Cetak Rekor, Surplus Neraca Dagang China Tembus US$101 Miliar

tim | CNN Indonesia
Senin, 08 Agu 2022 20:24 WIB
China mencetak rekor surplus neraca perdagangan dengan menembus US$101 miliar pada Juli 2022. China mencetak rekor surplus neraca perdagangan dengan menembus US$101 miliar pada Juli 2022. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

China mencetak rekor surplus neraca perdagangan dengan menembus US$101 miliar pada Juli 2022. Angkanya hampir dua kali lipat dari realisasi Juli 2021, US$56,6 miliar.

Dilansir dari CNN, Senin (8/8), capaian surplus itu terjadi berkat lonjakan ekspor pada bulan yang sama.

Berdasarkan statistik bea cukai China, ekspor China melonjak 18 persen pada Juli 2022. Angka itu menandai laju pertumbuhan tercepat tahun ini dan di atas proyeksi analis yang disurvei oleh Reuters sebesar 15 persen.

Sementara itu, impor hanya tumbuh 2,3 persen dari tahun sebelumnya, sedikit meleset dari ekspektasi dan menunjukkan permintaan domestik tetap lemah.

"Data perdagangan bulanan menunjukkan bahwa pabrik-pabrik China terus bergerak menuju kebangkitan yang kuat dari gelombang omicron terbaru," kata Ahli Strategi Pasar Global untuk Asia Pasifik (ex-Jepang) Invesco David Chao.

"Meskipun permintaan global melemah, dorongan ekspor sebagian besar berasal dari normalisasi aktivitas produksi di tempat-tempat seperti Delta Sungai Yangtze," katanya.

Delta Sungai Yangtze, yang terdiri dari Shanghai dan sebagian provinsi Jiangsu dan Zhejiang, adalah pusat perdagangan luar negeri utama Negeri Tirai Bambu.

Aktivitas di Shanghai, pelabuhan peti kemas tersibuk di dunia, mencapai rekor tertinggi pada Juli, setelah kota itu secara bertahap keluar dari penguncian Covid-19 yang hampir melumpuhkan ekonominya selama berbulan-bulan.

Selain itu itu, permintaan yang kuat dari Asia Tenggara, Eropa, dan Rusia juga menopang ekspor Juli lalu. Tercatat, pengiriman ke negara-negara Asean, Uni Eropa, dan Rusia masing-masing melonjak 34 persen, 23 persen dan 22 persen bulan lalu.

Kepala Ekonom China Macquarie Capital Larry Hu menambahkan pelemahan mata uang China dan kenaikan harga barang membantu meningkatkan kinerja ekspor.

Sepanjang tahun ini, yuan melemah 6 persen terhadap dolar AS. Mata uang yang lemah biasanya membantu ekspor suatu negara karena barang menjadi lebih murah dibandingkan dengan barang yang dihargai dalam mata uang yang lebih kuat.

Hu juga menunjukkan bahwa inflasi harga ekspor China sebagian besar sejalan dengan inflasi CPI AS.

"Pada Juli, sekitar separuh dari pertumbuhan ekspor utama kemungkinan karena efek harga," ujar Hu.

Kendati demikian, kinerja perdagangan internasional diperkirakan tidak bisa membantu pemerintah mencapai target pertumbuhan tahun ini sebesar 5,5 persen.

Pasalnya, China bergulat dengan meningkatnya tantangan domestik, termasuk penguncian covid-19, pelemahan konsumsi domestik dan merosotnya pasar perumahan.

[Gambas:Video CNN]



(sfr/sfr)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER