Bos Pertamina Buka-bukaan soal Alasan BBM Malaysia Lebih Murah dari RI

Agus Triyono | CNN Indonesia
Rabu, 06 Jul 2022 18:19 WIB
Dirut Pertamina Nicke Widyawati menyebut harga BBM di Malaysia bisa lebih murah dari RI karena subsidi yang mereka berikan lebih banyak dibanding Indonesia. Dirut Pertamina Nicke Widyawati menyebut harga BBM di Malaysia bisa lebih murah dari RI karena subsidi yang mereka berikan lebih banyak dibanding Indonesia. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina (Persero) membeberkan alasan mengapa bahan bakar minyak (BBM) di Malaysia lebih murah daripada di Indonesia.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan hal itu terjadi karena subsidi yang diguyurkan oleh Pemerintah Malaysia kepada Petroliam Nasional Berhad (Petronas), perusahaan minyak dan gas milik Malaysia, lebih besar daripada yang digelontorkan Indonesia.

"Petronas subsidinya jauh lebih besar dari Indonesia. Makanya harga jual BBM-nya itu lebih murah karena minyak yang digunakan Malaysia, Amerika, dan Indonesia dipatok berdasarkan minyak dunia. Sama saja sebenarnya," ujar Nicke pada Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, Rabu (6/7).

Diketahui, harga BBM di Malaysia untuk tipe Ron 95 atau setara pertamax plus memang lebih murah daripada pertalite. Mengutip laman globalpetrolprices.com, BBM RON 95 di Malaysia saat ini dijual dengan harga 2,05 ringgit per liter atau setara dengan Rp6.964 (asumsi kurs Rp3.397 per ringgit Malaysia).

Sementara BBM RON 97 harganya 3,91 ringgit per liter yang setara dengan Rp13.283.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) memperkirakan kuota BBM subsidi jenis pertalite dan solar jebol akhir tahun ini. Perkiraan mereka dasarkan pada peningkatan mobilitas penduduk yang meningkat dan tren penjualan BBM subsidi yang terus bertambah.

[Gambas:Video CNN]

Untuk pertalite, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati memprediksi konsumsinya meningkat jadi 28,5 juta kiloliter, jauh di atas yang sudah ditetapkan pemerintah untuk tahun ini yang sebesar 23 juta kiloliter.

Sementara itu untuk solar, ia memperkirakan konsumsi naik dari 14,9 juta kiloliter menjadi 17,2 juta kiloliter.

"Jenis bahan bakar penugasan ini akan meningkat melebihi kuotanya," ujar Nicke.

(tdh/agt)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER