TAIPAN

Pham Nhat Vuong, dari Mi Instan Jadi Raja Properti Vietnam

sfr, CNN Indonesia | Minggu, 19/09/2021 09:20 WIB
Pham Nhat Vuong adalah orang terkaya di Vietnam. Kesuksesannya berawal dari usaha mi instan di Ukraina. Berikut kisahnya. Pham Nhat Vuong adalah orang terkaya di Vietnam. Kesuksesannya berawal dari usaha mi instan di Ukraina. (CNNIndonesia/Astari Kusumawardhani).
Jakarta, CNN Indonesia --

Jika Amerika Serikat punya Donald Trump, Vietnam punya Pham Nhat Vuong. Lewat VinGroup, Pham menjadi raja properti sekaligus orang terkaya di Negeri Naga Biru.

Per Kamis (16/9), data Real Time Billionaires versi Forbes mencatat harta Pham mencapai US$6,9 miliar atau sekitar Rp98,16 triliun (asumsi kurs Rp14.227 per dolar AS). Dengan kekayaan tersebut, Pham menduduki peringkat ke-410.

Dilansir dari berbagai sumber, pria kelahiran 5 Agustus 1968 itu berasal dari keluarga sederhana. Ia lahir saat Perang Vietnam masih berlangsung.


Ayah Pham mengabdi sebagai prajurit angkatan udara Vietnam Utara dan ibunya mengelola sebuah kedai teh. Orang tuanya memberi nama "Pham" yang berarti "kemakmuran".

Masa kecil Pham dihabiskan di Hanoi. Saat itu, Vietnam masih berusaha bangkit usai perang. Kondisi ekonomi hancur dan kemiskinan merajalela.

"Mimpi saya waktu itu tidak besar. Saya hanya ingin membantu keluarga saya," ujar Pham dalam salah satu wawancara dengan Forbes pada 2013.

Selepas lulus SMA pada 1985, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Pertambangan dan Geologi Hanoi. Berkat otaknya yang cemerlang, ia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Moscow Geological Prospecting Institute (MGPI), Rusia.

Setelah lulus dari MGPI, Pham tak langsung kembali ke tanah kelahirannya. Ia melihat peluang dari ambruknya Soviet. Ia lantas meminjam US$10 ribu ke kerabat untuk berusaha di negeri orang.

Bersama istrinya, Pham Tu Huong, ia mendirikan restoran di Ukraina dengan menu andalan mi. Tak berapa lama, ia merintis bisnis mi instan pertama yang kemudian populer. Mesin pembuat mi ia datangkan langsung dari Vietnam.

Untuk mengembangkan skala usahanya ia terpaksa meminjam uang dari rentenir dengan bunga 8 persen setahun. Ia tak takut karena yakin permintaan mi instan tinggi mengingat warga Ukraina kala itu banyak yang miskin.

Pada 1993, ia mendirikan Technocom yang memproduksi camilan kering di Ukraina. Selama bertahun-tahun, bisnisnya menjadi pemimpin pasar di Ukraina. Penghasilannya ia sisihkan untuk mendirikan usaha properti di Vietnam, yang menjadi pijakan kesuksesannya kelak.

Kembali ke Vietnam

Satu dekade merantau di negeri orang, Pham memutuskan untuk kembali ke Vietnam dan membesarkan usaha propertinya.

Proyek pertama Pham adalah Vinpearl Resort Nha Trang dan VinCom Citi Tower di pusat kota Hanoi. Ia sukses membuka Vinpearl pada 2003 dan Vincom pada 2004. Selang tiga tahun, ia mendirikan VinGroup yang menjadi induk kerajaan bisnisnya.

Ia lalu memutuskan untuk fokus berbisnis properti di Vietnam dengan menjual Technocom ke Nestle senilai US$150 juta pada 2010.

VinGroup sukses menjadi perusahaan pengembang properti nomor satu di Vietnam. Saat bisnis real estat anjlok pada 2011, Pham terus mengembangkan sejumlah kawasan terintegrasi di ibu kota. Beberapa yang terkenal adalah Vincom Center dan Vincom Village.

Di tangan Pham, VinGroup mengembangkan sayap dengan mendirikan berbagai anak usaha yang bergerak di bidang ritel, kesehatan, teknologi hingga otomotif.

Bahkan, pada pertengahan tahun ini, VinFast, perusahaan otomotif yang bernaung di bawah VinGroup mengumumkan akan merambah pasar mobil listrik di Amerika Utara dan Eropa. Mobil listrik yang akan diluncurkan pada Oktober itu siap bersaing dengan Tesla, yang lebih dulu merajai pasar. 

Semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya. Karena kesuksesan Pham berawal dari bisnis di Rusia, ia kerap mendapat gosip yang tak sedap. Misalnya, ia dikabarkan memiliki koneksi dengan mafia Rusia. Beberapa kali beredar kabar ia meninggal dunia karena ditembak oleh mafia Moskow.

Namun, ia menanggapi rumor tersebut dengan santai. Ia memilih untuk tetap fokus menjalankan bisnisnya. Ia bermimpi bisa menjadikan Hanoi sebagai pusat bisnis layaknya Hong Kong dan Singapura.

Saat ini, Pham tinggal bersama seorang istri dan tiga orang anaknya di Hanoi. Pada Desember 2020, Pham dan istrinya mendirikan Yayasan VinFuture yang menyediakan US$4,5 juta untuk pengembangan teknologi dan keilmuan.

[Gambas:Video CNN]



(age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK