WSKT telah mendapatkan sanksi berupa suspensi saham sejak Mei 2024, seiring dengan kegagalan perseroan membayar empat seri utang obligasi non-penjaminan yang telah jatuh tempo.
Dalam pengumumannya, BEI menjelaskan, Waskita telah menunda pembayaran bunga ke-20 dan Pelunasan Pokok Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap IV Tahun 2019 Seri B (WSKT03BCN4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Manajemen WSKT sebelumnya menyatakan keyakinannya bahwa suspensi saham akan dibuka setelah seluruh skema restrukturisasi disetujui oleh seluruh kreditur. Artinya, perusahaan yakin ancaman delisting dari regulator dapat terhindarkan.
Untuk itu, manajemen perseroan berkomitmen untuk terus melakukan upaya terbaik dalam rangka percepatan proses review secara komprehensif terhadap Master Restructuring Agreement (MRA) dengan seluruh kreditur baik perbankan maupun pemegang obligasi.
Emiten BUMN Karya PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) disuspensi oleh bursa sejak 18 Februari 2025.
Bursa memutuskan untuk mensuspensi saham WIKA karena perusahaan telah menunda pembayaran pokok sukuk dan obligasi yang jatuh tempo tanggal 18 Februari 2025.
WIKA tercatat mengalami kerugian fantastis. Pada 2023, WIKA mencatatkan rugi Rp7,12 triliun, membengkak 11.860 persen dari kerugian Rp59,59 miliar di 2022.
Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito menyebut, selain tingginya beban bunga dan lain-lain, penyebab besarnya kerugian WIKA sepanjang tahun 2023 disebabkan oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).
"Ada dua komponen. Yang pertama adalah beban bunga yang cukup tinggi, kedua adalah beban lain-lain di antaranya mulai tahun 2022 kami sudah mencatat adanya kerugian dari PSBI atau kereta cepat aliasi Whoosh yang tiap tahun juga cukup besar," ujarnya saat rapat bersama Komisi VI DPR RI, dikutip Rabu (10/7).
PSBI merupakan anak usaha dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI yang menggenggam mayoritas saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebesar 60 persen. WIKA sendiri menjadi salah satu pemegang saham PSBI dengan kepemilikan 38 persen saham.
(fby/asr)