Imbas Sanksi Barat, Maskapai Rusia Pakai Suku Cadang Pesawat Pretelan

tim | CNN Indonesia
Selasa, 09 Agu 2022 13:02 WIB
Maskapai Rusia mulai membongkar pesawat jet dan menggunakan suku cadang hasil 'pretelan' karena tak bisa mendapatkan perawatan lagi di negara Barat. Maskapai Rusia mulai membongkar pesawat jet dan menggunakan suku cadang hasil 'pretelan' karena tak bisa mendapatkan perawatan lagi di negara Barat. Ilustrasi. (Wikipedia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Maskapai Rusia mulai membongkar pesawat jet yang disita Presiden Vladimir Putin demi mengamankan suku cadang yang tak bisa dibeli lagi di luar negeri karena sanksi dari negara Barat.

Mengutip Reuters, Selasa (9/8), apa yang dilakukan oleh maskapai itu sesuai dengan saran Pemerintah Rusia agar perusahaan menggunakan suku cadang pesawat asing.

Sebab, negara Barat melarang maskapai Rusia membeli suku cadang atau menjalani perawatan di Eropa. Larangan itu merupakan salah satu sanksi dari negara Barat untuk Rusia karena telah menyerang Ukraina sejak akhir Februari 2022 lalu.

Salah satu sumber mengatakan Aeroflot sedang membongkar Airbus A350 dan Sukhoi Superjet 100 buatan Rusia.

Sukhoi Superjet 100 rakitan Rusia sangat bergantung dengan suku cadang asing. Alhasil, mesin di dalam pesawat sering ditukar antar pesawat agar Superjet yang lain bisa tetap terbang.

"Hanya masalah waktu sebelum pesawat yang berbasis di Rusia dikanibal," ungkap sumber industri penerbangan Barat.

Sanksi larangan pembelian suku cadang dan perawatan di negara Barat merupakan tantangan berat bagi industri penerbangan Rusia.

Praktik melepas bagian-bagian pesawat agar pesawat lain tetap terbang umumnya disebut dengan pohon natal.

Sementara, Kepala Lembaga Pemikir Penerbangan Aviaport Oleg Panteleev mengatakan dampak dari sanksi negara Barat akan paling terasa pada pesawat A350 dan seri Bombardier Q. Sebab, kedua jenis pesawat itu membutuhkan pemeliharaan di luar negeri.

Ia memperkirakan aksi bongkar pesawat hanya mampu membuat dua pertiga armada asing beroperasi hingga akhir 2025. Menurut dia, maskapai harus benar-benar menjaga mesin dan peralatan elektronik tetap berfungsi normal.

"Karena akan sulit untuk memperbaikinya," kata Panteleev.

[Gambas:Video CNN]

(aud/agt)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER