Mencari Jejak 'Dewi Sri' ke Super Indo-Indomaret, Melimpah?
Gonjang-ganjing kelangkaan beras di toko ritel berembus kencang beberapa waktu belakangan.
Kasus beras premium oplosan yang menyeret 212 merek membuat produsen tiarap. Jejak 'Dewi Sri' di Super Indo, Alfamart, hingga Indomaret pun sempat lenyap.
CNNIndonesia.com mengecek langsung keberadaan beras terkini di sejumlah toko ritel modern. Penelusuran ditempuh untuk membuktikan klaim pemerintah yang menyebut cadangan beras nasional tembus 4 juta ton lebih, bahkan jadi yang terbesar dalam sejarah.
Titik pertama pencarian adalah Alfamart di Kota Bambu Selatan, Jakarta Barat. Toko ritel yang berada tepat di seberang Kompleks RS Harapan Kita itu ternyata tidak menjual beras premium.
"Beras kosong, mas," ucap pramuniaga Alfamart Kota Bambu Selatan yang sedang merapikan barang-barang di salah satu rak, Rabu (27/8).
Ia menjelaskan bahwa beras merah merupakan stok yang tersisa. Saat dicek langsung ke rak tempat beras biasanya dipajang, memang hanya ada 3 pack beras merah Alfamart dengan berat 2 kilogram (kg), itu pun sudah berdebu.
Kasir di toko ritel tersebut juga menegaskan bahwa beras premium memang sedang kosong. Namun, ia tidak tahu pasti sudah berapa lama beras tersebut tidak tersedia di tokonya. Ia hanya menegaskan masih harus menunggu pengiriman dari distributor.
"Belum tahu kapan (beras) diisi lagi dari distributor. Kalaupun ada, langsung ludes (dibeli pembeli)," beber sang kasir.
CNNIndonesia.com lalu bergeser ke Super Indo yang berada di Plaza Slipi Jaya, jaraknya sekitar 3,5 kilometer dari titik awal. Ritel modern dengan skala yang lebih besar itu terletak di lantai basement.
Berbeda dengan Alfamart, beras di Super Indo Plaza Slipi Jaya ternyata melimpah. Setidaknya ada 4 merek yang dijajakan oleh supermarket di bilangan Jakarta Barat itu, yakni Sumo, Koala, Topi Koki, serta Anak Raja.
Harganya bervariasi. Paling murah adalah beras Sumo dengan packaging berwarna merah yang dibanderol Rp92.990 untuk kemasan 5 kg. Sedangkan termahal adalah Topi Koki yang harganya tembus Rp138.920. Di lain sisi, 2 merek beras lainnya yang dijual adalah Koala dan Anak Raja.
"Pembelian produk beras tertentu maksimal 2 sak per konsumen per hari," tulis label keterangan yang terpampang di rak Super Indo.
Pelayan toko Super Indo membenarkan bahwa ada pembatasan pembelian beras premium, walau stoknya terbilang cukup banyak. Pembatasan itu berlaku untuk pembelian dalam satu struk. Pembeli diklaim masih boleh memboyong lebih dari 2 pack beras, asalkan berbeda struk belanja.
Berdasarkan pantauan di lokasi, ada sekitar 50 pack lebih beras premium yang dijual Super Indo. Itu belum termasuk dengan stok-stok lainnya yang tidak dipajang.
"Iya, stok beras lagi banyak, tapi sekarang harganya agak naik. Pembeliannya juga dibatasi, hanya boleh 2 pack untuk satu struk belanja," jelas kasir Super Indo yang bertugas saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com.
Titik terakhir yang menjadi tempat penelusuran beras premium adalah Indomaret Kemuning di Jatipulo, Jakarta Barat. Jaraknya sekitar 3,5 km dari Plaza Slipi Jaya.
Kondisi minimarket ini berbeda dengan Alfamart Kota Bambu Selatan. Stok beras premium di Indomaret Kemuning ada, walau tak terlalu banyak. Merek yang dijual adalah Topi Koki dan Sania. Harga yang dibanderol untuk beras Sania berukuran 5 kg adalah Rp74.500.
Akan tetapi, stok beras Topi Koki yang dijajakan hanya tersedia dalam ukuran 2,5 kg. Ada sekitar 5 pack hingga 7 pack beras premium tersebut.
Lihat Juga : |
"Beras premium cuma ready yang dipajang di rak saja. Topi Koki ukuran 5 kg enggak ada, hanya ada yang di rak (ukuran 2,5 kg)," jelas kasir Indomaret tersebut.
Indomaret Kemuning bahkan menjajakan beras Stabilitas Pasokan Harga Pangan (SPHP) milik Perum Bulog, walau hanya tersisa 3 pack. Harganya adalah Rp62.500 untuk kemasan 5 kg.
CNNIndonesia.com sudah menghubungi pejabat Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk mengonfirmasi kondisi distribusi beras premium di toko ritel. Namun, pejabat di dua kementerian itu menyarankan untuk menghubungi langsung Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Hingga berita ini tayang, Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi belum memberikan keterangan tentang kondisi distribusi beras di ritel modern.
(agt)