani. Dari keterangan polisi, sopir Adiguna bernama Dalyono menyebut Adiguna di mobil bersama Anastasia Florina Limasnax, yang saat itu merupakan istri gitaris grup band Padi, Satriyo Yudi Wahono atau dikenal dengan Piyu.

Akan tetapi kini keduanya sudah bercerai. Mobil Limasnax pun merangsek ke pagar rumah.

Kemudian pada 2018, Adiguna seharusnya memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dugaan korupsi dan pencucian uang di Garuda Indonesia. Namun, ia urung hadir karena mengaku sakit.

Indraguna, sang anak, pun dipanggil atas kasus serupa.

Di balik berbagai kasus yang menimpanya, Adiguna mampu melebarkan sayap sebagai pebisnis. Tak hanya media, ia pun terjun ke bisnis farmasi, properti, otomotif, juga entertainment.

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa ia dulu juga seorang pebalap mobil. Ia berkarier sekitar 1970-an hingga 1990-an bersama Tommy Soeharto, Ricardo Gelael, Soetikno Soedardjo dan Onky Soemarno.

[Gambas:Video CNN]



(els/ayp)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK