KPPU Temukan Apotek Jual Obat Penanganan Corona di Atas HET

CNN Indonesia | Jumat, 30/07/2021 18:46 WIB
KPPU menemukan harga obat untuk menangani pasien covid-19 yang dijual di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, hingga Sumatra Utara berada di atas HET. KPPU menemukan harga obat untuk menangani pasien covid-19 yang dijual di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, hingga Sumatra Utara berada di atas HET.(iStock/FatCamera).
Jakarta, CNN Indonesia --

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan harga obat untuk menangani pasien covid-19 yang dijual di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, hingga Sumatra Utara berada di atas harga eceran tertinggi (HET).

Ketua KPPU Kanwil III Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten Aru Armando menjelaskan terdapat satu apotek di Jawa Barat yang menjual harga obat covid-19 di atas HET yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

Ia menemukan harga obat azithromycin generik di apotek tersebut lebih tinggi 29,4 persen dari HET. Aru menduga perbedaan harga ini karena apotek menawarkan obat jenis paten.


"Ketidaksesuaian harga pun dapat disebabkan karena apotek menawarkan obat covid-19 azithromycin jenis paten yang harganya lebih tinggi daripada obat generik yang HET nya ditetapkan pemerintah," ungkap Aru dalam konferensi pers, Jumat (30/7).

Selain itu, terdapat beberapa marketplace yang menjual obat di atas HET. Ivermectin misalnya, salah satu apotek di Jawa Barat menjual dengan harga Rp505.500 per 10 butir.

Artinya, satu butir ivermectin dijual sekitar Rp50.550 per butir. Sementara, HET ivermectin ditetapkan sebesar Rp7.500 per butir.

Lalu, obat remeva 100 mg injeksi dijual dengan harga Rp600 ribu di Bandung. Angkanya lebih tinggi dari HET yang sebesar Rp510 ribu.

Selanjutnya, KPPU menyebut tak ada apotek di DKI Jakarta yang menjual obat covid-19 di atas HET. Namun, beberapa marketplace menyediakan obat covid-19 di Jakarta dengan harga di atas HET.

Beberapa obat tersebut, antara lain favipiravir 200 mg yang berkisar Rp55 ribu-Rp80 ribu per butir. Sementara, HET obat tersebut hanya Rp22.500 per tablet.

Lalu, remdesivir dijual Rp2,2 juta, jauh di atas HET yang hanya Rp510 ribu per vial. Kemudian, oseltamivir 75 mg dijual Rp50 ribu-Rp76 ribu per kapsul, sedangkan HET nya sebesar Rp26 ribu.

Di Banten, harga obat di apotek sesuai dengan HET. Namun, terdapat marketplace yang menjual azithromycin 500 mg sebesar Rp14.600 per tablet, atau lebih tinggi dari HET yang hanya Rp1.700 per tablet.

"Tapi toko (marketplace) sudah menghilang," imbuh Aru.

Lonjakan harga di marketplace juga terjadi untuk pasokan obat covid-19 di Sumatra Utara. Berdasarkan temuan KPPU Wilayah 1 Medan, obat azithromycin dijual Rp26 ribu per tablet dan Rp79 ribu per strip.

Beberapa apotek di Sumatra Utara juga menjual obat azithromycin di atas HET Rp1.700 per tablet. Ada empat apotek yang menjual harga sebesar Rp5.500 per tablet, Rp4.500 per tablet, Rp5.00 per tablet, dan Rp6.000 per tablet.

Dalam kesempatan yang sama, Komisioner KPPU Ukay Karyadi menambahkan pemerintah perlu melakukan reformulasi HET untuk menyesuaikan margin yang wajar bagi pelaku farmasi ritel.

"Lalu memberlakukan HET dengan menyediakan insentif antara lain berupa subsidi untuk menutup sebagian biaya distribusi," ucap Ukay.

[Gambas:Video CNN]



(aud/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK