Harga Minyak Naik Meski Permintaan Bahan Bakar AS Turun

CNN Indonesia
Kamis, 06 Jan 2022 07:39 WIB
Harga minyak dunia menguat ke kisaran 1 persen pada perdagangan Rabu (5/1), waktu Amerika Serikat (AS). Harga minyak dunia menguat ke kisaran 1 persen pada perdagangan Rabu (5/1), waktu Amerika Serikat (AS). Ilustrasi. (iStock/ozgurdonmaz).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia menguat pada akhir perdagangan Rabu (5/1), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan terjadi meski persediaan bahan bakar AS melonjak di tengah turunnya permintaan karena varian Omicron.

Tercatat, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret naik 1 persen ke US$80,80 per barel di London ICE Futures Exchange.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Februari sebesar 1,1 persen ke US$77,85 per barel di New York Mercantile Exchange.


Penguatan harga minyak tertahan pada sore hari setelah keluar risalah terbaru dari pertemuan bank sentral AS The Federal Reserves (The Fed) yang memberikan sinyal kenaikan suku bunga lebih cepat dari yang diantisipasi pasar.

Di AS, persediaan minyak mentah turun 2,1 juta barel berkat insentif pajak bagi produsen untuk mengurangi persediaan sebelum akhir tahun.

Kendati demikian, persediaan bensin melonjak lebih dari 10 juta barel, dan stok sulingan naik 4,4 juta barel.

Analis menilai kondisi itu lantaran permintaan melemah selama minggu terakhir 2021 mengingat orang-orang menahan diri untuk bepergian di tengah penyebaran varian Omicron.

Pada awal pekan ini, AS melaporkan hampir 1 juta kasus baru covid-19, tertinggi di dunia dan hampir dua kali lipat dari puncak AS sebelumnya.

"Permintaan produk tersirat - terutama untuk bensin - merosot, menunjukkan bahwa masyarakat berhati-hati tentang perjalanan setelah melonjaknya kasus varian Omicron. Ketakutan ini kemungkinan akan bertahan selama beberapa pekan lagi," terang Kepala Ekonom Komoditas Capital Economics Caroline Bain.

Selasa lalu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) sepakat untuk menambah pasokan 400 ribu barel per hari pada Februari, seperti yang dilakukan setiap bulan sejak Agustus.

Namun, dalam catatan analis Barclays, OPEC+ perlu berjuan untuk mencapai target itu lantaran anggota termasuk Nigeria, Angola dan Libya menghadapi kesulitan meningkatkan produksi.

"Persediaan tambahan (produksi) yang sebenarnya kemungkinan akan jauh lebih kecil, mirip dengan efek permintaan dari Omicron," jelas Barclays.

[Gambas:Video CNN]



(Antara/sfr)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER