G7 Bertekad Himpun Rp8.879 T untuk Lawan 'Jeratan Utang' China

CNN Indonesia
Senin, 27 Jun 2022 11:25 WIB
Pemimpin negara G7 bertekad menghimpun dana Rp8.879 triliun untuk melawan program jerat utang China. Berikut penjelasannya. Pemimpin negara G7 bertekad menghimpun dana Rp8.879 triliun untuk melawan program jerat utang China. Ilustrasi pimpinan negara anggota G7. (AP/Susan Walsh).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden AS Joe Biden dan para pemimpin G7 meluncurkan kembali program Kemitraan untuk Infrastruktur dan Investasi Global pada pertemuan tahunan yang dilakukan di Schloss Elmau, Jerman selatan, tahun ini.

Melalui program ini, mereka berjanji untuk mengumpulkan US$600 miliar atau Rp8.879,1 triliun (kurs Rp14.798 per dolar AS) selama lima tahun guna membiayai infrastruktur yang dibutuhkan di negara-negara berkembang dan melawan Proyek Sabuk dan Jalan China.

Janji mereka sampaikan pada Minggu (26/6) kemarin. Mereka menjelaskan dana itu akan dihimpun dari sektor swasta dan publik.

Biden mengatakan dari total dana itu, Amerika Serikat akan memobilisasi US$200 miliar dalam bentuk hibah, dana federal, dan investasi swasta. Biden menyebut ada beberapa proyek unggulan yang bisa didanai dengan dana tersebut.

Salah satunya, proyek pengembangan tenaga surya senilai US$2 miliar di Angola.

Proyek lain adalah pengembangan fasilitas manufaktur multi-vaksin fleksibel skala industri di Institut Pasteur de Dakar Senegal. Proyek akan diberikan bantuan teknis US$3,3 juta.

Pembiayaan itu diharapkan bisa membantu Senegal memproduksi vaksin covid-19.

[Gambas:Video CNN]

"Saya ingin memperjelas. Ini bukan bantuan atau amal. Ini adalah investasi yang akan memberikan keuntungan bagi semua orang," kata Biden seperti dikutip dari Antara, Senin (27/6).

Sementara itu Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen berjanji akan memobilisasi 300 miliar euro untuk program tersebut.  

China saat ini sedang menjalankan Program Belt and Road. Melalui program ini, mereka menawarkan bantuan pendanaan pembangunan infrastruktur kepada negara sejumlah negara.

Pejabat Gedung Putih mengkritik program tersebut karena hanya memberikan sedikit manfaat nyata dan justru menjerat banyak negara berkembang dengan tumpukan utang.

Sementara itu, Wakil Presiden Kelompok Nirlaba Global Citizen Friederike Roder berharap janji investasi yang disampaikan G7 tersebut bisa menjadi awal yang baik bagi keterlibatan organisasi itu dalam pembangunan negara berkembang.

Ia juga berharap keterlibatan itu dapat mendukung pertumbuhan global yang lebih merata bagi semua bangsa. Harapan itu muncul karena selama ini negara G7 hanya mau memberikan 0,32 persen dari pendapatan nasional bruto mereka ke negara berkembang; kurang dari 0,7 persen yang pernah mereka janjikan.

"Tanpa negara-negara berkembang, tidak akan ada pemulihan ekonomi dunia yang berkelanjutan," katanya.

(agt/bir)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER