PT Pos Sebut Pedagang Lebih Suka Jualan di Medsos

CNN Indonesia | Rabu, 28/07/2021 23:45 WIB
PT Pos Indonesia menyebut sekarang ini aktivitas jual beli di kalangan masyarakat telah bergeser dari marketplace ke medsos ketimbang marketplace. PT Pos Indonesia menyebut sekarang ini aktivitas jual beli di kalangan masyarakat telah bergeser dari marketplace ke medsos ketimbang marketplace. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Faizal Rochmad mengatakan terjadi pergeseran aktivitas jual beli di kalangan masyarakat saat ini. Transaksi kini lebih banyak di media sosial dibandingkan marketplace.

"Terjadi pergeseran market place digeser media sosial," ungkap Faizal dalam Indonesia Industry Outlook 2nd Semester 2021, Rabu (28/7).

Ia menjelaskan pergeseran kemungkinan terjadi karena masyarakat lebih suka transaksi di media sosial. Pasalnya, transaksi di media sosial lebih memudahkan konsumen untuk memilih ekspedisi.


Kemudahan ini berbeda jika dibandingkan kalau transaksi dilakukan melalui marketplace yang sudah ditentukan ekspedisinya sejak awal.

"Jadi banyak pedagang mulai campaign di media sosial," imbuh dia.

Faizal mengatakan keleluasaan memilih jenis ekspedisi ini lebih disukai masyarakat. Pasalnya, mereka bisa memilih ekspedisi apa yang sesuai dengan kebutuhan.

"Kenapa media sosial lebih tren, karena bisa pilih kurir paling tepat. Kalau marketplace tidak bisa memilih, kurir ditentukan," jelas Faizal.

[Gambas:Video CNN]

Saat ini, Faizal menyatakan ada 500 ekspedisi atau jasa kurir di Indonesia. Ratusan perusahaan menawarkan berbagai layanan, seperti satu hari sampai dalam waktu tiga jam, satu hari sampai dalam waktu enam sampai 12 jam, atau sampai pada keesokan harinya.

"Sekarang ketepatan waktu yang dijanjikan kurir itu penting. Akurasi waktu, customer lebih suka itu," jelasnya.

Bahkan, konsumen saat ini tak lagi melihat ekspedisi dari mereknya. Mereka lebih mementingkan jenis layanan yang sesuai dengan kebutuhan.

"Banyak, penyelenggara mencapai 500 dan brand tidak penting. Hanya beberapa brand yang diingat konsumen sesuai dengan kepentingannya," pungkas Faizal.

(wel/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK