Pabrik Pepsi di Gaza Tutup Usai Israel Perketat Impor

CNN Indonesia | Rabu, 23/06/2021 08:01 WIB
Pabrik Pepsi di Gaza terpaksa tutup usai Israel memperketat pembatasan impor bahan mentah, termasuk gas karbondioksida dan sirup, yang diperlukan perusahaan. Pabrik Pepsi di Gaza terpaksa tutup usai Israel memperketat pembatasan impor bahan mentah, termasuk gas karbondioksida dan sirup, yang diperlukan perusahaan. Ilustrasi. (Istockphoto/filo).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pabrik Pepsi di Gaza terpaksa menghentikan operasi pekan ini karena pengetatan pembatasan impor Israel selama konflik 11 hari dengan militan Palestina bulan lalu.

Hamam al-Yazeji dari Pepsi Gaza mengatakan Israel memang telah mengizinkan dimulainya kembali ekspor secara terbatas usai gencatan senjata dengan Hamas di Gaza.

Namun otoritas negara tersebut tetap memberlakukan langkah-langkah pengetatan pada impor bahan mentah, termasuk gas karbon dioksida dan sirup yang dibutuhkan perusahaan untuk memproduksi soda Pepsi, 7UP dan Mirinda.


Padahal, sebelum pertempuran Mei, Pepsi Gaza diizinkan untuk mengimpor bahan-bahan yang dibutuhkan.

"Kemarin kami benar-benar kehabisan bahan baku, dan sayangnya kami harus menutup pabrik, memulangkan 250 pekerja," kata Yazeji seperti dikutip Reuters, Rabu (23/6)

Menanggapi hal itu, COGAT bagian dari Kementerian Pertahanan Israel, mengatakan impor bahan baku industri ke jalur Gaza tak mungkin dilakukan karena situasi keamanan.

Namun, COGAT memastikan Israel tetap mengizinkan impor lain ke Gaza, termasuk bahan bakar, makanan, obat-obatan dan peralatan medis.

Seperti diketahui, Israel dan negara tetangganya, Mesir, menjaga kontrol ketat atas perbatasan Gaza dan mengatakan pembatasan diperlukan untuk menghentikan pasokan senjata mencapai Hamas dan mencegahnya diproduksi secara lokal.

Mesir dan PBB meningkatkan mediasi pekan lalu setelah balon pembakar yang diluncurkan dari Gaza memicu serangan udara pembalasan Israel di lokasi Hamas, mengancam berakhirnya gencatan senjata yang rapuh.

Para analis menilai penutupan tak hanya akan dialami oleh Pepsi melainkan juga juga pabrik-pabrik lain di Gaza jika pembatasan Israel dipertahankan. Padahal sektor manufaktur berkontribusi sekitar 10 persen terhadap perekonomian Gaza yang didominasi sektor jasa.

Pabrik Pepsi Gaza sendiri telah beroperasi sejak tahun 1961, ketika perusahaan minuman ringan tempat Yazeji bekerja memperoleh hak untuk memproduksi 7UP dan jenis soda lainnya. Dengan investasi sekitar US$15 juta, pabrik ini mendistribusikan produk minuman karbonasi secara lokal.

Cabang lain dari pabrik tersebut beroperasi terpisah di wilayah Barat dengan investasi sekitar US$30 juta. Mereka melayani wilayah tersebut serta Yerusalem Timur.

Yazeji menuturkan pejabat perusahaan sebenarnya berencana merayakan 60 tahun beroperasinya pabrik tersebut sebelum penutupan.

Ia meneteskan air mata saat berjalan melewati pabriknya yang kosong pada Senin (20/6) dan mengatakan penutupan tersebut sebagai bencana. "Tahun ini seharusnya luar biasa, merayakan 60 tahun sejak kami memulai produksi. Kami tidak bisa menandai ulang tahun ini," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK