Rupiah Menguat ke Rp14.487 di Tengah Kenaikan Covid

CNN Indonesia | Rabu, 28/07/2021 16:11 WIB
Rupiah menguat 0,03 persen ke level Rp14.487 per dolar AS pada Rabu (28/7) sore. Penguatan terjadi di tengah kekhawatiran pasar atas kenaikan kasus corona. Rupiah menguat 0,03 persen ke level Rp14.487 per dolar AS pada Rabu (28/7) sore. Penguatan terjadi di tengah kekhawatiran pasar atas kenaikan kasus corona. Ilustrasi. (CNNIndonesia.com/ Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah bertengger di posisi Rp14.487 per dolar AS pada Rabu (28/7). Posisi tersebut menguat 0,03 persen dibandingkan perdagangan Selasa (27/7) sore di level Rp14.492 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.498 per dolar AS, atau melemah dibandingkan posisi hari sebelumnya yakni Rp14.489 per dolar AS.

Sore ini, rupiah kompak menguat bersama mayoritas mata uang di kawasan Asia lainnya. Kondisi ini ditunjukkan oleh dolar Singapura menguat 0,05 persen, dolar Taiwan menguat 0,27 persen, peso Filipina menguat 0,03 persen, rupee India menguat 0,11 persen, yuan China menguat 0,13 persen, bath Thailand menguat 0,14 persen.


Sementara, ringgit Malaysia melemah 0,06 persen, yen Jepang melemah 0,14 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,37 persen.

Serupa itu, mata uang di negara bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Tercatat, poundsterling Inggris melemah 0,04 persen, dolar Australia melemah 0,2 persen, dolar Kanada menguat 0,2 persen, dan franc Swiss menguat 0,03 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar sedang menanti hasil rapat The Fed terkait kebijakan suku bunga acuan. Hal ini akan mempengaruhi sikap pasar terhadap investasi berisiko, seperti dolar AS.

[Gambas:Video CNN]

Selain itu, pergerakan mata uang hari ini juga dipengaruhi keputusan IMF yang tetap mempertahankan proyeksi ekonomi global sebesar 6 persen pada 2021. Lembaga itu juga menaikkan proyeksi ekonomi AS.

"Namun IMF memangkas prediksinya untuk negara-negara lain yang menghadapi lonjakan jumlah kasus covid-19," ungkap Ibrahim dalam risetnya.

Dari internal, pelaku pasar masih mewaspadai kenaikan kasus covid-19. Pasar juga akan melihat dampak dari penerapan PPKM level 4 hingga 2 Agustus 2021 mendatang.

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK