Masih 'Undervalue', Rupiah Berpotensi Menguat

CNN Indonesia | Rabu, 02/06/2021 21:55 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo menilai nilai tukar rupiah berpotensi menguat mengingat pergerakannya masih di bawah nilai fundamental. Gubernur BI Perry Warjiyo menilai nilai tukar rupiah berpotensi menguat mengingat pergerakannya masih di bawah nilai fundamental. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah hingga saat ini masih bergerak di bawah nilai fundamentalnya (undervalue). Meski demikian, ia optimistis rupiah masih bisa menguat dengan berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan BI.

"Tentu saja ada potensi nilai tukar rupiah menguat, namun masih ada ketidakpastian dan risiko tekanan dari sisi global kenaikan US treasury yield," ujarnya di komisi XI, Rabu (2/6).

Optimisme penguatan rupiah tersebut, lanjut Perry, juga didukung dengan tingginya cadangan devisa Indonesia yakni US$138,8 miliar pada akhir bulan lalu dan surplus neraca pembayaran US$4,1 miliar pada kuartal I 2021.


"Neraca perdagangan juga terus menunjukkan surplus dan mendukung defisit transaksi berjalan yang akan tetap rendah kami perkirakan 1 sampai 2 persen pada tahun ini dan 2022," jelasnya.

Menurut Perry, surplus neraca pembayaran saat ini didukung oleh surplus dari neraca modal dan finansial. Ini terutama disebabkan oleh masuknya aliran modal asing di awal tahun.

"Termasuk juga didorong oleh Undang-Undang Cipta Kerja. Arus portofolio asing sudah kembali masuk dan kami upayakan untuk terus deras supaya menambah surplus transaksi modal kita dan menjaga stabilitas eksternal kita," jelasnya.

Secara keseluruhan, BI memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp14.200 hingga Rp14.600 per dolar AS sampai 2021. "Sedangkan 2022, kami memperkirakan nilai tukar di kisaran Rp14.100 sampai Rp14.500, masih menguat dari 2021," jelasnya.

Sementara itu pertumbuhan ekonomi 2021 diproyeksikan 4,1 persen-5,1 persen dan tahun depan diproyeksikan di level 5 persen-5,5 persen. Inflasi juga diperkirakan masih terkendali di kisaran 2 persen hingga 4 persen pada tahun ini dan tahun depan.

"Inflasi inti masih terkendali karena memang penawaran masih cukup untuk memenuhi permintaan meskipun permintaan naik," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK