Bukalapak Optimistis Mampu Bersaing Usai Melantai di Bursa

CNN Indonesia | Jumat, 09/07/2021 14:14 WIB
Dirut PT Bukalapak.com Rachmat Kaimuddin menilai peluang untuk tumbuh lebih besar masih terbuka lebar karena pengguna layanan e-commerce belum merata. Dirut PT Bukalapak.com Rachmat Kaimuddin menilai peluang untuk tumbuh lebih besar masih terbuka lebar karena pengguna layanan e-commerce belum merata. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama PT Bukalapak.com Rachmat Kaimuddin optimistis perusahaan dapat bersaing dengan e-commerce lain usai melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ia mengatakan peluang untuk dapat tumbuh lebih besar masih terbuka lebar karena belum meratanya pengguna layanan e-commerce di Indonesia.

Berdasarkan catatannya, 70 persen nilai transaksi e-commerce selama ini hanya berasal dari 5 kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan Semarang.


Padahal, jumlah penduduk di kota-kota tersebut hanya 10 persen dari total penduduk Indonesia. Artinya, 90 persen penduduk lainnya baru berkontribusi 30 persen dari nilai transaksi di e-commerce.

"Kalau dilihat secara per kapita, perbandingan antara nilai transaksi penduduk kota besar dan di luar kota besar adalah 20 banding 1. Artinya, banyak anggota masyarakat di luar kota besar yang belum terlayani oleh e-commerce secara optimal," ujarnya dalam public expose Bukalapak, Jumat (9/7).

Rachmat menuturkan Bukalapak sendiri berhasil meningkatkan nilai transaksi sebesar 3 kali lipat yaitu dari Rp28 triliun menjadi Rp85 triliun selama periode 2018 hingga 2020.

"Pendapatan kami pun terus bertambah 4,6 kali lipat dari Rp290 miliar rupiah menjadi Rp1,35 triliun atau tumbuh 114 persen secara rata-rata per tahun," tuturnya.

Ia juga menegaskan selama ini Bukalapak juga berusaha menepis anggapan umum yang menyatakan perusahaan harus bakar uang lebih banyak jika ingin tumbuh lebih besar.

Ia mencontohkan ketika nilai transaksi dan pendapatan Bukalapak terus tumbuh di 2020 pada saat bersamaan posisi EBITDA juga membaik dari minus Rp2,9 triliun menjadi minus Rp1,67 triliun.

"Artinya ada perbaikan lebih dari Rp1 triliun. Kami berusaha agar tren ini terus berlanjut sehingga kami dapat menjadi perusahaan yang menguntungkan dan berkelanjutan di masa depan," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK