5 Tanda Resesi Mengintai Ekonomi AS

CNN Indonesia
Senin, 27 Jun 2022 10:50 WIB
Ekonomi AS sedang diintai hantu resesi. Berikut tanda-tanda resesi mengintai ekonomi AS yang muncul pekan kemarin. Banyak kalangan memperkirakan ekonomi AS segera masuk ke jurang resesi dalam waktu dekat ini. Ilustrasi. (Drew Angerer/Getty Images/AFP).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut resesi sedang menghantui ekonomi Amerika Serikat. Sinyal ini ditangkap dari inflasi AS yang tembus 8,6 persen atau tertinggi dalam 41 tahun terakhir pada Mei lalu.

Merespons lonjakan inflasi ini, The Fed mengetatkan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin di Juni 2022.

Inflasi yang melonjak dan kemudian diikuti kenaikan suku bunga telah membuat orang Amerika makin ragu dengan keadaan ekonomi mereka. 

Pasalnya, kenaikan suku bunga acuan yang agresif akan memperlambat aktivitas ekonomi di Negeri Paman Sam tersebut.

Selain lonjakan inflasi yang diikuti kenaikan bunga acuan, sebenarnya ada tanda lain yang menunjukkan ekonomi AS sedang di ambang resesi. 

Mengutip CNN Business, berikut tanda-tanda tersebut:

1. Penurunan Harga Tembaga

Harga tembaga anjlok mencapai posisi terendah 16-bulan pada Kamis (23/6) setelah turun lebih dari 11 persen dalam dua minggu terakhir. Penurunan itu menjadi berita buruk bagi investor yang memandang harga tembaga sebagai penentu arah ekonomi global.

Maklum, tembaga banyak digunakan sebagai bahan konstruksi. Ketika harga turun, itu semua menunjukkan permintaan atas tembaga juga berkurang. Ketika permintaan berkurang artinya ekonomi mengalami kontraksi.

"Harga tembaga baru mulai memperhitungkan fakta bahwa pertumbuhan global melambat," kata Direktur Strategi Komoditas di TD Securities Daniel Ghali.

[Gambas:Video CNN]

2. Indeks Pembelian Manajer

Indeks yang dirilis oleh S&P Global pada Kamis lalu menunjukkan output sektor swasta AS melambat tajam pada Juni.

Kepala ekonom bisnis di S&P Global Market Intelligence Chris Williamson mengatakan produsen barang-barang non-esensial mengalami penurunan pesanan karena konsumen berjuang dalam menghadapi kenaikan harga.

"Kepercayaan bisnis sekarang berada pada tingkat yang biasanya menandakan penurunan ekonomi, menambah risiko resesi," kata Williamson.

3. Sentimen Konsumen

Survei University of Michigan yang yang dirilis pada Jumat (24/6) lalu menunjukkan sentimen konsumen AS mencapai rekor terendah baru pada Juni ini. Pasalnya, sentimen itu berada di level terendah yang tercatat sejak universitas tersebut mulai mengumpulkan data 70 tahun yang lalu.

Sekitar 79 persen dari konsumen di AS memperkirakan saat-saat buruk bagi bisnis di AS terjadi pada mendatang. Menurut mereka, 47 persen dari konsumen yang disurvei menyalahkan inflasi sebagai biang kerok kekacauan ekonomi di AS karena telah mengikis kemampuan warga AS memenuhi kebutuhan hidup.

"Seiring lonjakan harga yang terjadi, konsumen di AS semakin merasa tidak punya pilihan selain menyesuaikan pola pengeluaran, apakah melalui substitusi barang atau atau dengan cara lain," kata Direktur Survei Konsumen University of Michigan  Joanna Hsu. 

4. Lonjakan Harga Gas

Lonjakan harga gas di AS membuat warga AS merasakan dampaknya. Mereka mulai mengurangi permintaan.

"Aksi ini memberi kekhawatiran resesi bakal terjadi," tulis kepala investasi di Bleakley Advisory Group Peter Boockvar.

5. Penjualan Perumahan merosot

Harga-harga yang melonjak membuat orang AS kesulitan untuk memiliki rumah. Penurunan kemampuan itu membuat penjualan rumah anjlok.

Lennar misalnya. Pengembang ini sahamnya turun hampir 45 persen tahun ini.

CEO Lennar mengatakan kehati-hatian diperlukan terkait masalah ini apalagi sekarang kondisi pasar sedang rumit.

Meskipun terjadi perlambatan di pasar perumahan, para ahli berharap bahwa hal itu tidak akan menyebar ke perekonomian seperti yang terjadi pada gelembung perumahan pada 2008.

"Bank berada dalam kondisi yang jauh lebih baik sekarang, dan mereka tidak memberikan pinjaman kepada orang-orang yang tidak memiliki kredit atau kredit macet. Jika ada resesi, dampaknya pada perumahan bisa ringan," kata Kepala Investasi RDM Financial Group Michael Sheldon.

(agt/bir)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER