Janji Barter Sukhoi dengan Kopi-Teh RI Mandek Sudah 4 Tahun

CNN Indonesia | Kamis, 29/07/2021 14:37 WIB
Kemendag mendorong agar kelanjutan janji barter Sukhoi dari Rusia dengan hasil perkebunan RI yang sudah mandek lebih dari 3 tahun segera diputuskan. Kemendag mendorong agar kelanjutan janji barter Sukhoi dari Rusia dengan hasil perkebunan RI yang sudah mandek lebih dari 3 tahun segera diputuskan. Ilustrasi. (ANTARA FOTO).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengklaim belum ada realisasi barter 11 pesawat tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia dengan hasil perkebunan RI, seperti kopi dan teh Indonesia, hingga saat ini. Padahal, nota kesepahaman (MoU) BUMN Indonesia dan Rusia sudah diteken.

Diketahui, nota kesepahaman itu ditandatangani oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PII dengan Rostec pada 2017 lalu.

"Sudah tiga tahun posisi Indonesia harus ada kepastian lanjut atau tidak, itu yang pertama," tutur Koordinator Bidang Peningkatan Akses Pasar Kemendag Bambang Jaka saat Sosialisasi Kerja Sama Imbal Dagang Business to Business, Kamis (29/7).


Ia menuturkan semua instrumen terkait proses imbal beli sudah siap. Selain itu, Kemendag juga telah memetakan ulang perusahaan-perusahaan RI yang akan menyumbang produk barter.

Sekadar mengingatkan, rencananya 11 pesawat Sukhoi itu akan ditukar kopi, teh, minyak kelapa sawit, dan lainnya.

Sayangnya, hingga saat ini kerja sama itu belum kunjung terealisasi. Informasi terakhir menyebutkan bahwa pihak Rusia belum menyetujui daftar produk perkebunan RI yang akan ditukar dengan pesawat Sukhoi tersebut.

Karenanya, Bambang mendorong pengambil keputusan terkait barter ini segera menentukan sikap, baik melanjutkan rencana barter atau membatalkan saja.

"Poinnya adalah masih berproses, tinggal bagaimana pimpinan-pimpinan di republik ini berani mengambil, bukan berarti mengambil risiko dalam konteks gambling (judi), tetapi memutuskan take it (ambil) or leave it (tinggalkan) untuk Sukhoi," ujarnya.

Rencana awal, pesawat tersebut akan dikirim dalam tiga tahap. Pertama, pengiriman dua unit pada Agustus 2019, dengan catatan kontrak efektif per Agustus 2018.

Kedua, enam unit akan dikirim 18 bulan setelah kontrak efektif. Ketiga, sebanyak tiga unit sisanya akan dikirim setelah 23 bulan dari kontrak.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan pernah menyampaikan nilai pembelian komoditas oleh Rusia mencapai US$570 juta.

"Jadi imbal beli ini artinya kami membeli, mereka harus membeli. Nah, mereka harus membeli US$570 juta," katanya pada 2018 lalu.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK