Ide Bisnis Musiman Jelang Pemilu 2024 Cuma Modal Rp10 Juta
Sakti Darma Abhiyoso | CNN Indonesia
Sabtu, 02 Des 2023 09:00 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Momen pemilu sayang dilewatkan begitu saja untuk mendulang cuan. Ada banyak bisnis musiman di tahun politik dengan modal Rp10 juta. (Foto: CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Momentum lima tahunan pemilihan umum (pemilu) tak boleh dilewatkan begitu saja untuk mendulang cuan. Banyak bisnis musiman yang dibangun denganmodal Rp10 juta.
Biasanya, pesta demokrasi ini menjadi ajang untuk berbisnis. Ada sejumlah usaha musiman yang seketika ramai ketika rangkaian pemilu sudah dekat, termasuk jelang 2024 ini.
Meski begitu, Perencana Keuangan PINA Rista Zwestika berpesan jangan sampai sembarangan melihat peluang bisnis terkait pemilu. Ada beberapa pertimbangan etis dan hukum yang perlu diperhatikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penting untuk melakukan riset pasar yang cermat, memahami kebutuhan pelanggan potensial, dan memastikan bahwa bisnis Anda sesuai dengan aturan dan regulasi yang berlaku. Pastikan juga untuk tidak terlibat dalam kegiatan yang dapat melanggar etika atau hukum," ucap Rista kepada CNNIndonesia.com, Jumat (1/12).
Target pasar: pendukung kampanye atau partai politik.
"Modal yang bisa digunakan untuk membeli stok merchandise, seperti kaos, topi, atau stiker," ujarnya.
4. Jasa event organizer untuk acara politik
Target pasar: partai politik, caleg serta calon presiden atau kepala daerah, atau lembaga pemerintah.
"Modal bisa digunakan untuk perizinan, tempat acara, atau promosi," ungkap Rista.
5. Aplikasi atau platform media sosial politik
Target pasar: caleg serta calon presiden atau kepala daerah, partai politik, dan masyarakat yang tertarik pada politik.
"Modal bisa digunakan untuk pengembangan aplikasi atau situs web serta pemasaran," tandasnya.
Bersambung ke halaman selanjutnya...
Meski berpotensi cuan, terkadang orderan caleg malah berujung utang. Para calon wakil rakyat itu acapkali memesan atribut politik dalam partai besar atau borongan, tetapi pembayarannya tak di muka.
Beberapa kasus memperlihatkan ketika orderan sudah rampung, sisa pembayaran tak kunjung dilunasi oleh si caleg. Pada akhirnya, para produsen harus gigit jari karena merugi.
"Menerima orderan dari caleg dapat menjadi peluang bisnis yang menarik, tetapi juga dapat membawa risiko tertentu," wanti-wanti Rista.
"Selalu bijaksana untuk mendekati situasi ini dengan hati-hati dan melakukan riset serta persiapan yang cermat sebelum menerima orderan dari caleg," sambungnya.
Ia lantas membeberkan 9 siasat agar tak terperangkap jebakan caleg. Pertama, buatlah kontrak tertulis terkait orderan, yakni mencakup ketentuan pembayaran, jangka waktu, dan kewajiban kedua belah pihak.
Kedua, cek kelayakan keuangan pemesan, misalnya dengan meminta bukti kondisi keuangan atau referensi bisnis sebelum menerima orderan caleg tersebut.
Ketiga, minta pembayaran awal sebagai bentuk komitmen. Alternatifnya, kata Rista, pertimbangkan pembayaran secara bertahap selama proyek berlangsung. Ini dapat membantu mengurangi risiko utang yang besar," sarannya yang ketiga.
Keempat, pertimbangkanlah untuk melirik asuransi kredit. Asuransi ini dapat memberikan perlindungan terhadap risiko tidak dapatnya pelanggan membayar tagihan.
Kelima, Anda disarankan untuk rajin memantau kampanye si caleg. Harapannya, ada gambaran tentang kemungkinan kemenangan calon politik yang dapat mempengaruhi kemampuan mereka membayar.
"Jika memungkinkan, pertimbangkan melibatkan pihak ketiga sebagai perantara pembayaran atau penjaminan pembayaran. Ini dapat memberikan perlindungan tambahan," kata Rista soal saran keenam.
Ketujuh, tetapkan batas kredit yang jelas. Kedelapan, aktif dalam menagih. Kesembilan, selalu pertimbangan risiko dan manfaat saat menerima orderan caleg.
Di lain sisi, Perencana Keuangan OneShildt Consulting Imelda Tarigan mengatakan bisnis musiman di tahun politik memang rawan spekulasi. Oleh karena itu, ia menyarankan jangan menyasar kontestan pemilu, tapi massa kampanyenya.
"Contoh, jualan barang atau jasa untuk kebutuhan massa berkampanye. Misalnya topi, payung, minuman, handuk kecil, sampai penyewaan power bank," saran Imelda.
"Kebutuhan ini akan bisa dipahami kalau sering mengamati kampanye di lapangan. Jadi, harus kreatif. Keuntungannya bisa 100 persen, tetapi tentu saja harus siapkan 'jatah preman' untuk para koordinator lapangan jadi-jadian alias yang bukan resmi," pesannya.
Kalaupun terpaksa menghadapi orderan caleg, Imelda meminta produsen tega. Caleg harus lunas baru pesanannya dikerjakan, bukan sebaliknya.
"Namanya juga bisnis semusim, harus transaksi cepat dan aman," tutup Imelda.