Survei WCY 2021: Daya Saing Indonesia Naik ke Peringkat 37

Universitas Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 19/08/2021 20:24 WIB
Berdasarkan survei World Competitiveness Yearbook (WCY) 2021 yang dilakukan IMD, daya saing Indonesia berada di peringkat ke 37 dari total 64 negara. Managing Director LM FEB Universitas Indonesia, Willem Makaliwe. (Arsip Universitas Indonesia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Berdasarkan survei World Competitiveness Yearbook (WCY) 2021 yang dilakukan IMD, daya saing Indonesia berada di peringkat ke 37 dari total 64 negara. Survei terbaru ini menunjukkan adanya peningkatan peringkat Indonesia dari posisi tahun lalu yang ada di peringkat 40.

"Di tengah pandemi yang melanda dunia, peringkat Indonesia di 2021 sedikit mengalami peningkatan dari posisi tahun 2019 di peringkat 40," kata Managing Director LM FEB Universitas Indonesia, Willem Makaliwe.

Walaupun secara total peringkat Indonesia mengalami peningkatan, namun pada peringkat di negara Asia Pasific, Indonesia tetap berada pada posisi 11 dari 14 negara, di atas India dan Filipina.


"Bisa dipahami bahwa peningkatan peringkat Indonesia bukan sepenuhnya disebabkan oleh peningkatan daya saing nasional tetapi juga penurunan daya saing negara lain terutama akibat pandemi Covid-19," ujar Willem.

Willem menjelaskan, peningkatan peringkat Indonesia terlihat pada komponen efisiensi bisnis dan pemerintahan. Peringkat efisiensi pemerintahan mengalami kenaikan dari posisi 31 pada 2020 menjadi 26 di tahun ini.

"Kenaikan peringkat pada komponen ini didukung oleh faktor kebijakan keuangan publik cukup efektif merespon kondisi pandemi," kata Willem.

Senior Researcher LM FEB UI, Arza menambahkan, hasil penilaian peringkat tersebut didasarkan pada analisis data-data kinerja perekonomian Indonesia sampai dengan tahun 2020 serta penilaian para pelaku usaha terkait persepsi kondisi lingkungan bisnis yang dihadapi.

Kegiatan survei di Indonesia dilakukan oleh Lembaga Management FEB UI yang bertindak sebagai mitra IMD di Indonesia sekitar lima tahun terakhir bersama dengan Nu PMK.

"Metode penilaian daya saing didasarkan dari penilaian 4 (empat) komponen utama meliputi Kinerja Perekonomian, Efisiensi Pemerintahan, Efisiensi Bisnis, dan Infrastruktur," tambah Arza.

Sementara komponen efisiensi bisnis mengalami peningkatan dari peringkat 31 di tahun 2020 menjadi 25 di tahun 2021 disebabkan oleh optimisme untuk transformasi bisnis ke depan.

Menurut Head of Research and Consulting LM FEBUI, Bayuadi Wibowo, Indonesia mengalami penurunan peringkat pada dua komponen utama, yakni kinerja perekonomian dan infrastruktur. Peringkat kinerja perekonomian Indonesia di tahun 2021 berada pada posisi 35, menurun dibandingkan tahun 2020 di posisi 26.

"Penurunan peringkat tersebut didorong oleh kondisi ketenagakerjaan, perdagangan internasional, dan tingkat harga domestik", ujar Bayu.

Peringkat infrastruktur Indonesia juga beranjak dari posisi 55 di tahun 2020 menjadi posisi 57 di tahun 2021. Menurut Bayu, hal tersebut disebabkan oleh faktor kesiapan infrastruktur kesehatan dan Pendidikan dalam menghadapi pandemi.

Menurut Taufiq Nur, Senior Researcher LM FEB UI, aspek yang menjadi kekuatan pada komponen Kinerja Perekonomian meliputi: pertumbuhan PDB, serta kestabilan harga BBM, pertumbuhan investasi. Sedangkan kelemahan pada aspek tersebut terdapat pada rendahnya PDB per kapita, rasio perdagangan terhadap PDB, serta ekspor jasa.

Pada komponen efisiensi pemerintahan, aspek yang menjadi faktor kekuatan meliputi penerimaan pajak dan efektivitas APBN, sedangkan kelemahannya terdapat pada prosedur memulai bisnis dan rasio cadangan mata uang asing per kapita.

"Pada komponen efisiensi bisnis, faktor yang menjadi kekuatan adalah pada pertumbuhan angkatan kerja, remunerasi professional, serta akses pada layanan keuangan sedangkan kelemahannya ada pada tingkat produktivitas tenaga kerja yang masih rendah," ucap Taufiq.

Bayuadi menambahkan untuk penilaian komponen infrastruktur, faktor yang menjadi kekuatan adalah komponen biaya telekomunikasi seluler dan rasio pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).

"Sedangkan kelemahannya ada pada rendahnya jumlah paten yang dihasilkan, belum tersebarnya fasilitas layanan kesehatan, rasio pengguna komputer, dan pengeluaran untuk kesehatan," pungkas Bayu.

(osc)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK