Jawaban Kemenkeu Usai Inflasi RI Tembus Level Tertinggi Sejak 2017

dnz | CNN Indonesia
Senin, 04 Jul 2022 13:26 WIB
Kemenkeu menyatakan meski inflasi Indonesia, pada April sebesar 4,35 persen (yoy), tertinggi sejak 2017 tapi masih lebih baik dibandingkan negara lain. Kementerian keuangan menyatakan meski inflasi Indonesia, pada April sebesar 4,35 persen (yoy), tertinggi sejak 2017 tapi masih lebih baik dibandingkan negara lain. (Dok: Universitas Indonesia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Keuangan buka suara soal Inflasi Indonesia yang tembus 4,35 persen (year on year/yoy) pada Juni lalu. Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan realisasi inflasi itu merupakan yang tertinggi sejak Juni 2017.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Natan Kacaribu mengatakan meski inflasi cukup tinggi, tapi Indonesia masih lebih baik dari negara lain. Apalagi negara maju yang inflasinya tertinggi dalam puluhan tahun.

"Dibandingkan dengan banyak negara di dunia, inflasi Indonesia masih tergolong moderat. Laju inflasi di AS dan Uni Eropa terus mencatatkan rekor baru dalam 40 tahun terakhir, masing-masing mencapai 8,6 persen dan 8,8 persen," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (4/7).

Demikian juga jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya seperti Argentina dan Turki, dengan laju inflasi masing-masing mencapai 60,7 persen dan 73,5 persen.

Ia mengatakan inflasi  di Indonesia masih lebih baik karena berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk meredam gejolak harga komoditas global berhasil.

"Pemerintah, melalui instrumen APBN, berhasil meredam tingginya tekanan inflasi global, sehingga daya beli masyarakat serta momentum pemulihan ekonomi nasional masih tetap dapat dijaga," lanjut Febrio.

Menurutnya, pemerintah akan terus memantau dan memitigasi berbagai faktor yang akan berpengaruh pada inflasi nasional, baik yang berasal dari eksternal maupun domestik.

Sebelumnya, BPS menjabarkan inflasi Juni mengalami peningkatan terutama disebabkan oleh kenaikan harga pangan bergejolak (volatile food) yang signifikan mencapai 10,07 persen (yoy).

Komoditas pangan yang meningkat meliputi cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah akibat curah hujan tinggi di wilayah sentra sehingga menimbulkan gagal panen dan terganggunya distribusi.

Ke depannya, Febrio melihat yang juga perlu terus diwaspadai adalah perkembangan harga pangan akibat risiko cuaca dan tekanan harga global karena restriksi ekspor di beberapa negara produsen pangan.

"Pangan sangat penting bagi masyarakat sehingga Pemerintah akan terus mengantisipasi dan mitigasi risiko dari kenaikan harga kelompok pangan bergejolak melalui berbagai kebijakan untuk menjamin kecukupan pasokan dan keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat," katanya.

[Gambas:Video CNN]



(idy/dzu)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER