Qatar Bidik Untung Besar dari Konflik Ukraina-Rusia

tim | CNN Indonesia
Sabtu, 29 Jan 2022 16:14 WIB
Qatar yang merupakan salah satu produsen gas terbesar di dunia bisa meraih keuntungan dari konflik Rusia-Ukraina. Ilustrasi konflik Rusia-Ukraina. Negara-negara Eropa mengkhawatirkan pasokan gas akan terganggu ole konflik kedua negara tersebut. (RU-RTR Russian Television via AP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Qatar berusaha mencari keuntungan dari masalah suplai gas yang bisa muncul jika Rusia memutus pasokan gas ke negara-negara Eropa karena konflik Ukraina. 

Seorang pejabat Qatar mengatakan pada AFP, ada pembicaraan terkait pengalihan pasokan gas alam cair (LNG) dari pasar Asia ke Eropa jika Moskow memutuskan memotong suplai gas mereka ke Eropa Barat.

Kemungkinan kekurangan suplai gas ini membuat AS turun tangan untuk membantu sekutu NATO mereka, salah satunya dengan melakukan pembicaraan dengan Qatar.

Pemimpin Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, disebut akan memberikan bantuan kepada Eropa. Al-Thani dikatakan berambisi mendapatkan pasar gas lepas pantai yang lebih besar di pasar Eropa, dikutip dari AFP.

Al-Thani juga disebut membicarakan krisis Ukraina dalam pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.

Selain bersama Qatar, AS juga mengontak Australia terkait persediaan suplai gas alternatif.

Australia, Qatar, dan AS merupakan tiga negara terbesar pengekspor gas di dunia.

Meski demikian, pengamat menilai peluang Qatar menjadi 'penolong' suplai gas Eropa masih sedikit.

"Qatar tidak memiliki tongkat ajaib untuk memperbaiki kekurangan gas Eropa," kata Bill Farren-Price, direktur bidang pengetahuan konsultan energi Enverus, dikutip dari AFP.

"Mereka (Qatar) tidak memiliki kapasitas cadangan untuk memberikan suplai LNG (gas alam cair) tambahan. Mereka berbeda dari Arab Saudi, yang menjaga kapasitas minyak cadangannya," lanjutnya.

Selain itu, Farren-Price mengungkapkan kekurangan gas di Eropa bakal berdampak pada pasar LNG Asia. Ia juga memprediksi konsumen Eropa harus membayar harga lebih mahal supaya bisa mendapatkan gas.

Spesialis keamanan Timur Tengah di King's College London, Andreas Krieg, menilai Qatar akan mementingkan bisnis ketimbang politik sebelum memutuskan menolong Eropa.

Krieg menilai, Qatar akan menargetkan Eropa untuk setiap tindakannya.

"Ini mungkin berarti (Qatar) mendapatkan pujian di Eropa dan menggunakannya sebagai bahan negosiasi untuk mulai membicarakan kontrak (suplai gas) jangka panjang, yang mana menjadi minat negara itu."

Di sisi lain, Krieg menilai peran utama Qatar dalam rencana suplai gas darurat ini dapat membuat Doha semakin dekat dengan Washington.

"Mereka ingin memasukkan diri mereka ke slot itu agar bisa menjadi sekutu strategis AS yang paling penting di Negara Teluk," tutur Krieg.

Qatar juga disebut ingin memiliki kedudukan lebih dekat dengan Washington, mengalahkan kedekatan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Ia juga menambahkan Qatar dapat menjalin hubungan yang bersifat institusional dengan AS, daripada terikat dengan individu ataupun partai.

Dari sisi pasokan gas, Qatar memang berupaya memperluas pasarnya. Negara ini meningkatkan produksi gas mereka dari 77 juta ton ke 127 ton per tahunnya pada 2027 nanti.

Kekurangan gas di Eropa ini dapat menjadi peluang Qatar memperluas pasar mereka.

Hubungan Ukraina dan Rusia semakin memburuk. Ukraina kerap menuduh Rusia bakal menginvasi negara itu, sementara Moskow berkali-kali membantah.

Ukraina mendapatkan dukungan dari AS dan NATO, sementara Rusia khawatir Kiev bakal menyerang Kremlin bila berhasil bergabung ke NATO.

(AFP/vws)


[Gambas:Video CNN]
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER