Buka Tutup Keran Ekspor CPO Jokowi

Safyra Primadhyta | CNN Indonesia
Jumat, 20 Mei 2022 07:31 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mencabut larangan ekspor CPO mulai Senin (23/5) setelah mendapat protes dari petani sawit yang merasa dirugikan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mencabut larangan ekspor CPO mulai Senin (23/5) setelah mendapat protes dari petani sawit yang merasa dirugikan. Ilustrasi. (AFP/WAHYUDI).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan membuka keran ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya mulai 23 Mei 2022. Kebijakan ini diambil kurang dari sebulan pelaksanaan larangan ekspor CPO sejak 28 April lalu.

Kepala negara mengatakan pencabutan tersebut dilakukan lantaran sejak larangan berlaku, stok minyak goreng curah meningkat dari 64 ribu ton menjadi 211 ribu ton. Jumlahnya dianggap sudah cukup memenuhi kebutuhan nasional sebanyak 194 ribu ton.

Sejalan dengan stok yang bertambah, ia mengklaim harga minyak goreng curah pun turun dari kisaran Rp19.800 per liter menjadi Rp17.200-17.600 per liter.


Pertimbangan yang tak kalah penting adalah nasib belasan juta petani di industri ini. Apalagi, mereka sempat berdemo dan mengeluh rugi sampai Rp11,4 triliun karena keran ekspor ditutup.

"Mempertimbangkan ada 17 juta orang tenaga kerja di industri sawit, baik petani, pekerja, dan tenaga pendukung lain," kata Jokowi saat koneferensi pers, Kamis (19/5).

Tapi, perlu diingat kebijakan membuka kembali ekspor sejatinya diambil ketika target belum tercapai. Sebab, ketika memutuskan larangan ekspor, pemerintah sebenarnya ingin mengejar peningkatan stok dan penurunan harga minyak goreng ke Rp14 ribu per liter.

Faktanya di lapangan, menurut hasil pemantauan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), stok minyak goreng curah belum berlimpah di pasar. Pun begitu dengan harganya yang masih mahal.

"Presiden mengharapkan agar HET bisa terpenuhi di pasar tradisional dan barang melimpah tetapi faktanya belum ada, kami belum mendapati minyak goreng curah itu cukup melimpah di pasar tradisional," ungkap Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan melalui keterangan resmi.

"Jika melimpah di pasar diharapkan harga terus menurun, sampai detik ini harga masih di atas Rp17 ribu, di kisaran Rp18 ribu, bahkan ada yang Rp19 ribu per liter," lanjutnya.

Jangankan kondisi di lapangan, dari klaim pemerintah pun sejatinya terbukti bahwa kebijakan yang diambil kurang dalam sebulan ini belum mencapai target, yaitu harga minyak goreng curah menjadi Rp14 ribu per liter. Padahal, pemerintah dulu menekankan keran ekspor baru dibuka ketika target ini tercapai.

Larangan ekspor sempat diterapkan karena harga minyak goreng curah naik tinggi dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, sampai menyumbang inflasi bagi perekonomian masyarakat.

Harga minyak goreng curah yang dipatok dengan harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp14 ribu per liter melambung sampai Rp20 ribu per liter. Pun begitu dengan minyak goreng kemasan yang harganya bisa menyentuh Rp51 ribu per dua liter.

[Gambas:Video CNN]



(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER