Dirut BPJS Kesehatan Ungkap Pentingnya Tunjangan Sakit di Masa Pandemi

BPJS Kesehatan | CNN Indonesia
Kamis, 18 Nov 2021 19:15 WIB
Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti mengungkapkan kontribusi pihaknya dalam perkembangan jaminan sosial di tingkat internasional. Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti saat memimpin seminar internasional anggota ISSA bertemakan Sickness Benefits - Challenge and National Strategies. (Arsip BPJS Kesehatan).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti mengungkapkan kontribusi pihaknya dalam perkembangan jaminan sosial di tingkat internasional khususnya dalam menjawab tantangan di era setelah pandemi Covid-19.

Ghufron yang juga Ketua Komisi Kesehatan atau Technical Commission on Medical Care and Sickness Insurance International Social Security Association (ISSA) periode 2020-2022 itu menyebut, perlunya program jaminan sosial untuk mengembangkan tunjangan sakit atau sickness benefits. Terutama bagi negara yang terdampak pandemi Covid-19 seperti Indonesia.

"Tentunya, kebijakan dan skemanya perlu memperhatikan kemampuan keuangan negara," kata Ali Ghufron saat memimpin seminar internasional anggota ISSA bertemakan Sickness Benefits - Challenge and National Strategies, secara daring, Rabu (17/11).


Sickness benefit atau jaminan pendapatan saat sakit (tunjangan sakit) adalah sejumlah uang yang diterima secara teratur dari pemerintah ketika seseorang tidak dapat bekerja karena sakit.

Di Indonesia sendiri, kata dia, penerapan sickness benefit belum sepenuhnya diimplementasikan dan bergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan atau pemberi kerja.

Kehadiran negara dalam hal ini pada penerapan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) adalah melalui jaminan kesehatan yang dikelola oleh BPJS Kesehatan dan jaminan kecelakaan kerja yang dikelola oleh BPJS Ketenagakerjaan.

Ali menjelaskan pandemi Covid-19 menggambarkan perlunya sickness benefits, karena penyebaran virus Covid-19 mengancam kesehatan masyarakat.

Dia memberi contoh, pekerja yang tidak memiliki jaminan pendapatan selama sakit mungkin terpaksa bekerja saat sakit, sehingga kemungkinan akan menulari orang lain.

"Selain itu, tidak adanya jaminan pendapatan selama sakit menimbulkan risiko kemiskinan bagi pekerja dan keluarganya, dengan dampak ekonomi dan sosial yang berpotensi berlangsung lama," katanya.

Dia berharap, ke depan Indonesia dapat mengembangkan cakupan jaminan sosial melalui sickness benefits ini. Untuk itu, kata dia, penting bagi Indonesia untuk mempelajari skema sickness benefits yang telah diimplementasikan negara lain.

"Melalui keanggotaan ISSA ini, diharapkan Indonesia dapat bertukar pengetahuan dan berbagi pengalaman antar negara, dan segera menemukan skema yang ideal agar program jaminan sosial makin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat."

Selain BPJS Kesehatan, turut hadir dalam acara tersebut sebagai pembicara antara lain Social Security Development Branch ISSA, National Health Insurance Service (NHIS) Korea Selatan, The National Sickness Insurance Fund (CNAM) Perancis, Social Security Institution (SGK) Turki, dan European Social Observatoty (OSE).

Seperti diketahui, Ali Ghufron Mukti telah ditunjuk sebagai Ketua Komisi Kesehatan atau Technical Commission on Medical Care and Sickness Insurance International Social Security Association (ISSA) periode 2020-2022.

Lembaga tersebut beranggotakan 160 negara, aktif memimpin negara anggota ISSA dalam pembahasan pengelolaan jaminan sosial di dunia saat ini dan di masa mendatang.

(osc/osc)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER