Sinergi Pertamina Hasilkan Pengapalan ke-700

Pertamina, CNN Indonesia | Kamis, 10/06/2021 10:24 WIB
Capaian lifting ke-700 Blok Cepu secara kumulatif lebih dari 475 juta barel, lebih tinggi dari perkiraan keseluruhan volume cadangan minyak terproduksikan. Menteri ESDM RI Arifin Tasrif (tengah) bersama Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto (kedua kanan), Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati (kiri), dan Presiden ExxonMobil Cepu Limited Irtiza Sayyed (kedua kiri) dalam kegiatan Pengapalan ke-700 Minyak Mentah Blok Cepu Kargo Bagian Pemerintah Indonesia dan BKS PI kepada Pertamina di Bandara Juanda, Surabaya, Rabu (9/6). (Foto: Pertamina)
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina EP Cepu (PEPC) selaku anak usaha PT Pertamina (Persero) kembali mewujudkan sinergi operasional dalam proses pengapalan produksi minyak mentah Blok Cepu yang ke-700.

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Dirjen Migas Tutuka Ariadji, Kepala SKK Migas Dwi Sucipto, dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati itu, Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan apresiasi atas kegiatan pengapalan ke-700. Dia menyebut hal ini sebagai pencapaian yang didapat dari kerja keras dan kerja sukses.

"Saya percaya dengan kemampuan dan kerja sama tim teknis yang ada dan dengan sinergi semuanya, Insya Allah bisa kita capai dengan baik. Kerja sama ini diharapkan bisa terus berlangsung dan Pemerintah akan selalu mendukung upaya untuk dapat bisa mengoptimalkan produksi minyak dan gas di Indonesia," ujar Arifin.


Dalam proses pengapalan, minyak mentah Blok Cepu di Bojonegoro yang merupakan hasil produksi konsorsium KKKS, yakni PEPC dan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dialirkan melalui pipa sepanjang 95 kilometer ke Palang, Tuban, dan ditampung pada FSO Gagak Rimang di lepas pantai Tuban, Jawa Timur. Minyak kemudian dikirim oleh VLCC Success Enterprise (MT SC Enterprise) yang dioperasikan oleh Pertamina Inaternational Shipping ke STS Tuban untuk diolah di kilang Pertamina.

VLCC MT SC Enterprise akan mengangkut 1 juta barel minyak mentah yang merupakan kargo bagian pemerintah sebesar 850 ribu barel dan BKS PI sebesar 150 ribu barrel. Capaian lifting ke-700 Blok Cepu ini secara kumulatif lebih dari 475 juta barel minyak, atau lebih tinggi dari perkiraan keseluruhan volume cadangan minyak terproduksikan saat rencana awal Plan of Development (PoD) sebesar 450 juta barel.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, potensi Blok Cepu masih cukup besar di masa depan. Dia menilai, setelah onstream setahun lalu, kini kapasitas produksi bisa ditambah dari10 ribu BOEPD menjadi 11 ribu.

Diperkirakan, akan ada temuan potensi 40 juta barel minyak di Blok Cepu. Menurut Dwi, akan direncanakan drilling test. Sementara dari aspek gas, ada peluang untuk monetasi gas sebesar 100 MMSCFD.

"Ini adalah hal-hal yang potensial di Blok Cepu ini yang diharapkan bisa diutilisasi secara optimal oleh Konsorsium Exxon dan Pertamina di masa mendatang," ujar Dwi.

Bagi Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, pengapalan ke-700 ini membuktikan kemampuan teknis yang luar biasa, karena hasilnya melebihi dua kali dari yang direncanakan.

"Dengan sinergi, kita bisa mengoptimalkan produksi. Jadi pengapalan minyak mentah ke-700 akan diangkut oleh kapal yang dioperasikan oleh Pertamina International Shipping yang kemudian akan di proses di kilang-kilang Pertamina," ujar Nicke.

Lebih lanjut, dia berpesan agar insan Pertamina selalu fokus dan mengutamakan aspek kesehatan, keamanan, dan kesehatan lingkungan (HSSE) dalam tugas sehari-hari. Sehingga, operasional lifting dapat berjalan aman dan lancar.

"Harapan ke depan, semoga kerja sama yang baik dan solid yang selama ini telah dilakukan tetap dapat dijaga dan bahkan ditingkatkan, mengingat tingkat produksi yang diperkirakan akan stabil di level 200 MBOPD, sehingga bisa mendukung ketahanan energi nasional," kata Nicke.

President ExxonMobil Indonesia Irtiza Sayyed menambahkan, dengan dukungan Kementerian ESDM, SKK Migas, pemerintah daerah, engineer, PT Pertamina, BKS PI dan Exxonmobil bisa melakukan pengapalan ke-700 minyak mentah dari Blok Cepu.

"Ada berbagai tantangan operasional yang kita hadapi dan juga ada pembatasan terkait protokol kesehatan Covid-19, namun bisa menghasilkan secara maksimal tanpa adanya kecelakaan kerja," ujar Irtiza.

(rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK