Ekonom: Libur Nataru Bakal Bikin Inflasi RI 2022 Bengkak

tim | CNN Indonesia
Kamis, 01 Des 2022 16:31 WIB
Ekonom memprediksi inflasi Indonesia pada akhir 2022 akan membengkak imbas libur Natal dan Tahun Baru. Ekonom memprediksi inflasi Indonesia pada akhir 2022 akan membengkak imbas libur Natal dan Tahun Baru. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom sekaligus Co-Founder & Dewan Pakar Institute of Social Economics and Digital (ISED) Ryan Kiryanto memprediksi inflasi Indonesia pada akhir 2022 akan membengkak imbas libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

"Inflasi 2022 berkisar 5,9-6,3 persen year on year (yoy) karena secara seasonal inflasi di Desember selalu tinggi, berkisar 0,5-0,7 persen mtm, karena dorongan konsumsi masyarakat jelang perayaan Nataru dan liburan anak sekolah serta banyak pekerja mengambil cuti tahunan untuk berwisata," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (1/12).

Selain itu, Ryan mengatakan kenaikan harga bahan berbagai jenis bakar minyak (BBM) pada tiga bulan lalu masih menyumbang inflasi, khususnya untuk November ini.

Secara sektoral, sektor makanan dan minuman (termasuk kelompok bahan pangan), transportasi dan komunikasi, serta perdagangan eceran (termasuk consumer goods yang masuk kategori fast moving consumer goods) menjadi kontributor dominan.

"Kenaikan mobilitas orang dan barang melalui berbagai moda transportasi mendorong kenaikan konsumsi BBM dan/atau energi sehingga mendorong laju inflasi," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto memproyeksi inflasi RI sampai akhir tahun menyentuh 5,5 persen yoy. Kenaikan harga makanan dan minuman, transportasi karena libur Nataru, dan rekreasi pada libur akhir tahun menjadi faktor pendorong.



Di lain sisi, Ekonom Makro Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan inflasi tahunan Indonesia akan terus mereda. Bahkan, inflasi RI pada akhir 2022 diramal bakal lebih rendah dari perkiraan awal.

"Mengingat keberhasilan pemerintah dalam menjaga pasokan pangan dan mengendalikan harga pangan, inflasi pada akhir 2022 bisa berada di sekitar 5,6 persen yoy atau lebih rendah dari perkiraan kami sebesar 6,27 persen yoy," jelas Faisal.

Namun, ia melihat inflasi tahunan Indonesia akan tetap tinggi setidaknya hingga semester pertama 2023, berada di kisaran 5 sampai 6 persen yoy. Sedangkan inflasi pada akhir 2023 diperkirakan berkisar antara 3,6 persen hingga 4,02 persen.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi RI sebesar 5,42 persen (year on year/yoy) pada November 2022. Tingkat inflasi ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, yakni 5,71 persen. Sedangkan, inflasi bulanan terealisasi sebesar 0,09 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa (Disjas) BPS Setianto mengatakan inflasi terjadi karena kenaikan berbagai harga bahan pokok di Tanah Air.

"Komoditas penyumbang inflasi tertinggi secara year on year adalah komoditas bensin (BBM), bahan bakar rumah tangga, tarif angkutan udara, rokok, beras, telur ayam ras, termasuk tarif angkutan dalam kota," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (1/12).

Tahun 2021, BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi atau kenaikan harga sebesar 0,57 persen secara bulanan pada Desember 2021. Sementara, secara tahun berjalan dan tahunan keduanya seragam yakni inflasi 1,87 persen.

[Gambas:Video CNN]



(skt/dzu)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER