Digitalisasi, 'Obat' UMKM Sembuh dari 'Infeksi' Pandemi

Agus Triyono | CNN Indonesia
Minggu, 24 Okt 2021 18:12 WIB
Digitalisasi, 'Obat' UMKM Sembuh dari 'Infeksi' Pandemi
Upaya digitalisasi UMKM terganjal literasi digital rendah dan infrastruktur internet. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru).

Meskipun sudah melakukan berbagai upaya, Christina mengakui menggenjot UMKM masuk ke ekosistem digital masih memiliki banyak hambatan. Salah satunya, dari tingkat literasi digital masyarakat Indonesia yang masih rendah.

Hasil survei World Digital Competitiveness 2019 menunjukkan posisi peringkat literasi digital Indonesia masih berada di posisi 56 dari 63 negara. Posisi itu, kalah jauh jika dibandingkan dengan Thailand yang berada di posisi 40, Malaysia 26 dan Singapura yang di posisi 2 dunia.

Literasi rendah itu berbanding terbalik jika dibandingkan dengan potensi kekuatan ekonomi digital Indonesia. Ia mengatakan pada 2020 kemarin, potensi ekonomi digital Indonesia tembus US$44 miliar atau Rp626,155 triliun (Kurs Rp14.230 per dolar AS).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi ini sangat disayangkan," katanya.

Ia menambahkan untuk mengatasi masalah itu, Kementerian Koperasi dan UKM sudah menggandeng sejumlah pihak, seperti Google, MikroMaju yang merupakan program CSR Telkomsel dan influencer untuk melakukan pelatihan soal literasi digital. 

Peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) Noor Halimah Anjani dalam pernyataannya beberapa waktu lalu mengatakan digitalisasi ekonomi Indonesia juga terganjal keterbatasan infrastruktur internet.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2019, masih ada 5.972 dari total 83.820 desa di Indonesia yang tidak terjangkau sinyal ponsel. Tak hanya itu, ada juga 19.771 desa lainnya yang jangkauan sinyal ponselnya lemah.

Sedangkan data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai 73 persen di 2020 kemarin. Sayangnya 56 persen dari total penetrasi itu masih terkonsentrasi di Jawa. Sementara itu di luar Jawa, penetrasi internet masih timpang.

Ia meminta pemerintah untuk segera mengatasi kendala itu.

(asa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Berat, begitulah yang dialami CEO sekaligus Founder SOVLO Indonesia Lidya Valensia saat virus corona masuk ke Indonesia Maret 2020 lalu. Pelan namun pasti, virus mulai ikut 'menginfeksi' usaha suvernir lokal yang dirintisnya.

Itu tak lepas dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dijalankan pemerintah demi menghentikan penyebaran corona. Karena kebijakan itu, omset bisnis suvenir dan barang promosi perusahaan serta pernikahan yang dijalankannya anjlok sampai 70 persen.

Maklum, karena kebijakan itu, semua event dan pernikahan yang selama ini menjadi target pasarnya harus ditunda. Lidya bercerita, usahanya memang sempat mendapat 'nafas segar' dari order Alat Pelindung Diri (APD).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi, itu belum mampu mengimbangi penurunan omset usaha yang terjadi akibat 'infeksi' corona. Di saat itulah, pilihan berat; merumahkan karyawan, harus ia ambil.

"April itu kami parah sekali. Makanya dari 70 karyawan, 5 orang yang kami sempat rumahkan pada Mei, karena memang berat sekali," katanya kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Segendang sepenarian dengan Lidya, nasib sama menimpa pemilik pemilik brand batik, Garuda Kencana Batik Yos Christian Adiputra.

Yos mengatakan omsetnya anjlok sekitar 30 persen sampai 40 persen.

"Batik selama ini kan identik dengan kantor dan pesta. Karena PSBB, pesta dan kantor tidak ada, jadi ya turun, " kata Yos.

[Gambas:Video CNN]

Digitalisasi

Tak ingin terus tertekan, Lidya bergerak cepat. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada saat ini, mereka mengubah strategi jualan yang tadinya hanya dilakukan secara konvensional ke platform e-commerce.

Itu dilakukan seiring perubahan pola belanja masyarakat di era pandemi yang berubah dari sebelumnya ke mal, menjadi lebih banyak daring.

Perubahan juga dilakukan terkait kemudahan yang ditawarkan dalam berjualan lewat platform e-commerce. Lidya bercerita dalam berjualan lewat platform e commerce, semua serba otomatis dan digital.

Barang dagangannya juga bisa dilihat oleh siapa saja tanpa tersekat ruang dan waktu. Itu katanya, berbeda dengan pengalamannya saat berjualan dengan WA dan Instagram.

"Untungnya banyak banget. Dari saya pribadi, dulu kalau jualan dengan WA, Instagram, kita jawab manual, satu-satu, entah itu permintaan diskon, tawar menawar dan termasuk ketika kita mau mengirimkannya, kita harus survei ongkos kirimnya berapa dan lain sebagainya karena semua belum otomatis. Itu beda dengan yang sekarang," katanya.

Lidya mengatakan perubahan strategi itu mulai dijalankannya akhir Mei sampai awal Juni 2020.

"1 Juni kami launching di Tokopedia," katanya.

Perubahan strategi itu berhasil membantunya dalam memasarkan produk sehingga bisa bangkit dari keterpurukan. Pelan tapi pasti, omset usahanya berhasil naik kembali.

Meskipun belum bisa pulih dari tekanan corona 100 persen, perubahan strategi telah berhasil membuatnya mengembalikan mata pencaharian 5 orang karyawan yang sempat dirumahkannya di awal pandemi.

Perubahan strategi juga berhasil mendongkrak penjualan produknya lagi. Bahkan, karena perubahan strategi itu, kontribusi produknya terhadap penjualan grup usaha tempatnya bernaung, Lotus Group yang selama ini belum seberapa, naik jadi 40 persen.

Karena kesuksesan itulah, Sovlo melebarkan penjualan ke Shoppe. Kebangkitan sama juga dialami Yos. Perlahan namun pasti, omset penjualan batik yang sempat anjlok kembali menanjak.

Yos mengatakan usahanya berhasil lepas dari tekanan corona pada sekitar Agustus, September 2020 atau sekitar 5 bulan setelah corona masuk ke Indonesia.

"Untungnya kita kuat di online," katanya.

Asisten Deputi Penelitian dan Pengkajian Kementerian Koperasi dan UKM Christina Agustina mengatakan digitalisasi memang menjadi salah satu 'obat' ampuh pelaku UMKM sembuh dari 'infeksi' corona. Data yang dimiliki kementeriannya, selama pandemi jumlah UMKM yang masuk ke ekosistem digital meningkat dari 8 juta menjadi 15,9 juta.

Dengan kata lain, peningkatannya hampir mencapai 100 persen. 

"Hasil digitalisasi, bisnis UMKM yang sempat terpuruk, memang mampu bertahan," katanya dalam Webinar Forum Digital UMKM baru-baru ini. 

Atas dasar itulah, pemerintah dan kementeriannya saat ini terus meningkatkan upaya digitalisasi UMKM. Pemerintah menargetkan paling tidak pada 2024 mendatang, 30 juta UMKM sudah terhubung ke ekosistem digital.

Untuk bisa mewujudkan itu, pemerintah dan Kementerian Koperasi dan UKM telah melaksanakan beberapa upaya. Pertama, mendorong UMKM memasukkan produk mereka ke e-katalog pengadaan barang dan jasa pemerintah dan BUMN.

Dorongan diberikan karena potensi cuan bagi UMKM dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah besar. Data Kemenkop UKM, nilai pengadaan barang dan jasa pemerintah bagi pelaku UKM dan koperasi mencapai Rp478 triliun pada 2021 ini.

Di tengah potensi besar itu, jumlah UMKM yang ikut partisipasi dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah baru 405 ribu.

Kedua, memberikan pendampingan ke UMKM supaya kualitas, kapasitas dan kemasan produk mereka bisa ditingkatkan dan diminati pasar.

Ketiga, membantu membukakan pasar. Upaya itu salah satunya dilakukan dengan melaksanakan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia.

"Gerakan diharapkan bisa membuat jutaan UMKM yang tersambung ke berbagai e-commerce dapat stimulus berupa promosi dan akses pasar," katanya.

Keempat, kerja sama dengan Uniqlo untuk membantu UMKM memasarkan produk mereka.

Kelima, menggandeng 5 e-commerce besar di Indonesia; Blibli.com, Tokopedia, Shopee, Lazada dan Bukalapak serta Borongdong.id untuk membantu upaya tersebut.

Tokopedia selaku e-commerce yang diajak kerja sama oleh pemerintah menyatakan telah membantu UMKM supaya bisa masuk ekosistem digital. Bantuan diberikan dalam bentuk pendampingan dalam memasarkan produk mereka.

Pendampingan dilakukan dengan menyediakan pusat edukasi dan sekolah kilat seller, webinar, kelas online, serta media sosial Tokopedia Seller.

Tak hanya itu, AVP of Product Tokopedia Puput Hidayat mengatakan platformnya juga sudah membuat fitur-fitur yang mudah dipahami pelaku UMKM untuk memasarkan produk mereka. Fitur itu antara lain; voucher toko, top ads, bebas ongkir, dekorasi toko serta broadcast chat.

"Di lain pihak, kami juga melakukan banyak pendampingan baik dalam bentuk referensi di pusat edukasi seller atau di help center Tokopedia atau Tokopedia care," katanya seperti dikutip dari Antara beberapa waktu lalu.

Literasi Digital Rendah

Upaya digitalisasi UMKM terganjal literasi digital rendah dan infrastruktur internet. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru).

Meskipun sudah melakukan berbagai upaya, Christina mengakui menggenjot UMKM masuk ke ekosistem digital masih memiliki banyak hambatan. Salah satunya, dari tingkat literasi digital masyarakat Indonesia yang masih rendah.

Hasil survei World Digital Competitiveness 2019 menunjukkan posisi peringkat literasi digital Indonesia masih berada di posisi 56 dari 63 negara. Posisi itu, kalah jauh jika dibandingkan dengan Thailand yang berada di posisi 40, Malaysia 26 dan Singapura yang di posisi 2 dunia.

Literasi rendah itu berbanding terbalik jika dibandingkan dengan potensi kekuatan ekonomi digital Indonesia. Ia mengatakan pada 2020 kemarin, potensi ekonomi digital Indonesia tembus US$44 miliar atau Rp626,155 triliun (Kurs Rp14.230 per dolar AS).

"Jadi ini sangat disayangkan," katanya.

Ia menambahkan untuk mengatasi masalah itu, Kementerian Koperasi dan UKM sudah menggandeng sejumlah pihak, seperti Google, MikroMaju yang merupakan program CSR Telkomsel dan influencer untuk melakukan pelatihan soal literasi digital. 

Peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) Noor Halimah Anjani dalam pernyataannya beberapa waktu lalu mengatakan digitalisasi ekonomi Indonesia juga terganjal keterbatasan infrastruktur internet.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2019, masih ada 5.972 dari total 83.820 desa di Indonesia yang tidak terjangkau sinyal ponsel. Tak hanya itu, ada juga 19.771 desa lainnya yang jangkauan sinyal ponselnya lemah.

Sedangkan data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai 73 persen di 2020 kemarin. Sayangnya 56 persen dari total penetrasi itu masih terkonsentrasi di Jawa. Sementara itu di luar Jawa, penetrasi internet masih timpang.

Ia meminta pemerintah untuk segera mengatasi kendala itu.


HALAMAN:
1 2