Airlangga Optimis Inflasi Indonesia Tetap Terkendali pada 2022

Kemenko Perekonomian | CNN Indonesia
Selasa, 04 Jan 2022 09:55 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimis, permintaan domestik akan membaik, seiring aktivitas ekonomi yang akan semakin menggeliat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimis, permintaan domestik akan membaik, seiring aktivitas ekonomi yang akan semakin menggeliat. (dok. Kemenko Perekonomian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan bahwa sekalipun di tengah masa pandemi, laju inflasi Indonesia pada 2021 terkendali di level rendah dan stabil, serta berada di bawah kisaran target yang ditetapkan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, inflasi yang rendah dan stabil menjadi syarat pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Tahun ini, Indonesia mencatatkan realisasi inflasi sebesar 1,87 persen (year-on-year) atau naik sebesar 1,68 persen dari 2020.

"Pencapaian realisasi inflasi tahun 2021 didukung oleh inflasi volatile food (VF) yang masih terjaga di tengah peningkatan inflasi administered prices (AP) dan masih terbatasnya inflasi inti," kata Airlangga pada Senin (3/1).


Per bulan, inflasi Desember 2021 meningkat sesuai tren musiman dengan realisasi sebesar 0,57 persen (mtm), yang disebut Airlangga dipengaruhi oleh pergerakan seluruh komponen inflasi dan merupakan angka tertinggi sepanjang tahun 2021. Adapun komponen VF pada Desember 2021 mengalami inflasi 2,32 persen (mtm) atau 3,20 persen (yoy) dengan andil 0,38 persen.

Sejumlah komoditas VF yang dominan menyumbang terhadap inflasi Desember 2021 antara lain, cabai rawit, minyak goreng, telur ayam ras, daging ayam ras, dan cabai merah. Secara tahunan, inflasi VF terjaga sesuai rentang sasaran yang disepakati dalam High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Pusat (HLM TPIP) pada 11 Februari 2021, yakni dalam kisaran 3 persen sampai dengan 5 persen (yoy). Secara khusus, harga komoditas cabai rawit pada Desember 2021 meningkat sebesar 85,98 persen (mtm) dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,11 persen.

Airlangga memaparkan, kenaikan harga cabai rawit disebabkan produksi yang tak optimal akibat serangan hama patek di daerah Garut, banjir di Pontianak, serta berakhirnya masa panen di beberapa daerah sentra produksi cabai rawit. Sehingga pasokan jadi terbatas, berbarengan dengan peningkatan permintaan masyarakat dan pelonggaran PPKM di berbagai daerah.

Selain itu, komoditas lain yang juga berperan menyumbang inflasi nasional pada Desember lalu adalah minyak goreng. Sepanjang 2021, minyak goreng memberi andil inflasi umum sebesae 0,31 persen, di mana sejak Juli 2020 harga minyak goreng naik 46,32 persen. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (POHPS) menyebut, harga minyak goreng mencapai Rp19.900/liter per 31 Desember 2021.

"Kenaikan harga CPO saat ini memang berdampak terhadap konsumen, yaitu kenaikan harga minyak goreng sebagai salah satu turunannya. Namun di sisi lain juga memberikan insentif kepada kesejahteraan petani yang terlihat dari kenaikan Nilai Tukar Petani Perkebunan Rakyat (NTPR)," ujar Airlangga.

Di sisi lain, kebijakan pelonggaran PPKM turut mendorong peningkatan inflasi pada komponen AP sebesar 0,45 persen, yang terutama didorong dari tarif angkutan udara. Komoditas dalam komponen AP yang juga dominan menyumbang inflasi nasional, yakni aneka jenis rokok. Sepanjang 2021, rokok kretek filter dan rokok putih menyumbang andil terhadap inflasi nasional masing-masing sebesar 0,08 persen dan 0,04 persen. Kenaikan harga rokok kretek filter maupun jenis lainnya itu seiring kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) seperti diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 198/PMK.010/2020 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Sementara, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,16 persen (mtm) atau 1,56 persen (yoy) dengan andil 0,11 persen. Sepanjang 2021, komoditas komponen inti yang dominan terhadap inflasi nasional, yakni nasi dengan lauk yang memberi andil sebesar 0,05 persen. Menurut Airlangga, kenaikan harga nasi dengan lauk biasanya didorong adanya peningkatan harga beberapa komoditas VF.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, tingkat inflasi pada 2022 diperkirakan akan meningkat dibanding pencapaian tahun lalu. Permintaan domestik pun akan terus membaik, seiring geliat aktivitas ekonomi yang akan mendorong peningkatan inflasi.

Hingga saat ini, pemerintah ditegaskan terus berupaya mendorong stabilisasi harga, khususnya terhadap beberapa bahan pangan yang mengalami tren kenaikan jelang akhir tahun lalu. Salah satunya, melalui program penyediaan 11 juta liter minyak goreng kemasan sederhana seharga Rp14 ribu/liter dalam skema operasi pasar.

Pada saat bersamaan, penurunan kasus Covid-19 membuat pemerintah memberlakukan relaksasi pembatasan mobilitas yang berdampak pada kelancaran aktivitas ekonomi, termasuk di sektor manufaktur. Hasilnya, terjadi kenaikan permintaan domestik dan luar negeri, yang mendongkrak tingkat produksi, menempatkan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember 2021 di posisi 53,5 atau masih berada pada level ekspansif.

Level PMI Indonesia itu tercatat masih lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN yakni Malaysia (52,8), Filipina (51,8), dan Myanmar (49,0).

"Pemerintah juga terus memonitor imported inflation seiring tren kenaikan harga komoditas global dan normalisasi kebijakan moneter bank sentral dunia. Di tengah berbagai tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2022, komitmen dan sinergi bersama seluruh pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia, untuk menguatkan koordinasi kebijakan strategi pengendalian inflasi menjadi kunci untuk menjaga inflasi tetap terkendali," kata Airlangga.

(rea)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER