Putusan OPEC+ Kerek Harga Minyak Dunia

Safyra Primadhyta | CNN Indonesia
Jumat, 03 Dec 2021 07:32 WIB
Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Kamis (2/12), waktu Amerika Serikat, usai OPEC+ memutuskan untuk tetap meningkatkan produksi minyak perlahan. Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Kamis (2/12), waktu Amerika Serikat, usai OPEC+ memutuskan untuk tetap meningkatkan produksi minyak perlahan. Ilustrasi. (iStock/bomboman).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia menguat lebih dari satu persen pada Kamis (2/12), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan terjadi usai Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) memutuskan untuk tetap meningkatkan produksi secara perlahan.

Dilansir Antara, Jumat (3/12), harga minyak mentah Brent menguat 1,2 persen ke US$69,67 per barel usai tertekan ke level US$65,72 per barel pada hari yang sama.

Kenaikan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) sebesar 1,4 persen ke US$66,5 per barel setelah sempat merosot ke US$62,43 per barel.


Pada Kamis lalu, OPEC+ mengambil keputusan yang cukup mengejutkan karena tetap mempertahankan rencana menambah produksi bulanan sebesar 400 ribu barel per hari (bph).

Keputusan itu menjadi sentimen pendorong harga minyak dunia setelah anjlok 24 persen selama tiga pekan terakhir. Tekanan harga minyak berasal dari penyebaran varian Omicron, pembatasan negara untuk mencegah infeksi, dan ekspektasi meningkatnya pasokan.

"Pasar baru saja mencerna begitu banyak berita," ujar Pedagang Energi Senior CIBC Private Wealth US Rebecca Babin.

OPEC+ memutuskan untuk meningkatkan pasokan pada Januari sejalan dengan bulan-bulan sebelumnya.

"Saya pikir keputusan OPEC mengirimkan sinyal kepercayaan bahwa mereka yakin aksi harga baru-baru ini telah berlebihan," kata Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn.

Pemerintah AS menyambut baik keputusan itu. Namun, Gedung Putih tidak memiliki rencana untuk mempertimbangkan kembali keputusan untuk melepaskan cadangan minyak mentah.

OPEC+ telah menambahkan 400.000 barel per hari ke targetnya. Namun, realisasinya jauh dari itu secara bulanan karena kurangnya investasi di beberapa industri minyak anggota.

Di AS, pemerintah setempat tidak berencana untuk menerapkan penguncian wilayah dalam memerangi penyebaran varian Omicron. Kendati demikian, para ahli memperkirakan kasus infeksi akan terus meningkat saat musim dingin. Hal ini membuat Menteri Keuangan AS Janet Yellen memperingatkan pertumbuhan ekonomi global bisa melambat.

Sementara itu, JP Morgan Global Equity Research meyakini harga minyak dunia masih berpeluang menanjak hingga menembus US$125 per barel tahun depan dan US$150 per barel pada 2023. Kenaikan harga minyak disebabkan oleh kurangnya kapasitas produksi OPEC+.

[Gambas:Video CNN]



(Antara/sfr)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER