Minyak Jatuh ke Harga Terendah Sejak Sebelum Perang Rusia-Ukraina

Antara | CNN Indonesia
Jumat, 05 Agu 2022 06:42 WIB
Harga minyak dunia jatuh ke level terendah sejak sebelum perang Rusia-Ukraina akibat tertekan kekhawatiran pasar atas kemungkinan terjadinya resesi. Harga minyak dunia jatuh ke level terendah sejak sebelum perang Rusia-Ukraina akibat tertekan kekhawatiran pasar atas kemungkinan terjadinya resesi. (Tangkapan layar twitter @@PIF_en).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia jatuh ke level terendah sejak sebelum invasi Rusia ke Ukraina pada Februari pada akhir perdagangan Kamis (4/8) waktu AS atau Jumat (5/8) pagi WIB.

Mengutip Antara, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September turun US$2,12 atau 2,3 persen ke US$88,54 per barel di New York Mercantile Exchange. Harga di bawah US$90  ini merupakan yang terendah sejak 2 Februari.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober merosot US$2,66 atau hampir 2,8 persen ke US$94,12 per barel di London ICE Futures Exchange. Harga ini merupakan yang terendah sejak 18 Februari.

Penurunan harga merupakan kelanjutan dari kejatuhan harga minyak mentah AS dan Brent yang masing-masing anjlok 4 persen dan 3,7 persen pada Rabu (3/8) lalu.

Analis menyebut kejatuhan harga minyak terjadi karena para pedagang resah atas potensi terjadinya resesi ekonomi di sejumlah negara tahun ini. Pasalnya, resesi dapat menghambat permintaan energi.

Selain itu, kejatuhan harga minyak juga dipicu lonjakan pasokan minyak mentah di AS.  Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan persediaan minyak mentah negara itu meningkat 4,5 juta barel selama pekan yang berakhir 29 Juli.

[Gambas:Video CNN]

Persediaan itu jauh dari perkiraan analis yang disurvei oleh S&P Global Commodity Insights. Pasalnya, analis memperkirakan stok minyak justru turun 1,7 juta barel.

"Tampaknya pelemahan dari Rabu menyusul permintaan bensin tersirat AS yang lebih lemah dari perkiraan, bersama dengan terobosan level dukungan teknis pada Kamis, telah menyeret minyak lebih rendah," kata Analis UBS, Giovanni Staunovo.

Selain itu, minyak juga tertekan kebijakan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya atau OPEC+ yang akan meningkatkan produksi sebesar 100 ribu barel per hari pada September.

(idy/agt)
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER