Jokowi Minta Covid Jadi Momentum Masuk ke Ekonomi Hijau

CNN Indonesia | Rabu, 21/04/2021 05:52 WIB
Jokowi meminta DEN jadikan covid-19 sebagai momentum untuk masuk ke ekonomi hijau. Salah satunya, dengan menggenjot pemanfaatan energi terbarukan. Jokowi meminta momentum covid-19 dijadikan momentum untuk masuk ke ekonomi hijau. Salah satunya, dengan menggenjot pemanfaatan energi terbarukan. Ilustrasi. (Victor Wirawan/Baran Energy).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar anggota Dewan Energi Nasional (DEN) dapat memanfaatkan momentum pandemi covid-19 untuk masuk ke ekonomi hijau (green economy). Hal ini disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Harian DEN Arifin Tasrif usai sidang kabinet paripurna di Istana Negara.

"Arahan Pak Presiden, diharapkan bahwa kami DEN dapat melihat momentum untuk mengambil kesempatan pandemi untuk bisa masuk ke arah green economy," ungkap Arifin, Selasa (20/4).

Jokowi, kata Arifin, juga meminta DEN menyusun strategi untuk menuju ekonomi hijau secara visioner. Dengan demikian, strategi itu bisa digunakan untuk jangka panjang.


Salah satu sumber energi yang dapat mendorong implementasi ekonomi hijau adalah energi baru terbarukan (EBT). Pemerintah kini sedang mempercepat pemakaian EBT demi mendukung target pengurangan temperatur 2 derajat celcius sesuai dengan apa yang tertulis di Paris Agreement.

"EBT saat ini baru 10,5 GW dan diharapkan meningkat pada 2025," imbuh Arifin.

Ia menagetkan penggunaan EBT naik 23 persen menjadi 24 ribu MW pada 2035. Lalu, pemanfaatan EBT ditargetkan naik 14 ribu MW menjadi 38 ribu MW pada 2035.

"Yang mana backbone nya kami upayakan dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang perkembangannya semakin ekonomis," terang Arifin.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan meminta pemerintah dan investor asal Korea Selatan mengalirkan investasi ke industri EBT di Indonesia.

Aliran investasi bisa masuk secara langsung ke proyek yang dituju maupun lewat Lembaga Pengelola Investasi (Indonesia Investment Authority/INA) yang merupakan lembaga pengelola investasi dana abadi (Sovereign Wealth Fund/SWF).

"Kerja sama ini dapat dikembangkan ke berbagai sektor lainnya, seperti investasi di lembaga baru Indonesia, Indonesia Investment Authority (INA) dan juga mengembangkan industri downstream metal serta energi terbarukan," kata Luhut dalam keterangan resmi.

Luhut meminta Korea Selatan mengalirkan investasinya karena selama ini investasi mereka masuk jajaran lima besar sebagai negara yang sering mengucurkan modalnya ke tanah air. Tercatat, aliran investasi negara tersebut mencapai US$1,8 miliar melalui 5.467 proyek.

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK