Eropa Mau Matikan Minyak Rusia, Akankah Timur Tengah Jadi Penyelamat?
CNN Indonesia
Selasa, 10 Mei 2022 10:28 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Uni Eropa sepakat untuk melarang impor minyak Rusia. Lalu, kemana Uni Eropa akan menutup kebutuhan minyak mereka selain Rusia? Ilustrasi. (AFP/Fayez Nureldine).
Jakarta, CNN Indonesia --
Uni Eropa sepakat untuk melarang imporminyakRusia. Aksi ini sebagai tindak lanjut sanksi terhadap invasi militer Rusia ke Ukraina.
Minyak memang pendapatan utama Rusia. Masalahnya, Rusia juga merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia, setelah AS dan Arab Saudi.
Banyak negara-negara di Eropa yang menggantungkan diri terhadap pasokan minyak Rusia. Tidak terkecuali Jerman, negara dengan ekonomi terbesar di Uni Eropa, yang mengandalkan lebih dari separuh kebutuhan energi mereka dari Rusia.
Negara-negara di Eropa lainnya juga seperti Jerman, mengandalkan pasokan minyak mereka dari Rusia. Jika aksi boikot diberlakukan, tentu mereka akan kekurangan pasokan.
Badan Energi Internasional (IEA) memprediksi aksi boikot tersebut bakal mengakibatkan kekurangan pasokan minyak mentah di dunia hingga 2,2 juta barel per hari (bph).
Memang, negara-negara Timur Tengah menguasai hampir separuh dari cadangan minyak dunia.
Tetapi, akankah negara-negara Timur Tengah menjadi penyelamat?
Mengutip CNN Business, Selasa (10/5), Kepala Koresponden OPEC di Energy Intelligence Amena Bakr mengatakan kedua negara ini memiliki peran paling besar terhadap kapasitas cadangan minyak, yakni sekitar 2,5 juta bph.
Tetapi, Arab Saudi sendiri telah berulang kali menolak permintaan AS untuk meningkatkan produksi di luar kuota yang disepakati dengan Rusia dan produsen non-OPEC lainnya.
Selain itu, CEO Qamar Energy di Dubai Robin Mills menuturkan pengalihan pengiriman minyak dari Asia ke Eropa bisa saja dilakukan, tetapi tentu akan menimbulkan biaya.
Tidak cuma itu, pengalihan pengiriman juga akan membahayakan kemitraan strategis yang sedang berkembang antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dengan pembeli utama, China.
Secara teori, kata CEO dan Kepala Penelitian Minyak di CMarkits London Yousef Alshammari, Irak bisa memompa minyak ekstra hingga 660 ribu bph dari produksinya saat ini sekitar 4,34 juta bph. Toh, kapasitas produksi maksimum Irak di kisaran 5 juta bph.
Namun, Irak kekurangan infrastruktur untuk meningkatkan produksi minyak. Kalau pun investasi membangun infrastruktur yang diperlukan tentu akan memakan waktu bertahun-tahun sebelum hasilnya bisa dinikmati.
"Harus diingat, minyak membutuhkan investasi dan investasi membutuhkan waktu untuk bisa menghasilkan," kata Bakr.
Libya memang menghasilkan banyak minyak. Namun, ladang minyak Libya juga kerap mengalami gangguan karena ketegangan politik berkelanjutan.
Pada akhir April lalu, National Oil Corporation (NOC) menyebut Libya kehilangan lebih dari 550 ribu bph produksi minyak mereka dari pemblokiran ladang minyak utama dan terminal ekspor oleh kelompok-kelompok yang memprotes kebijakan politik. Satu kilang rusak akibat bentrokan senjata.
NOC sudah mencabut status force majeure di satu terminal minyak pada awal bulan ini. Tetapi, gangguan tetap saja terjadi dan menjadi penyebab utama kekhawatiran.
"Hampir tidak mungkin mengandalkan Libya untuk meningkatkan kapasitas cadangan. Karena beberapa produksinya telah offline selama bertahun-tahun di tengah ketidakstabilan dan force majeure berulang kali di ladang minyak utama mereka," terang Alshammari.
Sebetulnya, Iran paling siap untuk meningkatkan pasokan minyak di pasar. Namun, sanksi AS terhadap Iran masih berlanjut. Pembicaraan perjanjian nuklir antara kedua negara pun belum berlanjut.
Analis memperkirakan Iran dapat berkontribusi hingga 1,2 juta bph jika sanksi AS dicabut.
Perusahaan data Kpler memproyeksi Iran memiliki 100 juta barel dalam penyimpanan terapung pada pertengahan Februari lalu yang berarti dapat menambah 1 juta bph atau satu persen dari pasokan global selama tiga bulan.
"AS tidak mungkin menandatangani kesepakatan buruk dengan Iran hanya untuk memasok lebih banyak minyak ke pasar," tutur Bakr.
Sementara itu, negara-negara non Timur Tengah dengan potensi kapasitas cadangan, seperti Nigeria dan Venezuela, juga tengah bermasalah.
Alshammari menilai dengan kondisi ini, larangan impor minyak Rusia oleh Uni Eropa akan merugikan ekonomi global. Eropa hanya memiliki opsi mengandalkan minyak Amerika.
Tetapi, sekalipun AS menggenjot produksinya, cadangannya tidak akan cukup untuk menutup kebutuhan Eropa. Apalagi, jenis minyak Amerika sangat ringan, tidak cocok untuk pasar Eropa yang memproduksi lebih banyak diesel.
Uni Eropa sepakat untuk melarang imporminyakRusia. Aksi ini sebagai tindak lanjut sanksi terhadap invasi militer Rusia ke Ukraina.
Minyak memang pendapatan utama Rusia. Masalahnya, Rusia juga merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia, setelah AS dan Arab Saudi.
Banyak negara-negara di Eropa yang menggantungkan diri terhadap pasokan minyak Rusia. Tidak terkecuali Jerman, negara dengan ekonomi terbesar di Uni Eropa, yang mengandalkan lebih dari separuh kebutuhan energi mereka dari Rusia.
Negara-negara di Eropa lainnya juga seperti Jerman, mengandalkan pasokan minyak mereka dari Rusia. Jika aksi boikot diberlakukan, tentu mereka akan kekurangan pasokan.
Badan Energi Internasional (IEA) memprediksi aksi boikot tersebut bakal mengakibatkan kekurangan pasokan minyak mentah di dunia hingga 2,2 juta barel per hari (bph).
Memang, negara-negara Timur Tengah menguasai hampir separuh dari cadangan minyak dunia.
Tetapi, akankah negara-negara Timur Tengah menjadi penyelamat?
Mengutip CNN Business, Selasa (10/5), Kepala Koresponden OPEC di Energy Intelligence Amena Bakr mengatakan kedua negara ini memiliki peran paling besar terhadap kapasitas cadangan minyak, yakni sekitar 2,5 juta bph.
Tetapi, Arab Saudi sendiri telah berulang kali menolak permintaan AS untuk meningkatkan produksi di luar kuota yang disepakati dengan Rusia dan produsen non-OPEC lainnya.
Selain itu, CEO Qamar Energy di Dubai Robin Mills menuturkan pengalihan pengiriman minyak dari Asia ke Eropa bisa saja dilakukan, tetapi tentu akan menimbulkan biaya.
Tidak cuma itu, pengalihan pengiriman juga akan membahayakan kemitraan strategis yang sedang berkembang antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dengan pembeli utama, China.
Secara teori, kata CEO dan Kepala Penelitian Minyak di CMarkits London Yousef Alshammari, Irak bisa memompa minyak ekstra hingga 660 ribu bph dari produksinya saat ini sekitar 4,34 juta bph. Toh, kapasitas produksi maksimum Irak di kisaran 5 juta bph.
Namun, Irak kekurangan infrastruktur untuk meningkatkan produksi minyak. Kalau pun investasi membangun infrastruktur yang diperlukan tentu akan memakan waktu bertahun-tahun sebelum hasilnya bisa dinikmati.
"Harus diingat, minyak membutuhkan investasi dan investasi membutuhkan waktu untuk bisa menghasilkan," kata Bakr.
Libya memang menghasilkan banyak minyak. Namun, ladang minyak Libya juga kerap mengalami gangguan karena ketegangan politik berkelanjutan.
Pada akhir April lalu, National Oil Corporation (NOC) menyebut Libya kehilangan lebih dari 550 ribu bph produksi minyak mereka dari pemblokiran ladang minyak utama dan terminal ekspor oleh kelompok-kelompok yang memprotes kebijakan politik. Satu kilang rusak akibat bentrokan senjata.
NOC sudah mencabut status force majeure di satu terminal minyak pada awal bulan ini. Tetapi, gangguan tetap saja terjadi dan menjadi penyebab utama kekhawatiran.
"Hampir tidak mungkin mengandalkan Libya untuk meningkatkan kapasitas cadangan. Karena beberapa produksinya telah offline selama bertahun-tahun di tengah ketidakstabilan dan force majeure berulang kali di ladang minyak utama mereka," terang Alshammari.
Uni Eropa sepakat untuk melarang impor minyak Rusia. Lalu, kemana Uni Eropa akan menutup kebutuhan minyak mereka selain Rusia? (AFP/Fayez Nureldine).
Iran
Sebetulnya, Iran paling siap untuk meningkatkan pasokan minyak di pasar. Namun, sanksi AS terhadap Iran masih berlanjut. Pembicaraan perjanjian nuklir antara kedua negara pun belum berlanjut.
Analis memperkirakan Iran dapat berkontribusi hingga 1,2 juta bph jika sanksi AS dicabut.
Perusahaan data Kpler memproyeksi Iran memiliki 100 juta barel dalam penyimpanan terapung pada pertengahan Februari lalu yang berarti dapat menambah 1 juta bph atau satu persen dari pasokan global selama tiga bulan.
"AS tidak mungkin menandatangani kesepakatan buruk dengan Iran hanya untuk memasok lebih banyak minyak ke pasar," tutur Bakr.
Sementara itu, negara-negara non Timur Tengah dengan potensi kapasitas cadangan, seperti Nigeria dan Venezuela, juga tengah bermasalah.
Alshammari menilai dengan kondisi ini, larangan impor minyak Rusia oleh Uni Eropa akan merugikan ekonomi global. Eropa hanya memiliki opsi mengandalkan minyak Amerika.
Tetapi, sekalipun AS menggenjot produksinya, cadangannya tidak akan cukup untuk menutup kebutuhan Eropa. Apalagi, jenis minyak Amerika sangat ringan, tidak cocok untuk pasar Eropa yang memproduksi lebih banyak diesel.