Pendapatan per Kapita Jakarta Nyaris Rp350 Juta, di Atas Rusia-China

CNN Indonesia
Senin, 05 Jan 2026 18:50 WIB
Pendapatan per kapita DKI Jakarta tembus US$21.706 atau sekitar Rp343,97 juta per tahun (asumsi rerata kurs Rp15.847 per dolar AS) pada 2024.
Pendapatan per kapita DKI Jakarta tembus US$21.706 atau sekitar Rp343,97 juta per tahun (asumsi rerata kurs Rp15.847 per dolar AS) pada 2024. (iStock/Hani Santosa).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pendapatan per kapita DKI Jakarta tembus US$21.706 atau sekitar Rp343,97 juta per tahun (asumsi rerata kurs Rp15.847 per dolar AS) pada 2024, di atas sejumlah negara.

Tercatat, angka tersebut jauh melampaui pendapatan per kapita Malaysia dan China yang masih berada di kisaran US$13 ribu, serta Thailand dan Vietnam yang lebih rendah lagi.

Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) dan World Bank, pendapatan per kapita Malaysia pada 2025 diproyeksikan berada di kisaran US$13.900, dan China sekitar US$13.800. Lalu, Thailand sekitar US$7.800, dan Vietnam sekitar US$4.700-US$4.800 per tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pendapatan per kapita Jakarta juga lebih tinggi dari Rusia yang tercatat sekitar US$17.446, Filipina yang sekitar US$4.300, dan India sebesar US$2.800.

Meski begitu, pendapatan per kapita Jakarta masih tertinggal jauh dibandingkan negara maju di kawasan, seperti Singapura yang jauh di atasnya.

IMF mencatat pendapatan per kapita Singapura diperkirakan menembus US$93 ribu per tahun, menjadikannya salah satu yang tertinggi di dunia.

Perbandingan ini juga menegaskan kesenjangan ekonomi di dalam negeri. Rata-rata pendapatan per kapita Indonesia secara nasiona masih berada di kisaran US$5.000, jauh di bawah Jakarta sebagai pusat ekonomi dan bisnis.

Tanda Kesejahteraan Tak Merata

Tingginya pendapatan per kapita DKI Jakarta menunjukkan besarnya kapasitas ekonomi ibu kota. Namun, tingginya angka tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan tingkat kesejahteraan mayoritas warga Jakarta.

"Apakah ini mencerminkan kesejahteraan? Sebagian saja, tidak untuk semua. Pendapatan per kapita adalah rata-rata, bukan pendapatan tipikal," ujar Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita kepada CNNIndonesia.com.

Justru, kondisi tersebut dinilai sebagai tanda bahwa ketimpangan di Indonesia, bahkan di Jakarta saja masih sangat lebar. Sebab, rata-rata pendapatan per kapita Tanah Air hanya sekitar US$5.000-an saja.

"Jakarta, distribusi pendapatan sangat timpang. Segelintir kelompok berpenghasilan sangat tinggi, mulai dari konglomerat, eksekutif, profesional nasional dan global, pemilik aset besar, dan lainnya," jelasnya.

"Sementara itu, jutaan pekerja informal, buruh jasa, dan kelas menengah bawah hidup dengan pendapatan yang jauh di bawah angka tersebut. Jadi, secara statistik terlihat 'kaya raya', namun secara sosiologis realitasnya jauh lebih berlapis dan cenderung agak miris," imbuhnya.

Selain ketimpangan, ia menilai tingginya biaya hidup juga menjadi faktor penting. Pendapatan nominal yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan daya beli.

"Dengan biaya perumahan, transportasi, dan kebutuhan dasar yang tinggi, daya beli masyarakat Jakarta tidak otomatis lebih baik dibandingkan wilayah lain dengan pendapatan lebih rendah," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/sfr)