Sahabat Kenang Ekonom Orde Baru Christianto Wibisono

CNN Indonesia | Kamis, 22/07/2021 21:38 WIB
Ekonom Indef Didik J Rachbini mengenang salah satu sahabatnya, Christianto Wibisono (CW), yang wafat pada Kamis (22/7). Ekonom Indef Didik J Rachbini mengenang salah satu sahabatnya, Christianto Wibisono (CW), yang wafat pada Kamis (22/7). (Detikcom/Dikhy Sasra).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini mengenang salah satu sahabatnya, Christianto Wibisono (CW), yang wafat pada Kamis (22/7).

"Covid-19 tidak kenal ampun menyerang siapa saja. Yang sehat dan kuat pada umumnya tahan menghadapi serbuan covid-19 ini. Tetapi yang kebetulan pertahanan tubuhnya lemah, maka resikonya besar. Resiko itu kini ditanggung oleh sahabat senior saya, tokoh Angkatan 66, Christianto Wibisono," ujar Didik dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (22/7).

Didik mengungkapkan Christianto adalah seorang ahli ekonomi politik yang sangat rajin menulis buku dan kritis menuangkan tulisan di media baru. Christianto dikenal sebagai salah satu pakar ekonomi papan atas pada masa Orde Baru bersama nama-nama besar di antaranya Soemitro Djojohadikumo, Sjahrir, dam The Kian Wie.


"Nama CW diakui termasuk dalam klub 25 ekonom tersebut dan berperan sebagai analis bidang bisnis dan ekonomi politik, meskipun lulus dari Fakultas Ilmu Sosial Politik UI, bukan fakultas ekonomi," ujarnya.

Saat pembicaraan politik dibatasi pada masa Orde Baru, Christianto mendirikan think tank Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI). Lembaga tersebut tidak hanya menyediakan data bisnis tetapi juga seminar yang berbobot.

Pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Didik dan Christianto menjadi anggota Komite Ekonomi Nasional.

"Jadi, sepanjang hidupnya CW terus produktif dan tak kenal lelang mendedikasikan dirinya sebagai cendekiawan, pemikir, dan terus menulis buku," kata Didik.

Bulan lalu, pria yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina ini mengaku masih berkomunikasi dengan Christianto yang mengirimkan buku setebal 362 halaman berjudul 'Kencan Dinasti Menteng'.

Menurut Didik, buku itu sangat menarik karena menceritakan penguasa negeri yang bergulir dari elit ke elit yang tinggal di kawasan strategis dan mahal, seperti Menteng, Jakarta Pusat. Buku itu ibarat sindiran kepada elitisme politik dan perlunya pemimpin yang lebih merakyat.

"Sampai beliau wafat, saya tidak pernah mendiskusikan buku ini, kecuali di beberapa bagian pemikirannya di group WA anggota KEN masa SBY (2009-2014) di mana kami berdua ada di situ," pungkasnya.

Sebagai informasi, Christianto meninggal di usia ke 76 tahun. Ia aktif menulis buku di antaranya 'Ke arah Indonesia Incorporated' dan 'Wawancara imajiner dengan Bung Karno'. Pada 2019 lalu, Christianto sempat bergabung dengan PSI untuk menjadi caleg.

[Gambas:Video CNN]



(sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK