Virus PMK Telah Menyebar di 15 Provinsi per 17 Mei 2022

mrh | CNN Indonesia
Selasa, 24 Mei 2022 11:13 WIB
Kementan mencatat virus PMK telah menyebar di 15 provinsi hingga 17 Mei 2022. Kementan mencatat virus PMK telah menyebar di 15 provinsi hingga 17 Mei 2022. Ilustrasi. (CNNIndonesia/ Rosyid).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak telah menyebar di 15 provinsi di Indonesia per 17 Mei 2022.

Kementan mencatat total populasi ternak sakit karena PMK mencapai 13.965 ekor. Jumlah tersebut merupakan 0,36 persen dari total populasi yang terdampak PMK, yakni 3,91 juta ekor.

"Per 17 Mei 2022, terdapat 15 provinsi, 52 kabupaten/kota dan populasi ternak total sakit terkena PMK 13.965 ekor," demikian tulis dokumen tersebut seperti dikutip pada Selasa (24/5).

Dari total sakit tersebut, ternak yang sembuh mencapai 2.630 ekor. Kemudian yang mati mencapai 99 ekor.

Sementara, 15 provinsi yang terpapar PMK adalah Aceh, Bangka Belitung, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, jawa Barat, Jawa Tengah, jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.

Kemudian, Kalimantan Tengah, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.

Sementara, provinsi dengan jumlah ternak sakit PMK terbanyak adalah Aceh. Total ternak yang sakit di wilayah tersebut mencapai 5.689 ekor.

Disusul oleh Provinsi Jawa Timur sebanyak 4.119 ekor, Bangka Belitung sebanyak 1.304 ekor, dan Sumatera Utara 1.150 ekor.

Untuk mencegah penyebaran PMK yang semakin meluas, Kementan melakukan beberapa upaya seperti pembuatan vaksin oleh Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Kementan, vaksinasi massal, dan surveilans secara rutin.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan Pusvetma Kementan di Surabaya sudah menemukan serotipe virus yang beredar di Indonesia dengan kode O/ME-SA/Ind/2001/.

Ia mengatakan vaksin ditargetkan selesai empat bulan atau sebelum Agustus 2022. Dengan demikian, Kementan bisa melakukan uji coba pada akhir Agustus 2022.

"Vaksin (PMK) tahun 90-an kami sudah buat. Jadi, saat ini menemukan serotipe lebih penting. Kalau kami impor vaksin, tapi serotipenya nggak sama, itu sama saja kami menambah virus baru. Jadi kami butuh jangka waktu (untuk memproduksi vaksin)," kata Syahrul.

[Gambas:Video CNN]

(mrh/aud)
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER