Bunga Acuan BI Tetap 3,5 Persen pada April 2021

CNN Indonesia | Selasa, 20/04/2021 14:31 WIB
Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5 persen pada April 2021. Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5 persen pada April 2021. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate/7DRR) sebesar 3,5 persen pada April 2021. Begitu pula dengan tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility masing-masing tetap di 2,75 persen dan 4,25 persen.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 19-20 April 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7DRR sebesar 3,5 persen," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil RDG BI periode April 2021 secara virtual, Selasa (20/4).

Perry mengatakan keputusan ini mempertimbangkan perkembangan pemulihan ekonomi global khususnya dari Amerika Serikat dan China yang lebih cepat dari perkiraan semula. Pemulihan ekonomi ditopang oleh vaksinasi virus corona atau covid-19 dan permintaan domestik.


"BI merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi global pada 2021 menjadi 5,7 persen atau lebih tinggi dari sebelumnya 5,1 persen," ucapnya.

Revisi melihat pada peningkatan harga komoditas, kenaikan PMI, dan penjualan ritel, meski ketidakpastian masih tinggi karena peningkatan tingkat imbal hasil (yield) surat utang AS, US Treasury yang memberi dampak keluarnya modal asing dari negara berkembang, termasuk dari Indonesia.

Sementara dari dalam negeri, bank sentral nasional melihat perekonomian ditopang oleh kinerja ekspor yang meningkat, stimulus fiskal pemerintah, dan realisasi belanja rutin pemerintah. Di sisi lain, ada perbaikan konsumsi swasta dan konsumen, meski masih cukup terbatas karena PPKM Mikro yang masih berlangsung.

"BI memperkirakan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,1 persen sampai 5,1 persen, " ujarnya.

Hal ini menandakan ada revisi ke bawah dari proyeksi ekonomi Indonesia dari BI yang sebelumnya berada di kisaran 4,3 persen sampai 5,3 persen. Sementara neraca pembayaran tetap baik didorong oleh surplus neraca dagang Indonesia yang utamanya datang dari permintaan China dan AS.

BI mencatat investasi portofolio net inflow US$5,43 miliar pada kuartal I 2021. Sedangkan cadangan devisa US$137,1 miliar sampai Maret 2021.

"Defisit transkasi berjalan diperkirakan akan tetap rendah, yaitu sekitar 1 persen sampai 2 persen dari PDB," tuturnya.

Nilai tukar rupiah tercatat depresiasi 1,16 persen secara rerata dan 0,15 persen secara point-to-point sampai 19 April 2021 dibanding level akhir Maret 2021. Total depresiasi rupiah mencapai 3,2 persen sejak akhir 2020.

"Depresiasi ini relatif rendah dari negara lain seperti Brasil, Turki, dan Thailand," imbuhnya.

Inflasi tetap rendah karena permintaan belum kuat. Tercatat inflasi 0,08 persen secara bulanan dan 1,37 persen secara tahunan pada Maret 2021. BI memperkirakan inflasi tetap berada di target 3 persen plus minus 1 persen sampai akhir tahun.

Dari sisi likuiditas nasional, Perry memastikan kondisinya masih cukup karena mendapat suntikan likuiditas (quantitative easing/QE) dari BI mencapai Rp798 triliun sepanjang 2020-2021. Khusus 2021, BI membeli Surat Berharga Negara (SBN) untuk pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp101,91 triliun di pasar perdana pada periode 1 Januari sampai 19 April 2021.

Kebijakan BI ini membuat likuiditas longgar di pasar keuangan. Tercermin dari rasio Alat Liquid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 33,58 persen, pertumbuhan DPK 9,2 persen, dan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) bank sebesar 24,52 persen.

[Gambas:Video CNN]

Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) sebesar 3,21 persen (gross) atau 1,04 persen (net). Sementara pertumbuhan kredit bank terkontraksi 4,13 persen. BI turut mencatat rata-rata suku bunga PUAB 2,09 persen, suku bunga deposito 4,06 persen, dan kredit modal kerja 9,72 persen.

"Penurunan SBDK turun 171 basis poin dengan terbesar di kelompok bank BUMN turun 266 bps menjadi 8,7 persen. Alhamdulillah SBDK sekarang sudah single digit, meski kita harapkan penurunan lebih lanjut," pungkasnya.

(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK