Jokowi Ungkap 3 Beban Ekonomi RI di 2022

CNN Indonesia
Senin, 03 Jan 2022 10:11 WIB
Jokowi menyebut ekonomi RI pada tahun ini akan dibebani 3 'bandul' besar. Berikut rinciannya. Jokowi menyebut ekonomi dalam negeri pada tahun ini akan mendapatkan 3 beban berat. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo (Jokowi) membeberkan berbagai tantangan yang menjadi sentimen negatif bagi ekonomi RI tahun ini.

Pertama, penyebaran varian omicron covid-19. Kedua, kenaikan inflasi global, dampak spillover tapering off The Fed, dan kekurangan kontainer global.

Ketiga, kelangkaan sumber energi secara global juga bakal berdampak pada ekspor dan ekonomi Indonesia.


"Di 2022 meskipun kita tahu masih akan banyak tantangan yang kita hadapi, baik omicron, kenaikan inflasi, tapering off, kehilangan kontainer di mana-mana, negara-negara lain yang mengalami kelangkaan energi yang ini akan mengganggu ekspor kita," bebernya pada Pembukaan Perdagangan BEI 2022, Senin (3/1).

Kendati begitu, Jokowi mengklaim dengan kerja keras bersama, tantangan tersebut bakal bisa dilalui dengan baik. Ia optimis karena melihat berbagai indikator ekonomi Indonesia yang menunjukkan pemulihan.

Misalnya, neraca dagang Indonesia yang surplus US$34,4 miliar pada 2021 dan mencetak surplus selama 19 bulan berturut-turut.

"Belum pernah kita mengalami seperti ini, ekspor juga naik year on year 49,7 persen, impor juga naik, bahan baku, bahan penolong naik 52,6 persen," ujarnya.

Menurut Jokowi, ekspor Indonesia bisa melonjak signifikan dikarenakan penghentian ekspor bahan baku mentah, seperti bijih nikel. Karena menyetop bijih nikel, ia melihat lonjakan ekspor yang biasanya hanya US$1 miliar-US$2 miliar, kini menjadi US$20,8 miliar pada akhir 2021.

[Gambas:Video CNN]

Oleh karena itu, Jokowi mengaku bakal melanjutkan penyetopan bahan baku mentah minerba lainnya, seperti bauksit, tembaga, timah, dan sebagainya.

Selain itu, ia juga mencatat tren ekspansi Purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia yang berada di level 53 pada akhir 2021, lebih tinggi dari sebelum pandemi yang ada di level 51.

"Kemudian kalau kita lihat indikator konsumsi dan produksi juga menguat, Indeks Keyakinan Konsumen kalau dibandingkan Maret yang 113,8 November sudah 118,8 dan spending indeks juga sudah naik ke 120,5," tutup Jokowi.

(wel/agt)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER