Kredit UMKM Tumbuh 12,50 Persen, BRI Catat Kinerja Sehat dan Kuat

BRI | CNN Indonesia
Rabu, 27 Okt 2021 12:59 WIB
Salah satu penopang kinerja positif BRI, yakni penyaluran kredit UMKM yang tumbuh 12,50 persen yoy atau mencapai Rp848,60 triliun pada akhir September 2021. Direktur Utama BRI Sunarso menyebut, angka pertumbuhan 9,74 persen year on year (yoy) yang dicatat BRI lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit perbankan nasional sebesar 2,21 persen. (Arsip BRI).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berhasil mencatat kinerja yang sehat dan kuat hingga akhir kuartal III 2021. Sinyal positif kinerja konsolidasian BRI tercermin dari penyaluran kredit pada akhir September 2021 sebesar Rp1.026,42 triliun atau tumbuh 9,74 persen year on year (yoy).

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, angka pertumbuhan itu lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit perbankan nasional sebesar 2,21 persen. Hal itu dikatakan Sunarso dalam press conference Laporan Keuangan Triwulan III di Jakarta (27/10).

Sunarso mengungkapkan, salah satu faktor utama penopang pertumbuhan kredit konsolidasian BRI, yakni penyaluran kredit segmen UMKM yang tumbuh 12,50 persen yoy atau mencapai Rp848,60 triliun pada akhir September 2021. Capaian tersebut membuat proporsi kredit UMKM dibanding total kredit BRI pun meningkat dari semula 80,65 persen pada akhir September 2020 menjadi 82,67 persen pada akhir September 2021.

"Peningkatan penyaluran kredit UMKM yang sangat signifikan pada kuartal III 2021 tidak terlepas dari pembentukan sinergi holding Ultra Mikro bersama Pegadaian dan PNM, di samping pemulihan kondisi ekonomi akibat kian melandainya pandemi," ujar Sunarso.

Sunarso menjelaskan, apabila dirinci per segmen, penyaluran kredit mikro BRI tercatat Rp464,66 triliun, kredit konsumer sebesar Rp147,16 triliun, kredit kecil dan menengah Rp236,77 triliun, dan kredit korporasi Rp177,83 triliun.

BRI juga berhasil menjaga kualitas kredit yang disalurkan, dimana hal tersebut tercermin dari rasio NPL BRI yang manageable di kisaran 3,28 persen pada akhir kuartal III 2021 dengan NPL Coverage mencapai 252,94 persen.

Dari sisi liabilities, Dana Pihak Ketiga BRI berhasil tumbuh positif menjadi sebesar Rp1.135,31 triliun. Tabungan tercatat mendominasi DPK BRI dengan total mencapai Rp470,16 triliun, tumbuh 7,12 persen yoy. Proporsi dana murah (CASA) BRI pun terus merangkak naik, dimana pada akhir kuartal III 2021 tercatat 59,60 persen atau lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu yakni sebesar 59,02 persen.

"Keberhasilan perseroan dalam meningkatkan proporsi dana murah membuat biaya dana atau Cost of Fund (COF) BRI terus menurun, Hingga akhir September 2021 COF BRI tercatat 2,14 persen, lebih rendah dibandingkan COF BRI pada September 2020 sebesar 3,45 persen," imbuh Sunarso.

Solidnya kinerja BRI dari sisi penyaluran kredit dan pendanaan membuat aset perseroan terus tumbuh. Hingga akhir kuartal III tercatat aset BRI mencapai Rp1.619,77 triliun atau tumbuh 11,87 persen yoy. Sementara itu, laba BRI per September 2021 tercatat Rp19,07 triliun atau tumbuh 34,74 persen yoy.

"Ini merupakan buah dari hasil strategi BRI yang terus menekankan pada sustainability dan pencadangan pada saat kondisi ekonomi belum pulih sepenuhnya akibat pandemi," ujarnya.

BRISalah satu penopang kinerja positif BRI, yakni penyaluran kredit UMKM yang tumbuh 12,50 persen yoy atau mencapai Rp848,60 triliun pada akhir September 2021. (Arsip BRI).

Index Bisnis UMKM

Dalam kesempatan yang sama, Sunarso juga menyampaikan hasil riset Indeks Bisnis UMKM pada Kuartal III 2021. Melalui indeks ini, bisa diketahui kinerja pelaku UMKM pada kuartal tertentu, dan ekspektasi mereka dalam kurun waktu tiga bulan kedepan.

Hasil Survei Aktivitas Bisnis UMKM pada Q3 2021 tercatat menurun dibanding kuartal sebelumnya. Hal ini disebabkan gelombang kedua kasus Covid-19 pada periode Juni dan Juli lalu. Pemberlakuan PPKM Mikro Darurat juga menyebabkan aktivitas dan omset usaha menurun, sehingga mengakibatkan indikator kegiatan usaha lainnya seperti pemesanan dan persediaan barang input serta penggunaan tenaga kerja pun ikut merosot.

"Namun, pelaku UMKM kembali sangat optimis menyongsong Kuartal IV 2021 karena pandemi Covid semakin terkendali, disertai dengan relaksasi PPKM Mikro dan pembukaan kembali kegiatan usaha. Hal tersebut tergambar dalam ekspektasi Indeks Bisnis UMKM yang naik signifikan 49,8 persen ke level 132,0 (jauh di atas 100)," ujar Sunarso.

Dalam hasil riset ini juga menunjukkan fakta bahwa meskipun sangat terdampak pandemi, namun pelaku UMKM cukup kuat bertahan dan resilien terhadap krisis yang terjadi.

Tercatat hanya 20 persen pelaku UMKM yang pernah berhanti beroperasi selama periode pandemi, yakni pada Maret 2020 hingga September 2021. Sementara 80 persen UMKM terus mempertahankan dan menjalankan bisnisnya di tengah kondisi yang serba sulit.

(osc/osc)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER