KSSK Soroti Kemampuan Bayar Kredit Sejumlah Industri

CNN Indonesia | Senin, 14/06/2021 16:41 WIB
KSSK menyoroti kemampuan bayar kredit dari sektor perdagangan, konstruksi, transportasi yang masih lesu. Mereka khawatir kondisi itu meningkatkan kredit macet. KSSK mengkhawatirkan kemampuan bayar kredit dari sektor perdagangan, konstruksi, transportasi yang masih lesu. (CNN Indonesia/ Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyoroti kemampuan bayar kredit dari sejumlah sektor yang masih belum pulih seutuhnya akibat pandemi. Sektor yang masuk kategori slow starter ini merupakan yang terjatuh paling dalam akibat pandemi covid-19, namun pemulihannya lambat.

Ketua KSSK yang juga menjabat sebagai Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan sektor yang masuk kelompok itu adalah perdagangan, konstruksi, transportasi, dan jasa-jasa.

"Kemampuan membayar dari kelompok resilience masih memadai. Namun, (kita) perlu mewaspadai dan mencermati kemampuan bayar yang slow starter karena mereka juga memiliki tekanan ke penjualan paling signifikan," ujarnya dalam rapat bersama Komisi XI Senin (14/6).


Ia khawatir kondisi tersebut berdampak (spill over) pada sektor keuangan. Dalam bahan paparannya ia menyatakan bahwa hal ini menjadi potensi risiko bagi sektor keuangan jika tekanan pada kelompok slow starter tersebut masih berlanjut sehingga menimbulkan kredit macet (non performing loan/NPL).

Oleh sebab itu, ia mengatakan KSSK akan mencari formulasi kebijakan yang tepat untuk membantu sektor tersebut.

"Ini tantangan pemulihan ekonomi yang terus dibahas di KSSK. Formulasi mix di fiscal policy yang punya banyak instrumen dan perlu didukung BI dan OJK. Tidak mungkin terus -terusan pakai kebijakan fiskal, walaupun fiskal yang paling diakui bisa lincah respons," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Ani, sapaan akrabnya menuturkan pemulihan pada setiap sektor akibat pandemi covid-19 tidak serupa. Sejumlah sektor mampu pulih dengan cepat, namun lainnya masih cenderung lambat.

Karenanya, KSSK juga akan membentuk gugus tugas (task force) untuk mengidentifikasi pemulihan pada masing-masing sektor tersebut.

"Kami di KSSK akan menganalisis sektor riil. Kami akan membentuk task force dan memetakan sektor riil dan korporasi. Kami juga akan melakukan FGD dengan asosiasi untuk memetakan sektor riil yang merupakan sektor penting bagi pemulihan perekonomian dan mendukung dampak ke sektor keuangan sendiri," katanya.

(ulf/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK