5 Penyumbang Inflasi versi BPS: Cabai, BBM, hingga Tiket Pesawat

CNN Indonesia
Rabu, 31 Agu 2022 19:35 WIB
BPS menyebut lima komoditas penyumbang inflasi, antara lain cabai, tiket pesawat, hingga BBM. BPS menyebut lima komoditas penyumbang inflasi, antara lain cabai, tiket pesawat, hingga BBM. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menyebut ada lima komoditas yang memberikan andil terbesar pada inflasi sejak awal tahun hingga Juli 2022.

Karenanya, pemerintah harus mengendalikan harga kelima komoditas ini jika tak ingin indeks harga konsumen (IHK) melonjak.

Kelima komoditas itu adalah cabai merah yang memberi andil 0,41 persen, bawang merah dengan andil 0,30 persen, tarif angkutan udara memberikan andil 0,29 persen, bahan bakar rumah tangga dengan andil 0,23 persen, dan bensin yang memberikan andil 0,10 persen.

"Catatan BPS sampai dengan Juli 2022, inflasi kita mencapai 4,94 persen, tetapi catatan utamanya adalah inflasi bahan pangan dan energi ini cukup tinggi," ungkapnya di ruang rapat komisi XI, Rabu (31//8).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan inflasi tahun ini bahkan bisa tembus hingga 5 persen. Penyebabnya adalah kenaikan harga komoditas pangan dan energi yang masih berlangsung sampai saat ini.

"Secara keseluruhan kami perkirakan inflasi tahun ini memang kemungkinan besar akan lebih tinggi dari batas atas 4 persen. Bisa mendekati sekitar 5 persen akhir tahun ini. Untuk tahun depan juga ada risiko untuk melebihi batas atas dari sasaran, yaitu di atas 4 persen," terang dia.

Menurut dia, perkiraan inflasi ini bahkan bisa lebih tinggi lagi yang disebabkan oleh kebijakan fiskal. Salah satu kebijakan fiskal yang saat ini ramai diperbincangkan adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

"Tentu saja nanti akan sangat dipengaruhi bagaimana kebijakan fiskal, berkaitan dengan penyediaan subsidi untuk berbagai hal," jelasnya.

Lanjutnya jika inflasi terus naik dan makin tinggi, maka mau tidak mau harus diredam dengan kenaikan suku bunga. Oleh karena itu, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter harus terus dilakukan dan diperkuat.

"Kami melihat bahwa memang tanda-tanda inflasi yang terus meningkat ini. Ekspektasi inflasi yang juga meningkat perlu direspons secara cepat, baik dari sisi rapat koordinasi untuk tim pengendalian inflasi pusat dan daerah, fiskal, maupun dari sisi moneter," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(ldy/bir)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER