'Obat Covid' di E-Commerce Nyaris Kosong H-1 Jelang Razia

CNN Indonesia
Rabu, 07 Jul 2021 20:50 WIB
Berbagai obat yang dipercaya bisa digunakan menyembuhkan covid terpantau nyaris kosong pada H-1 menjelang ancaman sidak dari pemerintah. Berbagai obat yang dipercaya bisa digunakan menyembuhkan covid terpantau nyaris kosong pada H-1 menjelang ancaman sidak dari pemerintah. Ilustrasi. (iStock/FatCamera).
Jakarta, CNN Indonesia --

Berbagai obat yang dipercaya bisa digunakan untuk menyembuhkan covid-19 terpantau nyaris kosong di berbagai e-commerce pada Rabu (7/7) malam atau H-1 menjelang ancaman sidak dari pemerintah.

Dari pantauan CNNIndonesia.com, berbagai obat yang tak dapat ditemukan itu mulai dari remdesivir, favipiravir, oseltamivir, ivermectin, hingga tocilizumab. Jenis obat-obatan itu tidak ditemukan di Shopee Indonesia.

Saat dihubungi CNNIndonesia.com, Shopee menyatakan pihaknya tidak melarang penjualan obat covid-19. Namun, mereka tak menampik sudah menurunkan lebih dari 500 produk kesehatan dari marketplace mereka.


Kepala Kebijakan Publik Shopee Indonesia Radityo Triatmojo menyebut ratusan produk yang diturunkan tersebut berasal dari 2 kategori. Pertama, obat dijual dengan harga melebihi HET yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.01.07/MENKES/4826/2021 Tentang Harga Eceran Tertinggi (HET) Obat Dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease.

Kedua, Shopee juga menurunkan kategori obat-obatan yang dilarang untuk diperjualbelikan secara bebas tanpa resep dokter.

Radityo menambahkan tim internal Shopee terus memantau dan mengawasi produk-produk kesehatan, terutama yang berkaitan dengan penanganan covid-19.

Obat sama juga tidak ditemukan di Tokopedia. Deretan obat seperti azithromycin, favipiravir, remdesivir, hingga oseltamivir kosong di lapak daring.

[Gambas:Video CNN]

Sedangkan, ivermectin yang masih dijual hanya untuk pemakaian anjing atau injeksi 1 persen (ivervet).

Padahal, pada beberapa hari lalu terpantau obat covid-19 tersebut masih dijual bebas di e-commerce dengan harga selangit.

CEO Tokopedia William Tanuwijaya menyebut pihaknya menetapkan kebijakan pengendalian harga obat dan kebutuhan terkait penanganan covid-19, sejalan dengan ketentuan HET 11 obat yang banyak digunakan selama pandemi. Artinya, para penjual nakal yang memasang harga tinggi ditindak oleh Tokopedia.

"Jika ada penjual yang terbukti melanggar, baik syarat dan ketentuan platform maupun hukum yang berlaku, Tokopedia berhak menindak tegas dengan melakukan pemeriksaan, penundaan atau penurunan konten, banned toko atau akun, serta tindakan lain sesuai prosedur," jelas William lewat keterangan.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan pemerintah berencana melakukan razia ke gudang-gudang obat covid-19 mulai Kamis (8/7).

Tindakan itu diambil lantaran harga obat di pasaran sudah melonjak naik dalam beberapa hari terakhir.

"Apabila dalam tiga hari ke depan kami masih mendapatkan harga-harga obat cukup tinggi atau terjadi kelangkaan, maka kami akan mengambil langkah-langkah tegas dengan merazia seluruh gudang-gudang mereka yang sudah kami identifikasikan keberadaannya," kata Luhut dalam jumpa pers daring, Senin (5/7).

Dia menyebut harga jual sejumlah obat-obatan sudah meroket. Luhut mencontohkan harga Ivermectin yang semula di bawah Rp10 ribu, sempat sudah dijual puluhan ribu rupiah.

Luhut menyampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sudah membuat ketentuan harga eceran obat-obatan Covid-19. Dia meminta produsen dan penjual obat mengikuti ketentuan itu.

(wel/agt)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER