Takut Ketularan Evergrande, Chinese Estates Bakal Go Private

Christine Novita Nababan | CNN Indonesia
Jumat, 08 Oct 2021 07:54 WIB
Chinese Estates Holdings, pengembang properti Hong Kong, mengubah status perusahaan jadi tertutup atau go private karena khawatir dampak Evergrande. Chinese Estates Holdings, pengembang properti Hong Kong, mengubah status perusahaan jadi tertutup atau go private karena khawatir dampak Evergrande. (AFP/Peter Parks).
Jakarta, CNN Indonesia --

Chinese Estates Holdings, pengembang properti Hong Kong, akan go private atau mengubah status perusahaan dari terbuka menjadi tertutup. Artinya, saham Chinese Estates tidak bakal diperdagangkan lagi di pasar modal setempat.

Dilansir CNN Business, Jumat (8/10), rencana go private Chinese Estates Holdings dikarenakan saham perusahaan rontok akibat krisis utang perusahaan sejawatnya, Evergrande.

Perusahaan mencatat sahamnya rontok 44 persen pada tahun ini, level terendah dalam hampir dua dekade. Chinese Estates sendiri merupakan pemegang saham terbesar kedua Evergrande, setelah Xu Jiayin alias Hui Ka Yan, pendiri dan ketua Evergrande.


"Kami berhati-hati dan prihatin dengan perkembangan terakhir China Evergrande Group, termasuk pada likuiditasnya," terang Chinese Estates Holdings dalam keterangan resmi kepada bursa saham Hong Kong.

Chinese Estates Holdings menawarkan membayar pemegang saham minoritas mereka sebesar 1,91 miliar dolar Hong Kong atau setara US$245 juta untuk 25 persen saham perusahaan yang beredar.

Perusahaan yang dikendalikan oleh miliarder Hong Kong Joseph Lau dan istrinya, Chan Hoi-wan, diketahui menjadi sekutu lama Evergrande.

Mereka kerap menawarkan dukungan keuangan kepada pengembang properti China dengan berlangganan banyak surat utang (obligasi), saat Evergrande menjadi perusahaan tercatat di bursa saham Hong Kong.

Tidak cuma itu, Chinese Estates Holdings juga bekerja sama dengan Evergrande menggarap proyek-proyek properti di daratan China.

Tahun lalu, sepertiga aset Chinese Estates Holdings merupakan kepemilikan obligasi dan saham di Evergrande. Nah, ketika saham Evergrande terjun bebas, Chinese Estates Holdings pun rugi besar.

23 September 2021 lalu, Chinese Estates Holdings mengaku telah menjual saham Evergrande hingga US$32 juta dalam tiga pekan terakhir. Perusahaan berencana melepas sisa saham yang dikantonginya.

Diperkirakan, kerugian akibat kejatuhan saham Evergrande mencapai 10,4 miliar Hong Kong atau sekitar US$1,3 miliar.

Krisis utang Evergrande telah meresahkan banyak investor global sebulan terakhir ini dan meningkatkan kekhawatiran pasar akan potensi atau efek domino pasar keuangan China.

Awal pekan ini, pengembang properti China lainnya, Fantasia Holdings juga gagal bayar utang. Fantasia Holdings memang tidak sebesar Evergrande. Namun, tetap saja, pengembang kecil bergulat dengan kenaikan imbal hasil obligasi, pendanaan yang mengering, dan rontoknya penjualan properti di tengah pandemi.

Tekanan sektor properti China diketahui meningkat sejak Agustus 2020, ketika pemerintah setempat membatasi pinjaman.

[Gambas:Video CNN]



(bir/bir)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER