Kesejahteraan Petani RI Jauh di Bawah China dan Thailand

CNN Indonesia | Kamis, 06/05/2021 06:20 WIB
Bappenas menyebut kesejahteraan petani Indonesia lebih rendah dari China dan Thailand terlihat dari rendahnya nilai tukar petani dua negara tersebut. Bappenas menyebut kesejahteraan petani Indonesia lebih rendah dari China dan Thailand terlihat dari rendahnya nilai tukar petani dua negara tersebut. (ANTARA FOTO/Makna Zaezar).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyebut kesejahteraan petani Indonesia lebih rendah dari China dan Thailand. Hal itu terlihat dari rendahnya nilai tukar petani (NTP) RI dibanding dua negara tersebut.

"Nilai tukar petani di Indonesia tidak bergerak menurut saya. Cuma sekitar 100 ke 102, kadang tetap, kadang turun ke 96-97. Bandingkan dengan Thailand bisa 120-140. Apalagi dengan Cina 140-150," ujarnya dalam webinar 'Strategi Industrialisasi untuk Mendorong Transformasi Ekonomi', Rabu (5/5).

Nilai tukar petani merupakan perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP adalah salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Petani (NTP) nasional April 2021 sebesar 102,93 atau menurun tipis sebesar 0,35 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 0,10 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik sebesar 0,25 persen.

Menurut Suharso, rendahnya NTP Indonesia disebabkan oleh tidak efisiennya teknologi yang digunakan serta rendahnya produktivitas petani. Pasalnya, menurut Suharso, banyak petani yang tidak mendedikasikan diri sepenuhnya di sawah atau kebun.

"Kenapa juga nilai tukar petani itu rendah, karena mereka juga tidak 100 persen mendedikasikan waktunya untuk bekerja sebagai petani atau buruh tani. Setelah musim panen mereka ke kota jadi buruh," ucapnya.

Karena itu lah, ke depan, petani harus diberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuannya dalam berproduksi usai masa panen. Di samping itu, para petani juga harus dibantu untuk bisa memiliki alat produksi yang dapat menghasilkan nilai tambah.

"Jadi, artinya kita ingin petani kalau kita reskiling upskilling, maka dia tetap ada wilayah atau farmnya dia. Ada kegiatan di on farm ada kegiatan di off farm. Misalnya di beras, petani punya rice milling unit (RMU) sendiri, sehingga mereka bisa dapat nilai tambah yang lebih baik," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK