Cerita Kedai Kopi Bantu Ratusan Petani Lokal Eksis
CNN Indonesia
Minggu, 23 Okt 2022 10:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pelaku UMKM kedai kopi berbagi cerita tentang upaya menggandeng ratusan petani kopi lokal mulai dari Aceh hingga Papua. Ilustrasi. (iStock/Davizro).
Surabaya, CNN Indonesia --
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Maklum, lahan kopi tersebar di hampir seluruh provinsi bahkan daerah terpencil.
Berdasarkan data Departemen Pertanian Amerika serikat (USDA) pada 2020, Indonesia menduduki peringkat keempat sebagai produsen kopi terbesar setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia.
Beberapa kopi daerah populer di antaranya kopi Gayo Sumatera, kopi Ijen Jawa, kopi Kintamani Bali, kopi Toraja Sulawesi, hingga kopi Wamena Papua.
Dari seluruh daerah penghasil kopi di Indonesia, diperkirakan ada 1,5 juta hingga 2 juta petani kopi Indonesia. Mereka memproduksi kopi untuk disebar ke dalam maupun luar negeri.
Melihat banyaknya petani kopi nusantara, salah satu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yakni Initial Coffee Roaster tergerak untuk membantu petani lokal mengepakkan sayap di kancah nasional maupun global.
Pemilik Initial Coffee Roaster Ivan Hartanto mengatakan kedai kopinya setiap tahun menggandeng ratusan petani lokal, mulai dari Aceh, Jawa, hingga Papua, untuk diolah di kedai kopinya maupun diekspor ke luar negeri.
"Sekitar 750 sampai 1.000 petani tiap tahunnya kita beli kopinya dalam bentuk green beans, untuk Initial Coffee maupun kita eksporkan dan lain sebagainya," kata Ivan saat ditemui di Surabaya, Jawa Timur.
Ivan mengatakan Initial Coffee Roaster membeli biji kopi langsung dari petani tanpa melalui perantara. Pembelian itu juga dilakukan di awal agar para petani memiliki pegangan modal untuk mengembangkan lahan kopi mereka.
Ivan berujar dengan menggandeng ratusan petani lokal, ia ingin kedai kopinya fokus pada specialty coffee atau kopi spesial berkualitas tinggi yang diproduksi langsung dari perkebunan khusus. Sebab, di Indonesia kopi spesial baru menyentuh angka satu persen dari total konsumsi kopi dalam negeri.
Apalagi ditambah dengan kehadiran kopi-kopi mancanegara sebagai pesaing kopi lokal. Ia tak ingin kopi Indonesia kalah saing di negaranya sendiri.
"Jadi memang misinya gimana memperluas market specialty coffee. Karena market specialty coffee sebenarnya di Indonesia ini baru sekitar satu persen dari total konsumsi kopi di Indonesia," ujar Ivan.
Kopi spesial itu sendiri, kata Ivan, tidak hanya membantu memberdayakan petani kopi, tetapi juga seluruh rantai industri kopi seperti koperasi, pemilih biji kopi atau grader, penyangrai kopi atau roaster, hingga barista. Dengan demikian, lebih banyak manfaat yang didapatkan melalui kopi spesial tersebut.
"Supaya memperlebar nilai di mata rantai ini," ucapnya.
Buka Kelas Edukasi
Tidak hanya membantu petani lokal, Initial Coffee Roaster turut membantu masyarakat dalam sejumlah program edukasi yang kedai itu usung.
Sejak 2017, Initial Coffee Roaster mendirikan Initial Coffee Academy. Program itu memiliki empat kelas kursus, yakni Intensive Barista Course, Intensive Roasting Course, Business Preparation Course, dan Basic Sensory Course.
Kelas-kelas ini membantu masyarakat mengenal industri kopi secara intensif dan mendalam. Kelas ini juga membantu mereka yang ingin memulai bisnis untuk mempersiapkan kit atau segala hal yang akan dihadapi bila ingin membuka kedai kopi.
"Jadi di academy kita turunkan itu untuk membuka ilmu kopi ini apa. Kita ingin berbagi ilmu kita, baik dari barista, terus roasting, terus ada juga sampai bahkan bisnis coffee. Ini seperti apa sih kalau mau berbisnis coffee shop," tutur Ivan.
Mengenai kelas ini, Ivan mengatakan sudah ada lebih dari 300 orang yang mengikuti program akademi. Mereka yang telah menyelesaikan kursus juga banyak yang kemudian bergabung dengan kedai kopi maupun membuka kedai sendiri.
"Ada yang join di tempat lain, ada yang buka sendiri, atau bahkan ikut sini," kata Ivan.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Strategi di Masa Pandemi
Sejak pandemi berlangsung pada Maret 2020, sejumlah bisnis terkena dampaknya, termasuk kedai kopi. Ivan mengatakan Initial Coffee Roaster sempat mengalami penurunan omzet hingga 25 persen di awal pandemi.
Hal itu lantaran banyak kedai kopi yang terpaksa gulung tikar karena tak mampu bertahan di tengah gejolak ekonomi. Sementara Initial Coffee Roaster saat itu bekerja sama dengan sejumlah kedai kopi di Surabaya.
"Omzet mulai Mei-November 2022 turun 25 persen karena banyak cafe yang tutup karena pandemi, jadi mau tak mau berimbas juga ke kami," kata Ivan.
Oleh sebab itu, ia dan tim memutar otak mencari alternatif untuk bertahan di masa pandemi. Kala itu, marketplace nampak seperti oase bagi Ivan.
Ia yang telah bergabung sejak 2017 dengan salah satu platform yakni Tokopedia mulai merasa ada harapan. Terlebih, masa pandemi memaksa setiap orang berbelanja online. Ia pun mengambil peluang itu dan perlahan bangkit kembali.
"Secara angka kita tadi sampai dua kali lipat sold-nya. Kalau yang lain in avarage sih biasanya kita naik bisa dibilang ada peningkatan 20-25 persen lah across the board," tuturnya.
Initial Coffee Roaster tengah mengembangkan produk baru yang lebih ramah kantong dan efisien. Kopi celup merupakan salah satu gagasan terbaru mereka dalam upaya menyajikan kopi secara berbeda.
Produk ini, kata Ivan, bakal dipasarkan ke luar negeri untuk memperkenalkan cita rasa kopi spesial Indonesia. Kopi celup diharapkan bisa bersaing di pasar yang lebih luas agar tak ketinggalan tren global.
"Kita plannya sih tadi ya, specialty coffee on demand, convenience, ini tren global. Kita semua ngadepin juga semua on dari finger. Jadi sama juga, specialty coffee menurut saya harus adapt ke market yang terbuka luas sebenernya," ujarnya.
Selain ekspor, Ivan juga mengaku ingin mengembangkan produk baru dalam waktu dekat. Ia berujar tiga produk baru bakal dirilis mulai tahun depan hingga 2024. Ketiga produk itu akan menawarkan cara penyajian kopi yang berbeda, sama seperti kopi celup.
"Kita lagi bikin tiga produk baru. Jadi dengan cara penyajian kopi yang berbeda. Celup kan cara penyajian yang berbeda nih, kira-kira sama begitu," ucap Ivan.
Sejauh ini, Initial Coffee Roaster telah menjajaki baik pasar offline maupun online. Di pasar offline, Initial Coffee Roaster membuka kedai di Jalan Anjasmoro Nomor 32, Surabaya, Jawa Timur. Sementara di online, kedai itu hadir salah satunya di platform Tokopedia.
Melalui Tokopedia, UMKM ini kerap mengikuti berbagai kampanye naungan Hyperlocal Tokopedia seperti Tokopedia NYAM!. Kampanye itu berhasil membantu penjualan produk andalan melonjak hingga 2 kali lipat.
"Berkat mengikuti kampanye ini, transaksi produk best seller kami, Kopi Espresso Early Riser Blend, melonjak 2 kali lipat. Bahkan produk kami bisa tembus luar Surabaya seperti Bogor, Sumbawa dan Samarinda," ucap Ivan.
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Maklum, lahan kopi tersebar di hampir seluruh provinsi bahkan daerah terpencil.
Berdasarkan data Departemen Pertanian Amerika serikat (USDA) pada 2020, Indonesia menduduki peringkat keempat sebagai produsen kopi terbesar setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia.
Beberapa kopi daerah populer di antaranya kopi Gayo Sumatera, kopi Ijen Jawa, kopi Kintamani Bali, kopi Toraja Sulawesi, hingga kopi Wamena Papua.
Dari seluruh daerah penghasil kopi di Indonesia, diperkirakan ada 1,5 juta hingga 2 juta petani kopi Indonesia. Mereka memproduksi kopi untuk disebar ke dalam maupun luar negeri.
Melihat banyaknya petani kopi nusantara, salah satu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yakni Initial Coffee Roaster tergerak untuk membantu petani lokal mengepakkan sayap di kancah nasional maupun global.
Pemilik Initial Coffee Roaster Ivan Hartanto mengatakan kedai kopinya setiap tahun menggandeng ratusan petani lokal, mulai dari Aceh, Jawa, hingga Papua, untuk diolah di kedai kopinya maupun diekspor ke luar negeri.
"Sekitar 750 sampai 1.000 petani tiap tahunnya kita beli kopinya dalam bentuk green beans, untuk Initial Coffee maupun kita eksporkan dan lain sebagainya," kata Ivan saat ditemui di Surabaya, Jawa Timur.
Ivan mengatakan Initial Coffee Roaster membeli biji kopi langsung dari petani tanpa melalui perantara. Pembelian itu juga dilakukan di awal agar para petani memiliki pegangan modal untuk mengembangkan lahan kopi mereka.
Ivan berujar dengan menggandeng ratusan petani lokal, ia ingin kedai kopinya fokus pada specialty coffee atau kopi spesial berkualitas tinggi yang diproduksi langsung dari perkebunan khusus. Sebab, di Indonesia kopi spesial baru menyentuh angka satu persen dari total konsumsi kopi dalam negeri.
Apalagi ditambah dengan kehadiran kopi-kopi mancanegara sebagai pesaing kopi lokal. Ia tak ingin kopi Indonesia kalah saing di negaranya sendiri.
"Jadi memang misinya gimana memperluas market specialty coffee. Karena market specialty coffee sebenarnya di Indonesia ini baru sekitar satu persen dari total konsumsi kopi di Indonesia," ujar Ivan.
Kopi spesial itu sendiri, kata Ivan, tidak hanya membantu memberdayakan petani kopi, tetapi juga seluruh rantai industri kopi seperti koperasi, pemilih biji kopi atau grader, penyangrai kopi atau roaster, hingga barista. Dengan demikian, lebih banyak manfaat yang didapatkan melalui kopi spesial tersebut.
"Supaya memperlebar nilai di mata rantai ini," ucapnya.
Buka Kelas Edukasi
Tidak hanya membantu petani lokal, Initial Coffee Roaster turut membantu masyarakat dalam sejumlah program edukasi yang kedai itu usung.
Sejak 2017, Initial Coffee Roaster mendirikan Initial Coffee Academy. Program itu memiliki empat kelas kursus, yakni Intensive Barista Course, Intensive Roasting Course, Business Preparation Course, dan Basic Sensory Course.
Kelas-kelas ini membantu masyarakat mengenal industri kopi secara intensif dan mendalam. Kelas ini juga membantu mereka yang ingin memulai bisnis untuk mempersiapkan kit atau segala hal yang akan dihadapi bila ingin membuka kedai kopi.
"Jadi di academy kita turunkan itu untuk membuka ilmu kopi ini apa. Kita ingin berbagi ilmu kita, baik dari barista, terus roasting, terus ada juga sampai bahkan bisnis coffee. Ini seperti apa sih kalau mau berbisnis coffee shop," tutur Ivan.
Mengenai kelas ini, Ivan mengatakan sudah ada lebih dari 300 orang yang mengikuti program akademi. Mereka yang telah menyelesaikan kursus juga banyak yang kemudian bergabung dengan kedai kopi maupun membuka kedai sendiri.
"Ada yang join di tempat lain, ada yang buka sendiri, atau bahkan ikut sini," kata Ivan.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Strategi di Masa Pandemi
Pelaku UMKM kedai kopi berbagi cerita tentang upaya menggandeng ratusan petani kopi lokal mulai dari Aceh hingga Papua. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).
Strategi di Masa Pandemi
Sejak pandemi berlangsung pada Maret 2020, sejumlah bisnis terkena dampaknya, termasuk kedai kopi. Ivan mengatakan Initial Coffee Roaster sempat mengalami penurunan omzet hingga 25 persen di awal pandemi.
Hal itu lantaran banyak kedai kopi yang terpaksa gulung tikar karena tak mampu bertahan di tengah gejolak ekonomi. Sementara Initial Coffee Roaster saat itu bekerja sama dengan sejumlah kedai kopi di Surabaya.
"Omzet mulai Mei-November 2022 turun 25 persen karena banyak cafe yang tutup karena pandemi, jadi mau tak mau berimbas juga ke kami," kata Ivan.
Oleh sebab itu, ia dan tim memutar otak mencari alternatif untuk bertahan di masa pandemi. Kala itu, marketplace nampak seperti oase bagi Ivan.
Ia yang telah bergabung sejak 2017 dengan salah satu platform yakni Tokopedia mulai merasa ada harapan. Terlebih, masa pandemi memaksa setiap orang berbelanja online. Ia pun mengambil peluang itu dan perlahan bangkit kembali.
"Secara angka kita tadi sampai dua kali lipat sold-nya. Kalau yang lain in avarage sih biasanya kita naik bisa dibilang ada peningkatan 20-25 persen lah across the board," tuturnya.
Initial Coffee Roaster tengah mengembangkan produk baru yang lebih ramah kantong dan efisien. Kopi celup merupakan salah satu gagasan terbaru mereka dalam upaya menyajikan kopi secara berbeda.
Produk ini, kata Ivan, bakal dipasarkan ke luar negeri untuk memperkenalkan cita rasa kopi spesial Indonesia. Kopi celup diharapkan bisa bersaing di pasar yang lebih luas agar tak ketinggalan tren global.
"Kita plannya sih tadi ya, specialty coffee on demand, convenience, ini tren global. Kita semua ngadepin juga semua on dari finger. Jadi sama juga, specialty coffee menurut saya harus adapt ke market yang terbuka luas sebenernya," ujarnya.
Selain ekspor, Ivan juga mengaku ingin mengembangkan produk baru dalam waktu dekat. Ia berujar tiga produk baru bakal dirilis mulai tahun depan hingga 2024. Ketiga produk itu akan menawarkan cara penyajian kopi yang berbeda, sama seperti kopi celup.
"Kita lagi bikin tiga produk baru. Jadi dengan cara penyajian kopi yang berbeda. Celup kan cara penyajian yang berbeda nih, kira-kira sama begitu," ucap Ivan.
Sejauh ini, Initial Coffee Roaster telah menjajaki baik pasar offline maupun online. Di pasar offline, Initial Coffee Roaster membuka kedai di Jalan Anjasmoro Nomor 32, Surabaya, Jawa Timur. Sementara di online, kedai itu hadir salah satunya di platform Tokopedia.
Melalui Tokopedia, UMKM ini kerap mengikuti berbagai kampanye naungan Hyperlocal Tokopedia seperti Tokopedia NYAM!. Kampanye itu berhasil membantu penjualan produk andalan melonjak hingga 2 kali lipat.
"Berkat mengikuti kampanye ini, transaksi produk best seller kami, Kopi Espresso Early Riser Blend, melonjak 2 kali lipat. Bahkan produk kami bisa tembus luar Surabaya seperti Bogor, Sumbawa dan Samarinda," ucap Ivan.